Saturday, 13 October 2012

peronnya mahal

tadi pagi jogging. hal yang menjadi kegiatan mingguanku bersama papa, dulu...
kali ini jogging sama jin... maaf tidak ada any pict, karena jin itu invisible kan??

aku orang indonesia yang sangat kagum dengan arsitektur Belanda. terkadang aku cukup bersyukur bahwa bangsaku ini pernah dijajah belanda. karena kedatangannya membawa banyak perubahan apik selain menyiksa juga.

aku kangen bentuk jam dinding jumbo itu, dengan angka romawi dan dinding yang kusam. ya, bagian dekat rel kereta.
tapi masuk kesana harus bayar peron. tapi, orang yang harus bawa peron itu harus memiliki tiket aliyas hanya penumpang yang boleh masuk peron.
aaaahhhh peliiiiitttttt >.<
nggak jadi nostalgia deh..
mana mungkin aku masuk peron tapi harus beli tiket

dan kami keluar stasiun dengan muka kecewa

Thursday, 11 October 2012

Rationally Thinking

i don't know well how to share this. becoz like I said to him before that I still mature enough yet. karena mungkin lagi kesel, ditinggal tidur siang selama 5 jam. padahal ada yg ingin aku bicarakan. tapi sudahlah, sepertinya tidak perlu dibicarakan. pikiran kami masih jauh. entah aku yg dewasa atau dia yg terlampau kekanakan. tergambar jelas dari fisiknya yang masih seperti anak kecil itu. sedangkan banyak orang mengira aku adalah wanita karier hanya dengan mendengar tipe suaraku. ya, suara yang berbeda dari sebelumnya akibat laryngthis (radang laring) yang menyerang pita suaraku hingga suaraku berubah. entah mengapa terdengar seperti suara seorang customer servicer suatu provider.

saya bingung. saya ini manusia dengan tipe yang seperti apa. dewasa? kekanakan sepertinya? atau masih labil di usia remaja?
tapi yang saya ketahui, jalan pikiran saya masih belum rasional. perhaps yes that people inteprete their thinking differently. tapi saya belum bisa berpikir dewasa dengan posisi sebagai pihak netral.
yang masih saya pegang teguh adalah ideologi dan sugesti. 2 hal tadi adalah musuh terberat kedua saya setelah setan. ideologi, adalah sebuah pikiran yang saya simpulkan sendiri berdasarkan apa yang saya lihat dan yg saya alami. bahkan ideologi ini pernah saya doktrinkan pada seseorang yang tampaknya sulit untuk menerima jalan pikiran saya, namun ia tetap memaksa. sekali saya punya prinsip, hal tersebut takkan pernah saya gubah. entah mengapa hal itu menjadi sesuatu yang paling benar dalam hidup saya, atau setidaknya it won't bring more harm than good for myself and in my society environment, even it is my fams, friends, and another.
sugesti. adalah hal terparah sebelum ideologi muncul. sugesti yang tercipta paling tajam oleh hidung saya contohnya. sekali saya mengendus makanan, jika baunya tidak termasuk dalam kategori 'bau harum' oleh kamus otak saya, maka lidah saya akan berkata 'makanan ini sangat tidak enak', meskipun sebenarnya sangat enak. yap, mungkin lebih mirip seperti logika implikasi, namun sekali saya berfikir bahwa itu negatif, maka janganlah saya melakukannya. mungkin juga seperti menyerah sebelum berperang. saya tidak tahu apakah hal itu berbahaya atau tidak, yang jelas saya tidak akan melakukan hal tersebut.

mungkin 2 hal terparah itulah yang membuat pikiran saya tidak rasional. mungkin juga karena pikiran saya masih terlalu sempit untuk memikirkan hal-hal kompleks seperti ini. saya kurang eksplor dengan membaca, karena kelemahan mata saya sebenarnya sudah dalam kategori parah, bahkan manusia umur 70 tahun belum tentu mengidap penyakit presbiopi dan astigmatisme secara bersamaan. mungkin saya harus operasi mata, cangkok mata lebih tepatnya.
buku memang jendela dunia. siapa yang mengelak? kutu buku akan dapat mengetahui dunia luar tanpa mengunjunginya. dengan sendirinya mereka akan terbawa suasana dalam buku tersebut. sehingga mereka tahu, bagaimana posisi mereka dalam kondisi rumit buku tersebut.

ada satu kawan sekelas saya, Innezdhe. dia kutu buku, tanpa terduga. dia kuasai banyak dunia dari membaca. dia raup kata-kata tak terkilas pikiran saya sebanyak-banyaknnya. salah satu prinsipnya, jika ia tak suka pada seseorang, maka ia tak suka. meskipun kadang tak ia utarakan apa alasannya. namun hebatnya, ia tetap bisa berpikir secara rasional untuk orang tersebut, whether or not they are wrong. awesome. i gonna try, but exactly by my own way that still hidden out of my face, unfotunately --a

ups, anak kecil sudah bangun. matanya masih sipit, lehernya yang gatal ia garuk pelan-pelan. sudah puas tidurnya? kamu tahu, jari-jariku sudah bak cabai merah keriting.