“Tsamina-mina E E, waka-waka E E”
soundtrack piala dunia 2010 memang, namun itulah lirik lagu pertama yang mengiringi perkumpulan ini di awal kami terbentuk. Sebuah perkumpulan terisi oleh 28 makhluk Tuhan dengan seragam almamater yang berbeda. Ada yang merah, abu-abu, hijau, biru, ungu dan sebagainya. Inilah awal hari kami. Mengenalkan diri satu sama lain.
Aku tak ingin membahas soal MOS Pena. Karena aku tak melewati masa itu. Dimana seharusnya masa-masa itu adalah masa yang digunakan untuk mengetes kekompakan perkumpulan ini. Tak dapat terlihat oleh mataku karena aku tak hadir MOS selama seminggu karena sakit.
Terlebih dahulu ingin kuceritakan tentang pandanganku pada beberapa makhluk pada perkumpulan ini. Dimana aku yang memang bisa melihat sifat dari tatapan mata mereka. Dari tatapan pertama mereka padaku. Dari cara bicara mereka. Serta tingkah laku dan tipikal sosialisasi mereka. Sedikit tak kusukai, jujur saja. Berharap perkumpulan ini hanya perkumpulan sementara dan tak berumur lama. Sudah bisa terlihat jelas bagaimana masa kelanjutan kehidupan perkumpulan ini.
Dimulai dengan canda tawa dan diselingi memotret diri sendiri. Di bulan pertama masih tak tampak adanya sebuah gumpalan yang sejenis di antara kami. Masih seperti larutan, dimana makhluk-makhluk ini merasakan segalanya bersama. Berseminya bunga yang berada tepat di depan ruangan kami seakan menggambarkan betapa keharmonisan antar individu mulai tercipta. Menganggap segala hal adalah main-main. Dan sedikit membubuhkan amarah kecil di setiap topik yang meluncur bebas dari mulut kami.
Saat menginjak hari-hari 'lapar binti dahaga' roda masih berputar. Ruangan kini warna-warni. Tak ada abu-abu maupun almamater. Makin terlihat jelas bagaimana propertis-propertis yang mereka usungkan di kesempatan ini. Pernak-pernik yang terkadang menjadi inspirasi satu sama lain yang mungkin layak untuk dikembangkan. Dan makin hari makhluk-makhluk ini makin bermain-main. Masa bodoh dengan lembar-lembar ilmu penuh abjad yang harusnya masuk ke sel-sel otaknya. Dan tergambar persis di muka setiapnya bahwa mereka berkunjung tiap hari bukan untuk berilmu. Tapi untuk menemui setiap wajah segar dan manis yang membikin lupa dengan dendangan musik dekat usus besar ini.
Dan mungkin muncul seorang tambatan hati yang pernah menimbulkan keributan ringan, hanya sebatas lirikan mata yang mungkin saja bisa membunuh suatu hati kecil yang cenderung takut untuk melawan. Rela. Ikhlas. Biarkan saja. Masih banyak yang lain. Dan kompetisipun berakhir. Dan bisa saja ada air mata yang mengalir deras di relung hatinya bak air terjun yang turun ke bagian tengah sungai penuh amarah yang menghujam. Mencoba memendam perasaan dengan sebatas untaian senyuman dan beberapa lelucon konyol. Sedikit mengobati lukanya.
Bagaimana ketika sebuah erupsi datang tiba-tiba mengusik kedamaian yang telah diciptakan sedemikian rupa. Bukanlah karena banyak orasi yang diungkapkan. Namun dimana pengertian yang selama ini diharapkan? Tapi semua beranggapan, erupsi gunung berapi yang merupakan sebuha peristiwa vulkanik pastilah mampu membuat wajah bumi yang baru. Entah itu bukit, lembah, danau, ataupun anak gunung. Lagi-lagi dibumbuhi lelucon dan guyonan konyol. Mengguncang si buncit sampai si langsing.
Dan apa yang ada di setiap pemikiran mereka ketika mereka terhimpit oleh banyak desakan dan banyak tuntutan untuk mencapai sebuah kesuksesan yang amat sangat sempurna di tiap bidang yang mereka geluti tiap hari? Dijejal komentar pedas dan dan dicerca umpatan gila. Mata yang hampir rusak menatap benda beradiasi tinggi demi mendapatkan penghargaan yang melegakan hati. Namun bagi kami, apalah arti angka-angka itu jika kami harus melihat makhluk lain yang tersiksa batinnya karena ia mendapatkan angka yang tak setimpal.
Karena itu kami bersatu. Curang? Mungkin. Tapi tak membuat kami bergantung pada setiap bantuan yang diberikan. Hanya saja kami sering terhimpit waktu yang sepertinya berjalan makin cepat saja. Tak terasa minggu berganti dan makalah-makalah itu harus dikumpulkan. Kata seorang paling bocah di perkumpulan itu, perkumpulan kami adalah sebuah perkumpulan PKL yang tengah membuka lapaknya di malam minggu. Ada yang mencari sesuatu yang benar, ada yang menawarkan hasil kerjanya. Bahkan, tak sedikit dari kami saling bahu-membahu saat musibah datang pada kami. Curang? Mungkin. Tapi tak membuat kami meremehkan setiap musibah yang datang itu. Dan aku, yang belum pernah berkecimpung di bidang dengan jalan yang seperti ini, mau tak mau harus ikut larut di dalamnya. Dan ternyata asyik juga. Mengingat sepertinya ini adalah salah satu bentuk dari pemberontakan. Menyenangkan. Curang? Memang! Namun kami tak pernah bergantung. Karena peluh kami tetap mengucur.
Namun yang membuatku heran, ada saja yang menggemparkan kata 'damai' namun selalu cari perkara dan tak tahu perkara. Tipikal ini mungkin sebaiknya dijauhi, namun tak ada salahnya kita tetap memeluknya dalam perkumpulan ini. Karena pada dasarnya saling pengertian adalah kunci dari segala permasalahan.
Disini, kutemukan teman sejati. Sahabat yang selalu bisa menjadi bahu untukku menangis.
Sahabat yang selalu menyajikan telinganya dan tak pernah berpaling saat mulutku masih terus membusa karena tak kelar-kelar membeberkan penat yang menyesakkan dada. Sahabat yang bagaikan sebuah distro dan butik tak henti merekomendasikan benda-benda unik kesukaan remaja masa kini. Sahabat pelepas stress dengan humor menggelitik. Sahabat dengan sejuta ilmu dan tak kikir informasi. Bertukar pikiran demi mengetahui pengetahuan global yang selalu update. Sahabat yang tegas, disiplin, tanggung jawab, berjiwa kepemimpinan, rajin, dan tak mudah putus asa, menjadi panutan di tiap gerak-gerikku.
Hingga muncul istilah, “cepoelooh-E chelamanha”. Alay? ya. Aku tak suka sesuatu yang serba hiperbola seperti itu. Namun tak adil rasanya jika terus menerus aku menghenyakkan istilah kontemporer yang tengah trend itu. Geli mendengarnya. Tapi dibalik nama itu......
XE akan selalu bersama, meski sebenarnya berpisah....
XE akan selalu menjadi yang terheboh, dengan segala prestasi kecil dan kebandelannya
XE akan selalu bergema di setiap palung jiwa jika tiba-tiba sepi
XE akan selalu bermain dalam imaji unik setiapnya, memutar kembali gulungan film petualangan
XE akan selalu terpuji dan tercela, dimana semua itu adalah warna kehidupan kami
XE akan selalu terngiang di saat kami tak punya teman, sendiri, dan terasingkan....
dan mungkin XE akan menjadi kayu lapuk yang sulit terbakar api dan ditumbuhi berbagai macam jamur payung pelindung terik mentari dan penangkal hujatan kotoran kambing....
karena XE bukanlah sebuah perkumpulan lagi. Kami keluarga baru. Akan memulai hidup yang baru setelah keluar ruangan. Menatap dunia lebih luas tanpa lagi memampang muka sok. Memecah tempurung penangkal musuh. Tulang telah terbentuk. Dan setiapnya bisa melindungi diri sendiri tanpa ada lagi rumah yang melindungi. Menghadapi setiap tantangan yang mencoba menyandung. Dan di saat ada sekelumit rindu menerpa, ingatlah serpihan rumah yang kita pecahkan. Kita susun kembali layaknya puzzle cantik. Dan jangan pernah tertawa lagi dengan hasil susunan serpihan gubuk lama kita. Karena setiap potongan itu punya cerita. Melingkar, duduk bersila, pejamkan mata, kita ingat kembali selama setahun jatuh bangun senang susah rajin malas tawa sedih itu. Dan ayo kita ledakkan kembali kekonyolan itu!!! karena aku sangat merindukannya, para Explorer :)