seberapa keras kehidupan ini
menerjang dan menusuk relung hati terdalam
menyiksa batin yang suci
bertahan sekeras karang yang tertempa ombak
membiarkan diri terbenam pasir
nadi membeku ketika dicaci
aliran air mata tak akan cukup menggambarkan
betapa berat roda ini berputar
kata-kata yang telah basi termakan usia
menyelak dalam budaya manusia
tak lagi jadi panutan
yang bisa menjadi jembatan kehidupan
dan bukan pembatas jurang terjam
sungai masih mengalir dengan derasnya
namun disini bukanlah riwayat yang mudah
dan ketika kuncup kuncup telah merekah
di situlah kebahagiaan ditemukan
sekedar mengintip keharmonisan warnanya
menarik kumbang pada kelopak
maka, langkah-langkah kecil ini
pasti mampu membawaku ke dunia yang abadi
dimana semua pasti terbukti
hati ini sungguh suci
menanti datangnya mati
dengan segala doa yang mengiringi
hingga fajar menjadi pagi
Sunday, 21 August 2011
Thursday, 18 August 2011
Pray For Bagas Satrio Wibisono
untuk teman masa kecilku, Bagas Satrio Wibisono....
dulu, pas gue masih TK dan menempati rumah baru di suatu perumahan,
gue kenal elo. anak lelaki polos yang paling gempar kalo ada tetangga baru.
elo ke rumah gue dan nyapa gue dan ngajak kenalan.
di situ pertemanan kita dimulai, Bagas..
elo sahabat kecil gue. kita selalu bermain bersama tiap pulang sekolah..
kadang elo main ke rumah gue, kadang gue juga main ke rumah elo.
elo cowok, gue cewek, we didn't too care about it. we were a best friend when kid we used to be.
elo tipikal anak lelaki yang periang, tapi juga plin plan. kita bolak-balik musuhan, baikan, musuhan, baikan. hanya karena masalah yang sangat sepele... biasa, namanya juga anak-anak...
gue pindah rumah, kita lost contact.
hingga pas SMP kita dipertemukan kembali dalam suatu kompetisi story telling di SMA 1.
elo juara 2, gue juara 3. buat gue, biarpun kita udah lost contact, ternyata kalo yang namanya teman itu pasti bakal dipertemukan kembali walaupun dalam kasus ini kita menjadi rival.
kemudian ketika gue masuk SMA, kita jadi senior-junior.
gue masih inget pas itu gue nyoblos elo buat jadi ketua MPK karena gue yakin, elo pandai berorganisasi.
dan pas elo wawancarain gue buat jadi wakil ketua MPK, gue makin yakin, bahwa elo memang pandai berorganisasi. namun sayang, bukan elo yang terpilih jadi ketua MPKnya.
hingga pas tressa, elo manggil gue dan bertanya, "masih inget aku nggak?"
dan gue jawab, "jelas inget lah. selama aku hidup, temenku yang namanya Bagas itu cuma kamu.."
dan akhirnya kita akrab lagi...
hingga suatu hari elo kesandung kasus gara2 kata2 lo di status FB lo yang menuai kontra.
karena lo harus inget, Bagas, apa status lo. "KANG PROBOLINGGO" yang harusnya jadi panutan anak muda se-Probolinggo.
dan elo malah merusak reputasi lo sendiri gara2 elo lebih nurutin emosi lo.
hingga elo merasa stress dengan semua masalah lo dan lebih memilih pindah sekolah karena sepertinya memang, satu sekolah udah bak musuhin lo.. sampe guru dan kepala sekolah mojokin elo di depan temen2 saking 'gemes' nya sama elo...
gue, nyokap, sama adek gue kaget sama sikap lo yang satu ini. bahkan kami ngga nyangka elo bakal kayak gitu.
gue cuma berharap dan berdoa, semoga elo kuat menghadapi ini semua.. gue sebagai teman kecil lo cuma bisa mensupport elo doang, Bagas.
salam, teman masa kecil lo, teman satu PS, teman satu ngaji di TPQ, dan sekarang,,,, gue nggak tahu
dulu, pas gue masih TK dan menempati rumah baru di suatu perumahan,
gue kenal elo. anak lelaki polos yang paling gempar kalo ada tetangga baru.
elo ke rumah gue dan nyapa gue dan ngajak kenalan.
di situ pertemanan kita dimulai, Bagas..
elo sahabat kecil gue. kita selalu bermain bersama tiap pulang sekolah..
kadang elo main ke rumah gue, kadang gue juga main ke rumah elo.
elo cowok, gue cewek, we didn't too care about it. we were a best friend when kid we used to be.
elo tipikal anak lelaki yang periang, tapi juga plin plan. kita bolak-balik musuhan, baikan, musuhan, baikan. hanya karena masalah yang sangat sepele... biasa, namanya juga anak-anak...
gue pindah rumah, kita lost contact.
hingga pas SMP kita dipertemukan kembali dalam suatu kompetisi story telling di SMA 1.
elo juara 2, gue juara 3. buat gue, biarpun kita udah lost contact, ternyata kalo yang namanya teman itu pasti bakal dipertemukan kembali walaupun dalam kasus ini kita menjadi rival.
kemudian ketika gue masuk SMA, kita jadi senior-junior.
gue masih inget pas itu gue nyoblos elo buat jadi ketua MPK karena gue yakin, elo pandai berorganisasi.
dan pas elo wawancarain gue buat jadi wakil ketua MPK, gue makin yakin, bahwa elo memang pandai berorganisasi. namun sayang, bukan elo yang terpilih jadi ketua MPKnya.
hingga pas tressa, elo manggil gue dan bertanya, "masih inget aku nggak?"
dan gue jawab, "jelas inget lah. selama aku hidup, temenku yang namanya Bagas itu cuma kamu.."
dan akhirnya kita akrab lagi...
hingga suatu hari elo kesandung kasus gara2 kata2 lo di status FB lo yang menuai kontra.
karena lo harus inget, Bagas, apa status lo. "KANG PROBOLINGGO" yang harusnya jadi panutan anak muda se-Probolinggo.
dan elo malah merusak reputasi lo sendiri gara2 elo lebih nurutin emosi lo.
hingga elo merasa stress dengan semua masalah lo dan lebih memilih pindah sekolah karena sepertinya memang, satu sekolah udah bak musuhin lo.. sampe guru dan kepala sekolah mojokin elo di depan temen2 saking 'gemes' nya sama elo...
gue, nyokap, sama adek gue kaget sama sikap lo yang satu ini. bahkan kami ngga nyangka elo bakal kayak gitu.
gue cuma berharap dan berdoa, semoga elo kuat menghadapi ini semua.. gue sebagai teman kecil lo cuma bisa mensupport elo doang, Bagas.
salam, teman masa kecil lo, teman satu PS, teman satu ngaji di TPQ, dan sekarang,,,, gue nggak tahu
Tuesday, 16 August 2011
CelaEdwin #part1
“Kemana aku akan berjalan? Apa aku hanya bisa diam di tempat dan bersifat statis seperti ini?” Cela bingung apa yang harus ia perbuat. Sementara Edwin masih terus saja menyiksa batinnya. “Apa aku harus jujur pada Edwin? Tapi tak mungkin aku mengatakannya. Dia pasti nggak suka,”
Tak lama ponselnya berbunyi dan ada sms masuk. Diraihnya ponsel itu dan ia nyaris melonjak terkejut. Sms itu dari Edwin. Bagaimana ia tidak kaget, akhirnya Edwin menghubunginya juga setelah kurang lebih sebulan Edwin menghilang bak ditelan bumi dan tak pernah menghubungi Cela lagi. Cela senang bukan kepalang membaca sms itu, biarpun isi pesan itu hanyalah “Ur…” dan Cela membalasnya, “Sahur”. Ya, Cela yakin, itu yang Edwin maksud. Namun sayang, Edwin tak membalasnya lagi.
Tak heran. Edwin memang pelit kata.
Esoknya, ia tak menemui batang hidung Edwin di sekolah. System dinamis yang dianut sekolahnya memang mempersulit Cela untuk menemui Edwin. Baiklah, untuk hari ini hasilnya nihil.
Keesokan harinya, Cela mencoba mencari Edwin lagi di sela-sela pergantian jam pelajaran. Dan berhasil. Terlihat dengan gaya pendiamnya, Edwin enteng sekali membawa laptop di tangannya dan mengantri masuk kelas bahasa inggris. Namun Cela tak bisa berbuat apa-apa selain menatap diri itu menghilang memasuki kelas. Karena tergambar jelas di raut muka Edwin yang memampang muka manyun dan jutek.
Minggu. Seperti biasa, Cela hanya bisa galau. Hari ini terasa monotone seperti hari yang lain. Mungkin hanya Septian dan Dendy yang bisa ‘menghibur’ ponselnya yang sepi karena tak ada satupun pesan dari Edwin yang masuk.
Senin. Inilah kali pertama ia menjadi ketua sebuah ekstra baru. Cukup menyenangkan. Karena kegiatan itu bisa sedikit mengalihkan pikirannya dari Edwin. Namun sial, saat ia dan beberapa anggota ekstranya berkumpul di aula, muka manyun itu muncul dengan entengnya dan tak berusaha menghindari Cela. Memang aneh. Biasanya tiap melihat Cela, matanya langsung terpalingkan pada pandangan lain. Cela mencoba stay cool.
Dan yang membuat Cela lebih heran, Edwin duduk di kursi dimana disitu ada tas Cela. Ia justru langsung duduk tanpa memindahkannya. Cela makin bingung. Bagaimana caranya ia membawa kabur tasnya itu jika seakan Edwin menahannya. Cela mencoba cuek dan focus pada anggota ekstranya yang masih belum lengkap.
Hingga Edwin berceletuk, “Oh, ternyata kamu buka ekstra patrol ya, pake bawa galon segala,”
Cela tahu, Edwin hanya bercanda. Hanya saja ia bingung apakah ia mau menanggapi candaan Edwin atau hanya diam saja. Tapi terbesit di otaknya, mungkin dengan merespon Edwin, keadaan bisa membaik. “Enak saja! Justru ini yang disebut kreatifitas!”
“Oh, kirain mau patrol. Coba sini, pinjam galonnya,”
Seolah tak pernah ada apa-apa. Malaikat mana yang berhasil menghasut Edwin untuk kembali pada sifatnya sediakala, begitu ramah pada Cela. Yang jelas, Cela tampak senang, Edwin tak lagi diam seribu bahasa padanya. Mulai lagi ada canda tawa. Cela membiarkan hal itu terjadi walaupun secara sadar ia tahu, bahwa sebenarnya hal itu hanya akan bisa melukai batinnya lebih dalam lagi.
Aku nggak ngerti apa yang kamu mau, Ed.
Tapi, walaupun aku tahu, semua ini hanyalah semu, aku ingin bertahan.
Setidaknya aku bisa bahagia bisa dekat denganmu dan mendapatkan kasihmu meski itu tak nyata
Rasa sakit ini bisa jadi bahagia, walau bahagia ini terasa sangat sakit
Tetaplah seperti ini, Ed. Karena dengan seperti ini aku bisa mencintaimu
“Pulang jam berapa?” Tanya Edwin tiba-tiba yang membuyarkan lamunan Cela.
“Kurang tahu. Tapi kayaknya sampe sore. Soalnya masih ada yang mau curhat sama aku,” jawab Cela enteng.
“Oh, gitu. Ya udah, ke kelas sana, buruan dimulai. Kasihan anggotanya pada nungguin dari tadi,”
“Ngusir nih?” Cela pura-pura tersinggung.
“Iya, aku usir. Pergi sana!” jawab Edwin dengan senyum membubuhi muka manisnya.
Dan Celapun pergi.
Kapan bisa terulang lagi? Aku masih kangen kamu, Ed….
Monday, 8 August 2011
What's Up dengan perbedaan agama?
pondok ramadhan di sekolah edisi 9 Agustus 2011...
seperti biasa, ada ceramah..
pas ada sesi tanya jawab, ada adek kelas yang tanya melenceng banget dari tema, "pak ustadz, katanya, Tuhan itu hanya satu, lalu mengapa di dunia ini ada perbedaan agama? kenapa mereka menyembah Tuhan yang berbeda?"
maaf beribu maaf deh adek yang cantiiiikkk
kalo gue boleh komentar, itu adalah pertanyaan BODOH!!!
karena lo tahu apa?
Tuhan itu memang satu, tapi ya terserah para umat mau nyembahnya gimana. karena pada dasarnya, setiap agama itu menuntun kita untuk mengenal baik Tuhannya dan menuntun kita untuk berbuat KEBAIKAN
emangnya ada ya agama yang ngajarin umatnya untuk mencuri? membunuh? berzinah? nggak ada kan?
dan lo kan hidup di Indonesia, dan lo tahu sendiri, di Indonesia ada 6 agama yang diakui; Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Buddha, dan Konghuchu.
emangnya ada pada setiap agama itu ngajarin umatnya untuk berbuat keburukan? enggak kan?
dan pertanyaan lo tadi itu beneran tak mencerminkan adanya toleransi di diri lo. emangnya lo nggak punya temen yang nggak sekeyakinan ya?
dan kalopun punya, apa temen lo pernah melecehkan agama lo? enggak kan?
kenapa lo mengomentari mereka sedangkan lo nggak lebih baik dari mereka?
adek cantik...
pertanyaan lo aja udah melenceng dari tema. kenapa lo ngga mikirin dulu?
karena kita hidup disini itu bersama-sama, nggak satu umat agama doang.
kalo lo emang penasaran banget, lo tanya sama temen2 lo yang beda agama, misal kristen atau katholik..
mreka pasti menceritakan sejarah agama mereka, dan pasti sebagian kecil memiliki sinkron dengan sejarah agama kita. yakin deh, iya beneran...
makanya adek cantiiikk...
Tuhan itu memang satu, dan terserah para umat bagaimana mereka menyembah Tuhan...
trims
seperti biasa, ada ceramah..
pas ada sesi tanya jawab, ada adek kelas yang tanya melenceng banget dari tema, "pak ustadz, katanya, Tuhan itu hanya satu, lalu mengapa di dunia ini ada perbedaan agama? kenapa mereka menyembah Tuhan yang berbeda?"
maaf beribu maaf deh adek yang cantiiiikkk
kalo gue boleh komentar, itu adalah pertanyaan BODOH!!!
karena lo tahu apa?
Tuhan itu memang satu, tapi ya terserah para umat mau nyembahnya gimana. karena pada dasarnya, setiap agama itu menuntun kita untuk mengenal baik Tuhannya dan menuntun kita untuk berbuat KEBAIKAN
emangnya ada ya agama yang ngajarin umatnya untuk mencuri? membunuh? berzinah? nggak ada kan?
dan lo kan hidup di Indonesia, dan lo tahu sendiri, di Indonesia ada 6 agama yang diakui; Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Buddha, dan Konghuchu.
emangnya ada pada setiap agama itu ngajarin umatnya untuk berbuat keburukan? enggak kan?
dan pertanyaan lo tadi itu beneran tak mencerminkan adanya toleransi di diri lo. emangnya lo nggak punya temen yang nggak sekeyakinan ya?
dan kalopun punya, apa temen lo pernah melecehkan agama lo? enggak kan?
kenapa lo mengomentari mereka sedangkan lo nggak lebih baik dari mereka?
adek cantik...
pertanyaan lo aja udah melenceng dari tema. kenapa lo ngga mikirin dulu?
karena kita hidup disini itu bersama-sama, nggak satu umat agama doang.
kalo lo emang penasaran banget, lo tanya sama temen2 lo yang beda agama, misal kristen atau katholik..
mreka pasti menceritakan sejarah agama mereka, dan pasti sebagian kecil memiliki sinkron dengan sejarah agama kita. yakin deh, iya beneran...
makanya adek cantiiikk...
Tuhan itu memang satu, dan terserah para umat bagaimana mereka menyembah Tuhan...
trims
Subscribe to:
Posts (Atom)