20 Juni 1994..........
'Gimana, Ma? Udah ngerasa mules?'
'Mules sih iya, Pa. Tapi kayaknya bukan mules mau melahirkan, tapi Mama kebelet,'
'Yaudah, ke kamar mandi,'
Mama berjalan menuju kamar mandi dengan selang infus yg menancap di pergelangan tangannya.
tak sampai semenit berada di dalam kamar mandi, Mama keluar lagi.
'Kok cepet banget, Ma?'
'Takut, Pa,'
'Takut kenapa?'
'Kalo yg keluar itu bukan emas permata, gimana? Kalo yg keluar itu bayinya, gimana? Ngga lucu kalo anak kita mendarat di jamban, Pa!'
tertawalah... karena saya yang lagi 'dirasani' pun sekarang sedang tertawa...
***
'Ayo, Bu! Terus dorong! Kepala bayinya sudah kelihatan! Sedikit lagi!' teriak dokter.
'Ya Allah! Tolong aku! Anakku sebesar apa kok susah kluwwaaaarrrrrggggghhhhh!!!'
'Iya, ayo terus! Sedikit lagi!'
'HHIIIYYYAAAARRRRRHHHHHGGGGGGHHHHHHHHKKKKK'
'Kepalanya sudah keluar, Bu! Dorong lagi!'
'Ya Allah, masih kepalanya doang? NNNGGGGHHHAAAARRRRGGGHHHH!!!'
'Alhamdulillah, anaknya sudah lahir, Bu. Perempuan,' kata dokter sambil menunjukkan bayi mungil berwarna merah di tangannya.
'Dhita.....' suara Mama terdengar sangat lirih.
'Bu, tolong dorong lagi. Ari-arinya susah keluar,' sahut seorang perawat.
'Hah? Ngeden lagi? Masya Allah... HNNGGAAAAAARRRGGHH'
***
NGAAAARRRKK NGAAAAAARRKKK NGAAAAARRRKKK
suara seorang bayi pecah di ruang bayi saat tengah malam. Mama terjaga dari tidurnya.
'Asem! Anake sopo kuwi ra weruh wektu yen arep nangis!' gerutu Mama dalam hati.
Mama bangun dari ranjangnya. Ia bawa botol infusnya dan meninggalkan Papa yang tengah tidur di sofa.
Mama berjalan menyusuri koridor Rumah Sakit Bersalin Siti Aisyiah. Banyak orang yang berlalu lalang menatapnya dengan tatapan aneh. Mungkin mereka mengira Mama adalah pasien yang hendak kabur meninggalkan rumah sakit beserta anaknya lantaran tak punya biaya. Sungguh ter-la-lu...
Akhirnya Mama sampai di depan ruang bayi. Dari jendela yang kala itu beruntung sekali sedang dibuka tirainya, Mama mengintip ke dalam, siapa bayi yang sedari tadi menangis keras tanpa henti.
Terpampang papan di baby box bertuliskan...
"Putri dari Tn. Syamsul Arifin dan Ny. Nanik Andayati. Dhita."
'YA ALLAH! ANAKKU???'
'Bu, Ibu mau kemana malam-malam begini kok nggak tidur?' tanya seorang perawat yang mengagetkannya.
'Mbak, itu anakku nangis dari tadi! Mbok ya dikasih susu! Atau antar ke kamar saya. Nanti kalo dia mati kelaparan, mbak mau tanggung jawab?'
'Eeee.. Iya, Bu. Sebentar lagi saya antar ke kamar Ibu,' jawab perawat tersebut dengan mimik wajah ketakutan.
'Ndak perlu! Sini tak bawa sendiri aja!' sentak Mama garang.
singkat cerita, malam itu adalah malam perdana Mama menyusui bayinya. Tersirat rasa bangga di wajah Mama karena ia telah mendapatkan gelar 'Ibu'. Terlebih bayi yang keluar dari rahimnya adalah perempuan. Ya, perempuan yang terlahir kedua sejak perempuan pertama yang terlahir 24 tahun sebelumnya. Bayi perempuan ini sangat dinanti-nanti. Namanya Dhita... D-H-I-T-A.
***
Dhita saat usia satu tahun lebih 2 bulan...
'Eh, Ndiel sudah bisa jalan!' kata Budhe. 'Sebentar lagi, Dhita punya adek. Mama lagi di bidan. Ndiel sama Budhe aja dulu, ya,'
Budhe lebih suka memanggilku dengan nama satu suku kata ini. Almarhumah sebenarnya ingin memberi nama Dilla, tapi Papa tidak mau.
***
Dhita saat usia 3 tahun...
'Pa, jajaaaann!' pintaku sambil merengek di lantai.
'Mau jajan apa? Ayo Papa antar,'
'Jajan sendiriii!'
'Ya sudah, ini uangnya. Hati-hati,'
'Ndak mau uang monyet! Uang wayang!'
'Hadeeeeeuuhh'
***
Dhita saat usia 4 tahun...
'Pokoknya aku mau sekolah kayak Mbak Niken! Di sekolahnya Dhe Luluk! Pake rok merah!' kataku marah meminta disekolahkan di SD tempat Budhe mengajar.
'Belum boleh, Ndiel,'
'Yaudah! Di sekolah tentara aja!'
yang saya maksud adalah TK Persit Kodim Kartika Chandra Kirana, dimana notabene siswa-siswinya adalah anak tentara.
***
Dhita saat usia 5 tahun...
'Bapak, anak bapak saya ikutkan festival membaca puisi, boleh? Karena Dhita ini satu-satunya siswi yang sudah bisa membaca dan menulis,' terang bu Rose di ruang kepala sekolah.
'Tentu saja boleh, Bu!' jawab Papa girang.
'Tapi dengan satu syarat, Dhita nggak boleh bawa kucing ke sekolah lagi ya, Nak,' kata Bu Rose yang berhasil membuat bibirku maju 3 senti.
***
Dhita saat usia 6 tahun...
'Ndiel! Kok bisa ranking 2 sih? Cawu kemaren kan bisa ranking satu!' teriak Mama usai masuk rumah. 'Masa di sekolah pinggiran yang isinya anak-anak kampung, kamu malah jadi nomor dua. Ndak main!'
'Mboh, Maaa! Gurunya paling,' jawabku dengan penuh leleran air mata.
***
Dhita saat usia 7 tahun...
Jatuh dari genting.
'AAARRRKKK SUAKEEEEET!!!' teriakku usai pergelangan tanganku dipijat.
'Ndak apa-apa, mengsle sedikit. Kalo besok masih sakit, berarti retak,'
'Hah? Ngawur bapak ini!' sahut Papa terkejut.
'Pa, pokoknya besok aku mau ulang tahun!' bodoh.
'Mana lusa dia harus daftar SD lagi,' tambah Mama
***
Dhita saat usia 8 tahun...
suasana pesta di tempat kursus bahasa inggris...
'Happy birthday Dhita! Congratulation! I hope you'll get bigger, smarter, more beautiful, and keep cheering!'
'Thank you so much, Mrs Diana. I promise!'
'Come on, everybody, let's sing happy birthday for Dhitaaaaa,'
***
Dhita saat usia 9 tahun...
Saya, Tania, Halida, dan Citra tengah rapat di depan kelas...
'Jadi, ketua redaksinya itu aku. Juru gambar itu Citra. Juru mewarnai itu Tania, Juru mengarang cerita itu Dhita,' jelas Halida.
'Tapi aku pengen nggambar juga, Hal,' protesku.
'Diantara kita berempat, gambarmu itu paling jelek, Dhit. Kamu yang ngarang cerita aja. Nanti komiknya Citra yang gambar,'
Hal, dulu aku pengen nangis dibilang gitu...
'Tan, kamu supplier kertasnya, yah,'
***
Dhita saat usia satu dekade...
'Jadi, nanti kita akan berangkat ke karantina teater di Asrama Haji Sukolilo pada tanggal 21 Juni!' jelas Pak Trombol, seniman kota yang sekaligus pelatih teater di SD-ku.
'ULANG TAHUNKU!!!'
krik... krik... krik... tik tok tik tok
***
Dhita saat usia 11 tahun...
'Ndiel! Barusan Mama ditelepon Pak Puji, katanya lomba deklamasimu dapet juara 3 tingkat kota, Nak!'
'Oh...' Ah, cuma juara tiga -__-
***
Dhita saat usia 12 tahun...
'MAAAA!!! Tititku keluar darah! Aku kenapa, Ma? Apa aku mau mati?'
'Alhamdulillah, anak Mama sudah baligh, Ya Allah,'
'Apanya sih, Ma?'
'Kamu sudah mens. Itu wajar, Nak. Nih, kamu pake pembalut. Ke kamar mandi sana,'
Usai keluar dari kamar mandi...
'Ih, nggak enak ya pake softex,'
***
Dhita saat usia 13 tahun...
'Duh, ndak keliatan!' rintihku di antara puluhan siswa SD yang mendaftar di SMPN 1 ketika masih generasi pertama RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional)
'Belinda pinter banget, sih, bisa ranking dua seleksinya! Masuk SBI deh!' kata Irma dari sekolah tetangga.
'Iya, aku masih nggak percaya, Ir!' jawab Belinda sambil menghapus air mata tanda harunya.
'Wah, Belinda ranking dua? Selamat ya, sudah pasti masuk SBI' kataku ikutan nimbrung.
'Loh? Kamu Dhita Rizky dari Tisno 1 kan?'
'Iya, kenapa?'
'Kamu lho ranking satu, Dhit!' teriak Belinda gemas.
'Hah? Serius?' tanpa menunggu Belinda menjawab, langsung kuterobos kerumunan anak SD yang sibuk mencumbui papan pengumuman.
'Ya Allah, aku ranking satu?'
'Oh, ini yang ranking satu? Ndak kaget kalo yg ranking satu dari Tisno 1,' sahut seorang anak lelaki berkacamata yang akupun tak tahu dia dari sekolah mana.
***
Dhita saat usia 14 tahun...
'Pengumuman kepada seluruh ketua kelas 7, 8, dan 9 harap segera berkumpul di depan lab IPA,'
'Aseeek, ketua kelas kumpul! Ketemu Mas Roys! Ehehehehe' jeritku girang dalam hati
***
Dhita saat usia 15 tahun...
'Aku suka sama kamu, Dhit. Bukan karena aku cuma kenal kamu sih di kota ini. Tapi aku memang suka sama kamu sejak pertama ketemu. Aku harap, kamu mau jadi pacarku,' Steve melayangkan kata cintanya yang membuatku melayang-layang.
'Aku....,'
'Nggak usah kamu jawab sekarang. Pikir-pikir dulu,' katanya sambil membenahi kacamatanya.
2 hari kemudian...
'Iya, aku mau jadi pacarmu. Tapi jangan selingkuh ya,' kataku polos.
'Selingkuh pun juga sama siapa, Dhit? Sekolah aja Home Schooling,' tukasnya.
'Oh iya, lupa,'
'Makasih ya, sayang...'
mukaku memerah...
***
Dhita saat usia 16 tahun...
'Nilai UN-mu berapa, Dhit?' tanya Sete
'Cuma 35, Te. Tiga lima koma nol nol. Tiga puluh lima presssss'
***
Dhita saat usia 17 tahun...
'Maaf ya, Nak, gara-gara Papa sakit, Sweet Seventeenmu nggak jadi,' kata Papa tepat jam 1 pagi.
'Dhita cuma pengen Papa sembuh. Itu aja doa permintaan Dhita, Pa!' jawabku sambil menangis memeluk Papa.
dua belas hari kemudian...
'Papa?'
helm yang kupegang jatuh dengan sendirinya ke lantai. Aku melihat Papa sudah terbujur kaku di ruang tamu saat aku baru sampai dari mengisi acara di sekolah. Aku pun pingsan. Saat aku terbangun, aku langsung menjerit keras dan memeluk jenazah Papa.
***
Dhita saat usia 18 tahun...
singkat cerita, aku meniup 3 buah lilin di kue tart kecil yang kubeli sendiri.I wish you were here, Papa...
***
Dhita di saat usia 19 tahun...
'Lulus UN SMA dengan nilai super pas-pasan'
'Tidak lolos SNMPTN'
'Tidak lolos SBMPTN'
'Tidak lolos UM STAN'
'Dikarantina 8 bulan di Jember'
'I think you're not appropriate in the first level. So I would like to move you in the second level. I hope you won't refuse it,' ungkap Mr. Eddy, pemilik kursus bahasa Inggris Eddy's English, di seberang telepon.
'Is that true? How about the test?' tanyaku tak percaya.
'I believe that your ability can prove that you're deserve to be moved on the next level. There is no any replacement test for you'
-------
'Hi, my name is Dhita. Last night Mr Eddy called and told me that I have to move to this class. I'm coming from the first level, btw' kulihat wajah-wajah anak kuliahan itu satu persatu. Mereka terlihat sangat pintar dan aku terlihat sangat bodoh.
-------
'Aku ranking dua? Ranking satunya?'
'Si Ardhian,' jawab receptionist. Aku melongo melihat sertifikat milik Ardhian. Kami hanya terpaut satu poin! Sial!
***
Dhita saat usia 20 tahun...
Pagi hari pukul 07.00...
Kutatap monitor PC di meja kerjaku dengan tatapan kosong. Tiba-tiba Mbak Lastri mengirim chat di Skype..
'Happy birthday, Dhita. Wish you all the best!'
I grabbed a piece of paper then I draw some doodles which was written 'Thank you!'
'Dear Mbk Dhita. Happy birthday! Doaku yg baik-baik deh buat kamu. Semoga cepet dapet jodoh!' -- Skype message Mbak Lusi.
'Dear Mbk Dhita. Hepi besdey yach! Semoga makin cantik wajah dan perilakunya, makin dewasa, buruan berjodoh!'-- Skype message Mbak Purry.
'Happy birthday Dhita. Panjang umur dan semoga cepat mendapat jodoh!' -- Mood Skype Mbak Fitri.
'Happy birthday tante Dhita,' -- mood Skype Mbak Anik dengan foto anaknya pegang gue tart jumbo.
'Dhit,' -- Skype Adam dari Surabaya.
'Apa pak?'
'WUATB yaa. Semoga tambah segala-galanya,'
'Makasih, Pak. Jangan singgung soal jodoh!'
'Ada apa dengan jodoh? Kate rabi yo jangan2? Wah, kedhisikan aku rek!' -__-
------
'Cemul, kamu dimance? Buruan ke Nafis sekarang! Lama amat!'
'Iya sek, Mbak. Sabar rah!'
'Halo, Mis, kamu....'
'Halo, Dhit. Iya sebentar lagi aku berangkat, kamu nggak usah khawatir, aku pasti datang,' tuuut tuuut tuuut... aku melongo menatap ponselku.
'Bos, awakmu ndek endi, ciuks! Wes jam piro iki? Selak mulai!'
'Misbah durung nyusul aku. Mulai sek wes acarane, aku nyusul!'
"Hhhhrrkk!!'
------
Usai semua hadirin pulang, termasuk Mama dan Adikku, aku dan Misbah masih berbincang hangat sambil ditemani segelas cappuccino float. Aku sangat merindukan sahabatku yang sudah setahun tidak bertemu karena ia kuliah di Bandung. Aku merindukan gurauan khasnya yang mampu memancing emosiku sampai aku hampir memecahkan gelas. Aku menceritakan kehidupanku selama setahun ini kepadanya. Maklum, kami juga karang contact.
'Andai Yoga udah pulang, pasti seru kalo dia dateng sekarang,' gumamku.
'Kamu kan tau, kapan Yoga pulang itu belum pasti. Toh, setidaknya aku sudah datang, kan?'
'Iya, sih. Dia ke Jakarta kan buat sekolah, bukan buat pulang,'
'Kamu sekarang sudah dewasa ya, sudah mengerti, nggak egois. Tapi childish-nya kenapa nggak ilang-ilang sih? Aku heran deh,'
'Hwaaarrrkkk Misbaaaaahhh!' aku memukul pundaknya dengan kado novel darinya. Pasti sakit.
------
'Ma, apa rasanya ngerawat aku selama 20 tahun?'
'Hmmm gampang gampang susah, susah susah gampang,'
Entah kenapa, malam itu aku merasa hampa. Sekarang aku mengerti, kenapa aku tidak terlalu menunggu saat-saat hari kelahiranku ini. Aku masih ingat ultahku tahun lalu. Aku menangis saat seseorang yang aku cintai mengucapkan selamat ulang tahun di facebook. Alhamdulillah, aku berhasil move on. Dan tidak terlalu sakit rasanya kalau tahun ini dia tidak mengucapkannya lagi.
Malam itu aku sulit tidur. Yang aku pikirkan hanyalah; AKU SUDAH TUA.
Rasanya baru kemarin aku diantar Papa ke sekolah. Tapi sekarang sudah menyetir sepeda motor sendiri dengan kelajuan 70km/jam. Alhamdulillah, aku sudah mendapat beberapa pencapaian. Tapi untuk masalah jodoh, aku ingin menikah 6 atau 7 tahun lagi. Hal tersebut mendapat sergahan keras dari Mama dan Adikku. Entahlah, aku tidak terlalu agresif mencari cinta. Aku santai saja.
Terimakasih, Tuhan. Kau masih belum mengubahku menjadi seikat pocong yang siap dipecut Malaikat Munkar Nakir. Terimakasih untuk memberiku banyak kesempatan untuk bertaubat, meski seringkali aku masih berbuat dosa lagi.
Tuhan, aku ingin hidup seribu tahun lagi. Aku ingin menjadi manusia yang bermanfaat. Kalau ditakdirkan aku mati besok, aku mohon jangan. Aku masih dalam masa hadast haid :'(
Tuhan, izinkan aku menikah. Izinkan 'ia' mengucap ijab qabul meski itu bukan menjabat tangan ayahku. Izinkan aku merasakan bagaimana menghormati suami, merawat anak, serta menimang cucu. Angkat semua penyakit yang menggerogoti tubuhku. Berikan aku kesempatan.
Tuhan, sampaikan salamku pada Papa, anak sulungnya mampu hidup selama dua dekade....