Friday, 27 June 2014

Klik Saja!

"I'm deleting you right from my heart
Yeah it's over, my last move is to unfriend you"
-Unfriend You by Greyson Chance-

-------------

Yang hobi nongol di Twitter, mana suaranyaaaaaa????
*KYYAAAAAAAAAA!!!!!*

Nah yang hobi update twit, atau sekedar stalking someone on twitter, yang lagi patah hati terus di-twit..
Siapa yang nggak kenal @dwitasaridwita? Atau @adelladellaide? Atau..... (siapa lagi ya?) ?
Dwitasari, terlepas dari karya-karyanya yang sangat melekat di hati teen readers, dan si Adellina, yah, siapapun gerangan, mereka berdua adalah 2 master penge-twit tweets fontal ala anak muda. Mungkin bisa dilihat perbedaannya sih. Kalo si Dwitasari lebih frontal masalah percintaan. Sedangkan Adellina frontal dalam berbagai hal. Mulai dari hal-hal sederhana seperti 'Nggak usah mandi kalo cuma ke TPS' sampai 'Berbahagia dan bersyukurlah kalian yang pacarnya telaten, mau ngurusin pas kalian sakit,'. Mereka punya banyak sekali followers, tak jarang pula, bahkan sering sekali twit mereka di-retweet oleh banyak orang yang sependapat atau konten tweet mereka sedang dirasakan orang lain. Saya nggak bisa banyangin, betapa seringnya notif mention yang mereka terima. Pasti posel mereka paling sering bunyi karena retweet.
Daaaaan..... Kesimpulannya adalah.....
'Saya tidak mem-follow keduanya' -_____- *FYI aja sih*

Oh, enggaaaaak, saya nggak sedang menyindir siapapun kok. Suer ketewer-tewer!

Galau.

Ketika seseorang galau, tak jarang seseorang tersebut menumpahkan emosinya di twitter. Nge-boom lagi. Bisa bayangin kan, ketika kita buka twitter, terus sepanjang timeline twitter isinya bacotan satu orang doang. Keki nggak bacanya?

-Iya! Keki pake bingiiiittzzz!
-Bener, tuh! Ngotorin TL ajah!
-Harusnya kalo dia punya masalah, ngadunya itu ke Allah, bukan ke twitter. Ngetwit isinya ngeluh2 gitu ngga akan menyelesaikan masalah. *oke, yang ini versi alimnya*


Kok kalian keki sih? Kok sebel sih? Kok dibilang ngotorin TL sih? Kok dibilang nggak bisa menyelesaikan masalah sih? (yang ini sih emang ada benernya juga, tapi dikiiiittt)

So, let me explain...

Ketika kalian mem-follow seseorang, itu artinya kalian 'deal' untuk menerima semua informasi dari seseorang yg kalian follow tersebut di Timeline kalian. Ngga cuma di twitter kok, maybe di semua media sosial kali ya. Kalian mem-follow itu kan keputusan kalian sendiri. Entah itu karena kalian kenal, suka, ngefans, dan sebagainya. Terus ketika mereka frontal di TL sampe nge-boom gitu, kok kalian malah sewot?

Gini ya, anggep aja TL itu kayak lapangan sepak bola. Misalkan di lapangan tersebut ada 1 orang, yakni masing-masing dari kalian. Kemudian penonton yg lain itu masih invisible di mata kalian. Kemudian kalian follow si ini si itu sehingga mereka tampak di mata kalian. Mereka ada buat ngomong, teriak, cerita, jerit-jerit dan sebagainya. Mau nggak mau kalian dengar suara mereka. Entah itu perkataan bagus seperti 'Alhamdulillah, sesuatu, ya!' sampai 'Bangsat lo!' *kata 'bangsat' itu nggak perlu disensor meskipun terdengar kasar. FYI, 'Bangsat' itu nama serangga*

Kalo kalian nggak suka mereka pada frontal, ya udah, kalian kunjungi Profile page-nya, kemudian klik Unfollow/unfriend/un- apa aja deh. Dengan begitu, dia akan raib dari TL kalian. Meskipun dia di-unfollow oleh kalian, dia tetep bisa ngetwit kan? Kalian juga bisa berkomunikasi kan meskipun nggak saling follow. Saya pun baru menyadari akan hal satu ini usai saya meng-unfollow seseorang, sebut saja Mawar, yang kerap kali frontal di TL. Udah gitu, kalo saya mention selalu saja di-retweet dulu baru di-reply. Meskipun udah saya unfollow, tetep aja yg muncul di interaction selalu begitu.
Maaf ya, Mawar. Nanti tak follow lagi kok, tenang aja. hehehe

Udah, damai aja lah kalo di TL. Nggak usah main sindir-sindir segala.
Kasarnya tuh seperti ini;
-Kalo lo nggak suka sama twit gue, unfollow aja! Gue nggak rugi juga, kok!'

Halusnya tuh seperti ini;

-If you don't like my tweets, don't talk any bad words on timeline. Just visit my profile page, then click the 'unfollow' button. Thank you :)

Kemudian untuk usulan yang alim tadi, ehehehehe
Mereka ngetwit itu bukan untuk mencari solusi sih, sebenarnya. Mereka hanya mengekspresikan, meluahkan perasaan. Seperti yang saya lakukan selama ini; I'm tweeting just to express, not to impress. Akibatnya apa? Mereka jadi lega. Terlebih bonusnya kalo ada yang merespon, memperhatikan, menasihati, memberikan solusi. Yang perlu dicatat adalah Tuhan itu adil. Dia mengirimkan solusi permasalahan lewat orang lain. As simple as that!

TWITTER = Typing What I'm Thinking To Everyone Reading.

Saya rasa sih nggak cuma Twitter aja yg punya arti seperti itu. Semua media sosial yang nggak punya kepanjangan yg mendeskripsikan hal yang sama dengan di atas pun juga memiliki fungsi yang sama.

Jadi, sekarang sepakat ya. Suka? Follow! Nggak suka? Unfollow!
Adil saja lah seperti ilmu Logika Matematika. Jika P maka Q. Jika ~P maka ~Q
:)

Terlalu Lelah

Kala ku tenggelam, ku tak berharap kau ada

Untuk menemani, untuk memberi senyum
Terlalu lelah...

Sekian waktu berlalu tak mampu membuatku
Takut kehilangan. Tak ingin ku menipu batinku dan batinmu
Terlalu lelah...

Kala kebosanan melanda di dinding hati
Saat itu kulepas dirimu
Maafkan aku bila selama ini kubagi cintamu dengan dia
Seseorang yang mampu meluluhkanku

Hujan t'lah berhenti, selamat datang kau pelangi
Ini hanya sepenggal kisah
Tentangmu, tentangku, dan dirinya
Takkan terlupa, seperti biasa

-Terlalu Lelah, by Evo-


Sebelum aku hanyut dalam kesunyian. Atau bahkan terjebak dalam kesendirian.
Aku menoleh ke arahmu dengan wajah lesu.
Aku merintih di dalam kalbu. Aku menyipitkan mata yang sarat kesedihan.
Kupicingkan perlahan hingga satu per satu permata jernihku jatuh.
Aku lelah bercerita tanpa didengarkan. Tapi aku lebih lelah didengarkan dengan keprihatinan yang palsu.
Tapi aku jauh lebih lelah mengubur semuanya sendirian.

Jemariku, bantu aku.
Sampaikan kata-kata kiasan ini kepada mereka. Biarkan tiap abjad mengepakkan sayap hitamnya. Persilahkanlah tinta-tinta keruhnya luntur.
Mereka sudah tahu bahwa aku lelah dan berusaha tetap bertahan.
Tapi mereka tidak tahu....
Aku yang tengah bertahan... Sudah merasa terlalu lelah...

Bait-bait senjaku yang manis, tersayang...
Biarkan aku tidur.

Wednesday, 25 June 2014

Second Decade

20 Juni 1994..........

'Gimana, Ma? Udah ngerasa mules?'
'Mules sih iya, Pa. Tapi kayaknya bukan mules mau melahirkan, tapi Mama kebelet,'
'Yaudah, ke kamar mandi,'

Mama berjalan menuju kamar mandi dengan selang infus yg menancap di pergelangan tangannya.
tak sampai semenit berada di dalam kamar mandi, Mama keluar lagi.

'Kok cepet banget, Ma?'
'Takut, Pa,'
'Takut kenapa?'
'Kalo yg keluar itu bukan emas permata, gimana? Kalo yg keluar itu bayinya, gimana? Ngga lucu kalo anak kita mendarat di jamban, Pa!'

tertawalah... karena saya yang lagi 'dirasani' pun sekarang sedang tertawa...

***

'Ayo, Bu! Terus dorong! Kepala bayinya sudah kelihatan! Sedikit lagi!' teriak dokter.
'Ya Allah! Tolong aku! Anakku sebesar apa kok susah kluwwaaaarrrrrggggghhhhh!!!'
'Iya, ayo terus! Sedikit lagi!'
'HHIIIYYYAAAARRRRRHHHHHGGGGGGHHHHHHHHKKKKK'
'Kepalanya sudah keluar, Bu! Dorong lagi!'
'Ya Allah, masih kepalanya doang? NNNGGGGHHHAAAARRRRGGGHHHH!!!'
'Alhamdulillah, anaknya sudah lahir, Bu. Perempuan,' kata dokter sambil menunjukkan bayi mungil berwarna merah di tangannya.
'Dhita.....' suara Mama terdengar sangat lirih.
'Bu, tolong dorong lagi. Ari-arinya susah keluar,' sahut seorang perawat.
'Hah? Ngeden lagi? Masya Allah... HNNGGAAAAAARRRGGHH'

***

NGAAAARRRKK NGAAAAAARRKKK NGAAAAARRRKKK
suara seorang bayi pecah di ruang bayi saat tengah malam. Mama terjaga dari tidurnya.

'Asem! Anake sopo kuwi ra weruh wektu yen arep nangis!' gerutu Mama dalam hati.

 Mama bangun dari ranjangnya. Ia bawa botol infusnya dan meninggalkan Papa yang tengah tidur di sofa.
Mama berjalan menyusuri koridor Rumah Sakit Bersalin Siti Aisyiah. Banyak orang yang berlalu lalang menatapnya dengan tatapan aneh. Mungkin mereka mengira Mama adalah pasien yang hendak kabur meninggalkan rumah sakit beserta anaknya lantaran tak punya biaya. Sungguh ter-la-lu...
Akhirnya Mama sampai di depan ruang bayi. Dari jendela yang kala itu beruntung sekali sedang dibuka tirainya, Mama mengintip ke dalam, siapa bayi yang sedari tadi menangis keras tanpa henti.

Terpampang papan di baby box bertuliskan...
"Putri dari Tn. Syamsul Arifin dan Ny. Nanik Andayati. Dhita."

'YA ALLAH! ANAKKU???'
'Bu, Ibu mau kemana malam-malam begini kok nggak tidur?' tanya seorang perawat yang mengagetkannya.
'Mbak, itu anakku nangis dari tadi! Mbok ya dikasih susu! Atau antar ke kamar saya. Nanti kalo dia mati kelaparan, mbak mau tanggung jawab?'
'Eeee.. Iya, Bu. Sebentar lagi saya antar ke kamar Ibu,' jawab perawat tersebut dengan mimik wajah ketakutan.
'Ndak perlu! Sini tak bawa sendiri aja!' sentak Mama garang.

singkat cerita, malam itu adalah malam perdana Mama menyusui bayinya. Tersirat rasa bangga di wajah Mama karena ia telah mendapatkan gelar 'Ibu'. Terlebih bayi yang keluar dari rahimnya adalah perempuan. Ya, perempuan yang terlahir kedua sejak perempuan pertama yang terlahir 24 tahun sebelumnya. Bayi perempuan ini sangat dinanti-nanti. Namanya Dhita... D-H-I-T-A.

***
Dhita saat usia satu tahun lebih 2 bulan...

'Eh, Ndiel sudah bisa jalan!' kata Budhe. 'Sebentar lagi, Dhita punya adek. Mama lagi di bidan. Ndiel sama Budhe aja dulu, ya,'

Budhe lebih suka memanggilku dengan nama satu suku kata ini. Almarhumah sebenarnya ingin memberi nama Dilla, tapi Papa tidak mau.
***

Dhita saat usia 3 tahun...
'Pa, jajaaaann!' pintaku sambil merengek di lantai.
'Mau jajan apa? Ayo Papa antar,'
'Jajan sendiriii!'
'Ya sudah, ini uangnya. Hati-hati,'
'Ndak mau uang monyet! Uang wayang!'
'Hadeeeeeuuhh'
***

Dhita saat usia 4 tahun...
'Pokoknya aku mau sekolah kayak Mbak Niken! Di sekolahnya Dhe Luluk! Pake rok merah!' kataku marah meminta disekolahkan di SD tempat Budhe mengajar.
'Belum boleh, Ndiel,'
'Yaudah! Di sekolah tentara aja!'
yang saya maksud adalah TK Persit Kodim Kartika Chandra Kirana, dimana notabene siswa-siswinya adalah anak tentara.
***

Dhita saat usia 5 tahun...
'Bapak, anak bapak saya ikutkan festival membaca puisi, boleh? Karena Dhita ini satu-satunya siswi yang sudah bisa membaca dan menulis,' terang bu Rose di ruang kepala sekolah.
'Tentu saja boleh, Bu!' jawab Papa girang.
'Tapi dengan satu syarat, Dhita nggak boleh bawa kucing ke sekolah lagi ya, Nak,' kata Bu Rose yang berhasil membuat bibirku maju 3 senti.
***

Dhita saat usia 6 tahun...
'Ndiel! Kok bisa ranking 2 sih? Cawu kemaren kan bisa ranking satu!' teriak Mama usai masuk rumah. 'Masa di sekolah pinggiran yang isinya anak-anak kampung, kamu malah jadi nomor dua. Ndak main!'
'Mboh, Maaa! Gurunya paling,' jawabku dengan penuh leleran air mata.
***

Dhita saat usia 7 tahun...
Jatuh dari genting.
'AAARRRKKK SUAKEEEEET!!!' teriakku usai pergelangan tanganku dipijat.
'Ndak apa-apa, mengsle sedikit. Kalo besok masih sakit, berarti retak,'
'Hah? Ngawur bapak ini!' sahut Papa terkejut.
'Pa, pokoknya besok aku mau ulang tahun!' bodoh.
'Mana lusa dia harus daftar SD lagi,' tambah Mama
***

Dhita saat usia 8 tahun...
suasana pesta di tempat kursus bahasa inggris...
'Happy birthday Dhita! Congratulation! I hope you'll get bigger, smarter, more beautiful, and keep cheering!'
'Thank you so much, Mrs Diana. I promise!'
'Come on, everybody, let's sing happy birthday for Dhitaaaaa,'
***

Dhita saat usia 9 tahun...
Saya, Tania, Halida, dan Citra tengah rapat di depan kelas...
'Jadi, ketua redaksinya itu aku. Juru gambar itu Citra. Juru mewarnai itu Tania, Juru mengarang cerita itu Dhita,' jelas Halida.
'Tapi aku pengen nggambar juga, Hal,' protesku.
'Diantara kita berempat, gambarmu itu paling jelek, Dhit. Kamu yang ngarang cerita aja. Nanti komiknya Citra yang gambar,'
Hal, dulu aku pengen nangis dibilang gitu...
'Tan, kamu supplier kertasnya, yah,'
***

Dhita saat usia satu dekade...
'Jadi, nanti kita akan berangkat ke karantina teater di Asrama Haji Sukolilo pada tanggal 21 Juni!' jelas Pak Trombol, seniman kota yang sekaligus pelatih teater di SD-ku.
'ULANG TAHUNKU!!!'
krik... krik... krik... tik tok tik tok
***

Dhita saat usia 11 tahun...
'Ndiel! Barusan Mama ditelepon Pak Puji, katanya lomba deklamasimu dapet juara 3 tingkat kota, Nak!'
'Oh...' Ah, cuma juara tiga -__-
***

Dhita saat usia 12 tahun...
'MAAAA!!! Tititku keluar darah! Aku kenapa, Ma? Apa aku mau mati?'
'Alhamdulillah, anak Mama sudah baligh, Ya Allah,'
'Apanya sih, Ma?'
'Kamu sudah mens. Itu wajar, Nak. Nih, kamu pake pembalut. Ke kamar mandi sana,'
Usai keluar dari kamar mandi...
'Ih, nggak enak ya pake softex,'
***

Dhita saat usia 13 tahun...
'Duh, ndak keliatan!' rintihku di antara puluhan siswa SD yang mendaftar di SMPN 1 ketika masih generasi pertama RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional)
'Belinda pinter banget, sih, bisa ranking dua seleksinya! Masuk SBI deh!' kata Irma dari sekolah tetangga.
'Iya, aku masih nggak percaya, Ir!' jawab Belinda sambil menghapus air mata tanda harunya.
'Wah, Belinda ranking dua? Selamat ya, sudah pasti masuk SBI' kataku ikutan nimbrung.
'Loh? Kamu Dhita Rizky dari Tisno 1 kan?'
'Iya, kenapa?'
'Kamu lho ranking satu, Dhit!' teriak Belinda gemas.
'Hah? Serius?' tanpa menunggu Belinda menjawab, langsung kuterobos kerumunan anak SD yang sibuk mencumbui papan pengumuman.
'Ya Allah, aku ranking satu?'
'Oh, ini yang ranking satu? Ndak kaget kalo yg ranking satu dari Tisno 1,' sahut seorang anak lelaki berkacamata yang akupun tak tahu dia dari sekolah mana.
***

Dhita saat usia 14 tahun...
'Pengumuman kepada seluruh ketua kelas 7, 8, dan 9 harap segera berkumpul di depan lab IPA,'
'Aseeek, ketua kelas kumpul! Ketemu Mas Roys! Ehehehehe' jeritku girang dalam hati
***

Dhita saat usia 15 tahun...
'Aku suka sama kamu, Dhit. Bukan karena aku cuma kenal kamu sih di kota ini. Tapi aku memang suka sama kamu sejak pertama ketemu. Aku harap, kamu mau jadi pacarku,' Steve melayangkan kata cintanya yang membuatku melayang-layang.
'Aku....,'
'Nggak usah kamu jawab sekarang. Pikir-pikir dulu,' katanya sambil membenahi kacamatanya.
2 hari kemudian...
'Iya, aku mau jadi pacarmu. Tapi jangan selingkuh ya,' kataku polos.
'Selingkuh pun juga sama siapa, Dhit? Sekolah aja Home Schooling,' tukasnya.
'Oh iya, lupa,'
'Makasih ya, sayang...'
mukaku memerah...
***

Dhita saat usia 16 tahun...
'Nilai UN-mu berapa, Dhit?' tanya Sete
'Cuma 35, Te. Tiga lima koma nol nol. Tiga puluh lima presssss'
***

Dhita saat usia 17 tahun...
'Maaf ya, Nak, gara-gara Papa sakit, Sweet Seventeenmu nggak jadi,' kata Papa tepat jam 1 pagi.
'Dhita cuma pengen Papa sembuh. Itu aja doa permintaan Dhita, Pa!' jawabku sambil menangis memeluk Papa.
dua belas hari kemudian...
'Papa?' 
helm yang kupegang jatuh dengan sendirinya ke lantai. Aku melihat Papa sudah terbujur kaku di ruang tamu saat aku baru sampai dari mengisi acara di sekolah. Aku pun pingsan. Saat aku terbangun, aku langsung menjerit keras dan memeluk jenazah Papa.
***

Dhita saat usia 18 tahun...
singkat cerita, aku meniup 3 buah lilin di kue tart kecil yang kubeli sendiri.I wish you were here, Papa...
***

Dhita di saat usia 19 tahun...
'Lulus UN SMA dengan nilai super pas-pasan'
'Tidak lolos SNMPTN'
'Tidak lolos SBMPTN'
'Tidak lolos UM STAN'
'Dikarantina 8 bulan di Jember'
'I think you're not appropriate in the first level. So I would like to move you in the second level. I hope you won't refuse it,' ungkap Mr. Eddy, pemilik kursus bahasa Inggris Eddy's English, di seberang telepon.
'Is that true? How about the test?' tanyaku tak percaya.
'I believe that your ability can prove that you're deserve to be moved on the next level. There is no any replacement test for you'
-------
'Hi, my name is Dhita. Last night Mr Eddy called and told me that I have to move to this class. I'm coming from the first level, btw' kulihat wajah-wajah anak kuliahan itu satu persatu. Mereka terlihat sangat pintar dan aku terlihat sangat bodoh.
-------
'Aku ranking dua? Ranking satunya?'
'Si Ardhian,' jawab receptionist. Aku melongo melihat sertifikat milik Ardhian. Kami hanya terpaut satu poin! Sial!
***

Dhita saat usia 20 tahun...
Pagi hari pukul 07.00...
Kutatap monitor PC di meja kerjaku dengan tatapan kosong. Tiba-tiba Mbak Lastri mengirim chat di Skype..
'Happy birthday, Dhita. Wish you all the best!'
I grabbed a piece of paper then I draw some doodles which was written 'Thank you!'
'Dear Mbk Dhita. Happy birthday! Doaku yg baik-baik deh buat kamu. Semoga cepet dapet jodoh!' -- Skype message Mbak Lusi.
'Dear Mbk Dhita. Hepi besdey yach! Semoga makin cantik wajah dan perilakunya, makin dewasa, buruan berjodoh!'-- Skype message Mbak Purry.
'Happy birthday Dhita. Panjang umur dan semoga cepat mendapat jodoh!' -- Mood Skype Mbak Fitri.
'Happy birthday tante Dhita,' -- mood Skype Mbak Anik dengan foto anaknya pegang gue tart jumbo.
'Dhit,' -- Skype Adam dari Surabaya.
'Apa pak?'
'WUATB yaa. Semoga tambah segala-galanya,'
'Makasih, Pak. Jangan singgung soal jodoh!'
'Ada apa dengan jodoh? Kate rabi yo jangan2? Wah, kedhisikan aku rek!' -__-
------
'Cemul, kamu dimance? Buruan ke Nafis sekarang! Lama amat!'
'Iya sek, Mbak. Sabar rah!'
'Halo, Mis, kamu....'
'Halo, Dhit. Iya sebentar lagi aku berangkat, kamu nggak usah khawatir, aku pasti datang,' tuuut tuuut tuuut... aku melongo menatap ponselku.
'Bos, awakmu ndek endi, ciuks! Wes jam piro iki? Selak mulai!'
'Misbah durung nyusul aku. Mulai sek wes acarane, aku nyusul!'
"Hhhhrrkk!!'
------
Usai semua hadirin pulang, termasuk Mama dan Adikku, aku dan Misbah masih berbincang hangat sambil ditemani segelas cappuccino float. Aku sangat merindukan sahabatku yang sudah setahun tidak bertemu karena ia kuliah di Bandung. Aku merindukan gurauan khasnya yang mampu memancing emosiku sampai aku hampir memecahkan gelas. Aku menceritakan kehidupanku selama setahun ini kepadanya. Maklum, kami juga karang contact.
'Andai Yoga udah pulang, pasti seru kalo dia dateng sekarang,' gumamku.
'Kamu kan tau, kapan Yoga pulang itu belum pasti. Toh, setidaknya aku sudah datang, kan?'
'Iya, sih. Dia ke Jakarta kan buat sekolah, bukan buat pulang,'
'Kamu sekarang sudah dewasa ya, sudah mengerti, nggak egois. Tapi childish-nya kenapa nggak ilang-ilang sih? Aku heran deh,'
'Hwaaarrrkkk Misbaaaaahhh!' aku memukul pundaknya dengan kado novel darinya. Pasti sakit.
------
'Ma, apa rasanya ngerawat aku selama 20 tahun?'
'Hmmm gampang gampang susah, susah susah gampang,'

Entah kenapa, malam itu aku merasa hampa. Sekarang aku mengerti, kenapa aku tidak terlalu menunggu saat-saat hari kelahiranku ini. Aku masih ingat ultahku tahun lalu. Aku menangis saat seseorang yang aku cintai mengucapkan selamat ulang tahun di facebook. Alhamdulillah, aku berhasil move on. Dan tidak terlalu sakit rasanya kalau tahun ini dia tidak mengucapkannya lagi.

Malam itu aku sulit tidur. Yang aku pikirkan hanyalah; AKU SUDAH TUA.
Rasanya baru kemarin aku diantar Papa ke sekolah. Tapi sekarang sudah menyetir sepeda motor sendiri dengan kelajuan 70km/jam. Alhamdulillah, aku sudah mendapat beberapa pencapaian. Tapi untuk masalah jodoh, aku ingin menikah 6 atau 7 tahun lagi. Hal tersebut mendapat sergahan keras dari Mama dan Adikku. Entahlah, aku tidak terlalu agresif mencari cinta. Aku santai saja.

Terimakasih, Tuhan. Kau masih belum mengubahku menjadi seikat pocong yang siap dipecut Malaikat Munkar Nakir. Terimakasih untuk memberiku banyak kesempatan untuk bertaubat, meski seringkali aku masih berbuat dosa lagi.
Tuhan, aku ingin hidup seribu tahun lagi. Aku ingin menjadi manusia yang bermanfaat. Kalau ditakdirkan aku mati besok, aku mohon jangan. Aku masih dalam masa hadast haid :'(
Tuhan, izinkan aku menikah. Izinkan 'ia' mengucap ijab qabul meski itu bukan menjabat tangan ayahku. Izinkan aku merasakan bagaimana menghormati suami, merawat anak, serta menimang cucu. Angkat semua penyakit yang menggerogoti tubuhku. Berikan aku kesempatan.
Tuhan, sampaikan salamku pada Papa, anak sulungnya mampu hidup selama dua dekade....

Wednesday, 11 June 2014

Don't Steal My Seratus Perak!



And yeaaaahhh!
Dear Kontemporer People... *efek nulis e-mail setiap hari*
Finally I can find this kind of soft drink! PEPSI BLUE!

Saya sudah lupa, kapan terakhir kali saya minum Pepsi kaleng. Seingat saya sih waktu kelas 5 SD. Tapi terakhir kali minum benda cair ini waktu ke KFC kelas 9 SMP. Dan entah kenapa belakangan ini ngotot banget pengen minum Pepsi Blue kaleng lagi.

Yap, saya adalah penggemar minuman bersoda semacam produk-produk dari Coca Cola Company dan minuman bersoda lainnya. Mulai suka minum beginian diajarin Papa waktu masih TK, awalnya cuma Fanta Fruity, apalagi kesukaan saya yang rasa melon. Sedari dulu saya sudah tahu efek samping dari suka minum soda, salah satunya adalah pengikisan zat kalsium dalam tulang sampai infeksi pencernaan. Tapi gede-gedenya makin menggila. Saya sempat jadi cewek semi 'rusak' gara-gara sempat frustasi sedikit. Pas kelas 1 SMA lagi banyak masalah kompleks, nenangin diri pake minum soda berbotol-botol. Merasa kurang mempan, coba-coba Mix-Max dan Vodka, tapi rasanya nggak enak. Yerk.

-Kelihatan dari luar, saya ini cewek baik-baik. Tapi percayalah, diam-diam dulu saya memang sempat 'rusak'. Everybody has any pasts, right?-

Well, saya beli Pepsi Blue ini di salah satu minimarket waralaba paling terkenal se-Indonesia (yeah, you know what) di dekat rumah saya. Begitu masuk minimarket, ada seorang bapak melakukan pembayaran di kasir.
Kasir : 'Bapak, seratus rupiahnya boleh disumbangkan ke PMI?'
si Bapak : *menggeleng*
Kasir : *dengan nada ragu dan menahan malu* Eeee... Enggak pak?'
si Bapak : *tetap menggeleng*

Ckckckck...
Dalem ati saya bergumam 'Andai saja malam begini kantor PMI buka, udah aku samperin deh buat konfirmasi adanya beginian'
-yeah, you know, saya ini termasuk orang yg responsif. Biskuit Better teksturnya berubah aja saya langsung kirim e-mail ke customer service Mayora loh. Seminggu kemudian saya ditelepon sama pihak Mayoranya untuk konfirmasi. Lebay sih emang. But I think that's cool-

Setelah saya mengambil biskuit cokelat pesanan mama saya beserta Pepsi Blue tersebut, saya menuju kasir dengan harapan saya nggak ditawarin seratus rupiah saya minta disumbangkan ke PMI.

Kasir : 'Total semuanya Rp12.900, Mbak. Ini struk dan kembaliannya'

Kenapa mbak ini nggak menyebutkan nominal kembaliannya ya? Saya bayar pakai uang 50.000an, tapi kembaliannya cuma Rp37.000. Seratus rupiahnya kemance?
Gila ini kasir! Seratus rupiah gue disumbangin ke PMI tanpa pamit!

Saya : 'Mbak, seratus rupiah ini nggak ada permen paling nggak enak sedunia atau apaaaa gitu?' *nada jutek efek service BB lama banget*
Mbak kasirnya nggak jawab apa-apa. Tapi malah ngasih koin 200 perak ke saya. Lebih 100 perak sih, tapi daripada saya banyak bacot dan cari ribut di minimarket tersebut, saya memilih pergi. Lumayan, seratus perak...

Mungkin cuma seratus perak. You know what? Itu seratus perak masuk kantong kasir! Coba kalo diakumulasi jumlah pembeli dalam satu hari. Kira-kira paling sedikit dapet 20 ribu. Saya sih nggak mempermasalahkan seratus peraknya, tapi mengatasnamakan PMI-nya! Ini instansi sosial kenapa disalahgunakan namanya? Maksudnya biar orang simpati dan ikhlas ngasihin uangnya gitu? Seratus rupiah itu ngga dapet satu kali sms! Dan nggak semua orang pakai Telkomsel! *eh

Jujur, kalo ngga lagi bener-bener kepepet, saya males banget jajan di minimarket waralaba satu ini. Entah kenapa harganya bisa lebih mahal daripada harga di supermarket.
-yang tahu alasannya, leave comment, please-

but, btw entah kenapa rasa Pepsi Blue yg ini tidak selembut dulu ya? Yang ini hampir nggak ada bedanya sama Coca-cola meskipun rasa 'Blue'-nya tetap ada, tapi tektur airnya kasar. Hmm tapi saya suka

Monday, 9 June 2014

Kekayaan dan Kemiskinan.

"Nama saya Dhita Rizky, dan saya bukan seorang uztadzah"

sewaktu saya masih SMA, saya pernah mendengar suatu ceramah Ramadhan di sekolah. Satu kalimat yang saya ingat namun tidak bisa saya cerna....

"Allah menguji manusia tidak hanya dengan kemiskinan, tapi juga kekayaan"

 Seketika saya berpikir keras, bagaimana bisa kekayaan yang bisa kita gunakan untuk berbagai hal, sekaligus otomatis pasti bisa menyenangkan hati kita secara materi, adalah suatu bentuk ujian dari Allah? Bukankah kekayaan itu salah satu dari bentuk rezeki?

Seringkali saya juga mendengar pepatah seperti ini;

"Kebahagiaan tidak bisa ditukar dengan harta"
Sebagai manusia yang tahu apa itu kekayaan, saya jadi bingung. You must be joking! Dengan harta yang banyak, kita bisa membeli apa yang kita mau, bukan? Rumah mewah, mobil mewah, makanan yang enak, berbagai fasilitas yang menunjang kehidupan, hingga benda-benda yang sebetulnya tidak terlalu dibutuhkan. Bahkan, dengan bermodalkan harta yang melimpah, kita juga akan lebih mudah untuk bersedekah. Bukan begitu, teman?


Tapi, bagaimana jika kemudian harta bisa merampas kebahagiaan, kebersamaan, persaudaraan? Bagaimana jika harta bisa menaikkan harkat martabat, kelas, status, dan kasta?

-saya tidak bermaksud menyinggung siapapun-

Bagaimana jika harta bisa menimbulkan sifat angkuh, sombong, pelit, kedekut, jahat, durhaka, murka bahkan serakah?
Ketika orang yang dulu pernah dekat dengan kita, kini telah antipati dengan kita hanya karena kita pernah angkuh dan sombong atas harta kita. Kita juga enggan untuk berbagi dengan mereka. Di saat kita tengah tersepit keadaan, sebenarnya harta bisa menolong kita, tapi hanya dalam waktu jangka pendek. Karena harta punya kuantitas yang jelas. Karena harta bisa habis. 

Saya jadi paham, mengapa kekayaan juga disebut ujian dari Allah.
Allah menguji manusia, apakah harta yang dimilikinya bisa bermanfaat. Apakah hartanya barokah. Apakah hartanya tidak terbuang sia-sia. Apakah manusia mampu mempertahankan hartanya. Apakah manusia bisa bertahan dengan hartanya.

Ketika kita kaya, lalu mendapat musibah, jumlah harta yang keluar untuk menyelamatkan kita dari musibah tentu tidak akan dihitung jumlahnya. Tau-tau setelah kita lolos dari musibah, kita baru menyadari bahwa harta kita berkurang. Lalu kemana lagi kita akan berlari? Berlari sambil terus menunjukkan sikap angkuh dan kedekut atas harta kita?

Ingatlah, tidak ada harta di dunia yang abadi kecuali amal ibadah. Sederhana saja, menjaga tali silaturahmi itu sudah ibadah. Jangan sampai tali silaturahmi putus hanya karena harta. Gunakan harta untuk membantu sesama, niscaya Allah akan terus menambahkan rezki dan nikmatnya. Jangan takut harta habis. Karena hakikatnya seperti menanam padi. Kita tanamkan benih kebaikan (dalam hal ini mengamalkan harta kita), lalu kita petik hasilnya nanti. Apa yang kita semaikan dengan tulus ikhlas, Insya Allah, Dia akan memberi kita lebih. Jangan lupa untuk selalu bersyukur atas harta yang kita miliki.

-sekali lagi, saya tidak sedang menyinggung siapapun-

So, kontemporer people sekalian yang baik hatinya,
mulailah berbenah diri. Kita tengok dan cermati, harta kita akan digunakan untuk apa. Jangan kedekut kalau ingin bersedekah. Karena sebenarnya tujuan bersedekah adalah membantu sesama sekaligus membersihkan harta kita. Mudah-mudahan harta yang kita miliki adalah harta yang barokah. Aamiin.

Dan sekarang saya mengerti, mengapa Allah juga menguji manusia dengan kekayaan. Mudah-mudahan kita tidak termasuk dalam orang-orang yang mudah takabur karena harta, angkuh karena harta, sok karena harta, pelit karena harta. Jangan takut harta akan habis, selagi kita menggunakannya dengan bijaksana. Nikmati dan manfaatkanlah harta. Nikmati hasil jernih payahmu, bermanfaat bagi dirimu dan juga orang di sekitarmu.

Terakhir,
"Berhati-hatilah dengan hartamu,"