Kalo ini sih hasil konsep absurd sebelum tidur.
First of all, entah kenapa pengen bilang "Aku kangen kamu, Riadi"
*skip*
Sebagai manusia yang hobinya mengeluh tiap hari, selalu ada saja kata-kata umpatan yg keluar dari mulut ataupun hanya terucap dalam hati saja.
Aku lupa kapan terakhir aku mengucapkannya, atau pada siapa terakhir aku mengucapkannya.
"Ketika Papa pergi, sembilan per sepuluh dari diriku ikut pergi. Jadi sebenarnya aku ini hanya mayat hidup. Mayat yang seakan-akan hidup, atau manusia hidup yang sebenarnya mati"
Ah, Dhita lebay.
Ya.
Tidak.
Bisa jadi.
*maaf, anda gagal mendapatkan uang tunai senilai dua juta rupiah. Terima kasih*
Aku tidak tahu bagaimana caranya merangkai kata agar terlihat agamis. Aku percaya pada Tuhanku. Aku sangat yakin kepada-Nya. Aku yakin Dia menjaga Papaku disana. Dia masih menjaga dekatnya jarak antara aku dengan Papa.
Aku tidak pernah bermaksud berpaling dari Tuhan. Tapi di saat aku frustrasi, yg aku ingat pertama kali adalah Papa. Entah mengapa wajah tampannya itu mampu mengusap hilang raut kecemasan di wajahku. Semakin lama semakin dalam. Seakan-akan Papa membisikkan sesuatu kepadaku, "Kamu kuat, Nak" atau "Sabar, Nak"
Aku akui, aku sering lemah iman jika mengingat Papa. Betapa aku selalu ingin berada di dekatnya. Aku tidak sedang menantang maut, tapi aku sangat ingin berkumpul lagi dengan Papa.
Aku tidak mau munafik, tanpanya, AKU HANYA MAYAT HIDUP!
Katakanlah aku ini adalah seorang ratu drama!
Aku sanggup kehilangan seluruh dunia, asalkan aku masih memiliki Papa.
Pria gagah sumber kekuatanku selama ia tinggal pergi, hanya tergiang dalam imaji belaka.
Papa, aku kangen...
Sunday, 8 February 2015
Saturday, 24 January 2015
Aku yang (sudah) Bosan
24 Januari 2015, 16:30
Aku masih duduk manis di depan komputer, tepatnya di meja kerjaku. Sambil menunggu jam pulang (padahal meja masih berserakan akan kertas-kertas laporan yang berhasil membuatku pusing), aku beranjak berselancar untuk ngeblog (secara colongan).
Sabtu, akhir pekan ini alhamdulillah kulalui dengan baik. Sangat minim masalah. Sungguh hati ini seakan tak berhenti bersyukur. Karena hari-hari sebelumnya dalam minggu membuat kepalaku terasa berat akan beban-beban pekerjaan yang harus aku selesaikan.
Iseng-iseng buka twitter, masih saja kutemukan beberapa twit teman-temanku (yang tak mau kusebutkan namanya) masih saja merutuki kisah cintanya yang tragis dari berbagai sisi. Entah harus merasa geli atau bagaimana, aku hanya menggelengkan kepala.
Aku masih ingat saat aku merasakan ada mendung kelabu di hatiku, kala itu. Aku tidak bisa menyebutnya jatuh cinta. Karena ia masih belum bisa membuatku menangis tersedu-sedu hingga menghabiskan stock tissue di rumah maupun di meja kerjaku. Aku merasa ini adalah perasaan sesaat yang menimbulkan kehampaan lagi. Tidak seperti saat aku masih SMA, kuakui kala itu aku sedang jatuh cinta. Tapi yang ini tidak.
Tiba-tiba di kepalaku seperti ada banyak malaikat kecil bersayap mungil memberikan kesejukan. Sebuah pencerahan dari Yang Maha Kuasa, bahwa ternyata definisi cinta tidak sesempit mencintai seorang laki-laki dan berkeinginan untuk memilikinya. Cinta itu alangkah luas jangkauan pembahasannya. Dan sangat tidak mungkin aku jabarkan disini, mengingat jam pulang kerja akan tiba dalam waktu 22 menit lagi.
Aku sampai menyadari, ternyata hatiku memang sangat keras. Sulit untuk dilunakkan. Bagaikan daging sapi yang dimasukkan ke dalam freezer. Direbus dalam air panas selama sejam pun, belum tentu menjadi lunak. Aku perlu air nanas. Tapi aku belum menemukan siapakah si air nanas itu.
Yah, kalau saja sewaktu SMA cintaku tak bertepuk sebelah tangan, mungkin dialah air nanasnya.
Tapi sudahlah, lupakan... Aku sudah melangkah maju.
Aku sudah tidak ingin lagi. Tidak lagi. Tidak ingin lagi menyiksa diri sendiri dengan perasaan yang tidak jelas asal-usulnya, tidak jelas penggambarannya, tidak jelas mau dibawa kemana. Aku sudah terlalu kasian pada diriku sendiri yang selama ini ternyata pun juga menyiksa orang lain..
"Kamu ini PHP. Tingkah laku seperti suka, tapi hanya kamu bawa sampai tingkat pertemanan saja; friend zone!"
Ketika aku merasa kebingungan dan tersiksa, ternyata ada satu kunci untuk menyelesaikannya; BATASI!
Dengan memberikan batas, aku tahu, sampai kemana saja aku harus memikirkannya. Dan itu pula yang membawaku pada batas kewajaran sehingga aku tidak lagi kelihatan edan.
"Mbak, anake sampeyan kuwi ra dilamar a karo wong lanang, sopoooo ngunu? (Mbak, anak kamu itu nggak dilamar seorang lelaki, siapaaaa gitu?)" tanya seorang teman Mamaku.
"Duh, anakku kuwi ra arep lanangan. Ra mikiri lanang blas! (Duh, anakku itu nggak mau pacaran. Nggak mikirin cowok sama sekali!)" jawab Mamaku.
Sebenarnya tidak seburuk itu.....
Aku hanya belum menemukan air nanas yang tepat.
Dan bukan berarti aku menutup pintu hati. Tapi untuk saat ini, apa ya?
Ah, nanti saja. Pekerjaanku masih numpuk, tiap hari diomelin atasan, pusing dengan report-report yang masih banyak tidak karuannya, revisi ini itu, update report tiap minggu, 10 jam di depan komputer dan bla bla bla.
Semoga saja umur ini panjang... Aamiin..
Aku masih duduk manis di depan komputer, tepatnya di meja kerjaku. Sambil menunggu jam pulang (padahal meja masih berserakan akan kertas-kertas laporan yang berhasil membuatku pusing), aku beranjak berselancar untuk ngeblog (secara colongan).
Sabtu, akhir pekan ini alhamdulillah kulalui dengan baik. Sangat minim masalah. Sungguh hati ini seakan tak berhenti bersyukur. Karena hari-hari sebelumnya dalam minggu membuat kepalaku terasa berat akan beban-beban pekerjaan yang harus aku selesaikan.
Iseng-iseng buka twitter, masih saja kutemukan beberapa twit teman-temanku (yang tak mau kusebutkan namanya) masih saja merutuki kisah cintanya yang tragis dari berbagai sisi. Entah harus merasa geli atau bagaimana, aku hanya menggelengkan kepala.
Aku masih ingat saat aku merasakan ada mendung kelabu di hatiku, kala itu. Aku tidak bisa menyebutnya jatuh cinta. Karena ia masih belum bisa membuatku menangis tersedu-sedu hingga menghabiskan stock tissue di rumah maupun di meja kerjaku. Aku merasa ini adalah perasaan sesaat yang menimbulkan kehampaan lagi. Tidak seperti saat aku masih SMA, kuakui kala itu aku sedang jatuh cinta. Tapi yang ini tidak.
Tiba-tiba di kepalaku seperti ada banyak malaikat kecil bersayap mungil memberikan kesejukan. Sebuah pencerahan dari Yang Maha Kuasa, bahwa ternyata definisi cinta tidak sesempit mencintai seorang laki-laki dan berkeinginan untuk memilikinya. Cinta itu alangkah luas jangkauan pembahasannya. Dan sangat tidak mungkin aku jabarkan disini, mengingat jam pulang kerja akan tiba dalam waktu 22 menit lagi.
Aku sampai menyadari, ternyata hatiku memang sangat keras. Sulit untuk dilunakkan. Bagaikan daging sapi yang dimasukkan ke dalam freezer. Direbus dalam air panas selama sejam pun, belum tentu menjadi lunak. Aku perlu air nanas. Tapi aku belum menemukan siapakah si air nanas itu.
Yah, kalau saja sewaktu SMA cintaku tak bertepuk sebelah tangan, mungkin dialah air nanasnya.
Tapi sudahlah, lupakan... Aku sudah melangkah maju.
Aku sudah tidak ingin lagi. Tidak lagi. Tidak ingin lagi menyiksa diri sendiri dengan perasaan yang tidak jelas asal-usulnya, tidak jelas penggambarannya, tidak jelas mau dibawa kemana. Aku sudah terlalu kasian pada diriku sendiri yang selama ini ternyata pun juga menyiksa orang lain..
"Kamu ini PHP. Tingkah laku seperti suka, tapi hanya kamu bawa sampai tingkat pertemanan saja; friend zone!"
Ketika aku merasa kebingungan dan tersiksa, ternyata ada satu kunci untuk menyelesaikannya; BATASI!
Dengan memberikan batas, aku tahu, sampai kemana saja aku harus memikirkannya. Dan itu pula yang membawaku pada batas kewajaran sehingga aku tidak lagi kelihatan edan.
"Mbak, anake sampeyan kuwi ra dilamar a karo wong lanang, sopoooo ngunu? (Mbak, anak kamu itu nggak dilamar seorang lelaki, siapaaaa gitu?)" tanya seorang teman Mamaku.
"Duh, anakku kuwi ra arep lanangan. Ra mikiri lanang blas! (Duh, anakku itu nggak mau pacaran. Nggak mikirin cowok sama sekali!)" jawab Mamaku.
Sebenarnya tidak seburuk itu.....
Aku hanya belum menemukan air nanas yang tepat.
Dan bukan berarti aku menutup pintu hati. Tapi untuk saat ini, apa ya?
Ah, nanti saja. Pekerjaanku masih numpuk, tiap hari diomelin atasan, pusing dengan report-report yang masih banyak tidak karuannya, revisi ini itu, update report tiap minggu, 10 jam di depan komputer dan bla bla bla.
Semoga saja umur ini panjang... Aamiin..
Subscribe to:
Posts (Atom)