'Ndiiieeel!!!
Cepat sini! Cepat keluar! Lihat, siapa yang datang!' seru mama dari luar rumah
terdengar sangat antusias. Aku masih malas bangun. Tapi teriakan Mama yang
menggelegar itu memaksaku untuk turun dari ranjang empukku. Aku keluar rumah
dengan langkah gontai karena masih mengantuk.
Aku
segera keluar rumah dan melihat siapa yang datang. Tahu siapa? Sosok pria
gagah, tegap, tampan dan berkacamata yang sangat aku cintai: Papa.
‘PAPA!!!’
jeritku sambil berlari ke arahnya kemudian memeluknya erat. Bagaimana aku tidak
bahagia? Sosok ayah yang kuingat sudah meninggal 3 tahun lalu itu sekarang
sedang mendekapku erat.
‘Papa
kemana aja selama ini? Aku kangen, Pa!’ tanyaku pada Papa. Namun Papa hanya
diam.
‘Sudah,
ayo, Pa, masuk,’ ajak Mama untuk masuk ke rumah peninggalan Papa yang sampai
sekarang masih kami huni.
‘Papa
kesini tidak sendirian,’ katanya sebelum masuk ke dalam rumah.
‘Sama
siapa, Pa?’ tanyaku.
Kemudian
Papa mendongakkan kepalanya kea rah ujung gang rumah kami. Ia memanggil
seseorang, ‘Sini, Ndiel!’
Hah?
Ndiel? Itu kan sapaan sayang keluargaku padaku. Namaku memang Dhita, tapi entah
kenapa seluruh keluargaku memanggilku dengan nama singkat ‘Ndiel’ sedari dulu.
Lalu Ndiel yang Papa panggil ini Ndiel siapa? Ndiel yang mana?’
Kemudian
seorang gadis cantik berambut pendek dan memakai bando berwarna senada dengan
roknya, coklat muda, berjalan ke arah Papa.
‘Dia
siapa, Pa?’ tanyaku.
‘Masa
kamu tidak tahu? Ini Dilla, adik kembar kamu,’ jelas Papa yang kemudian
mengusap lembut rambut gadis di sebelahnya itu.
Dahiku
mengerut. Sejak kapan aku punya saudara kembar?
***
‘Waktu
Mama hamil dulu, sebenarnya ada dua bayi dalam perut Mama. Tapi Dilla
menghilang di ruang bayi rumah sakit. Mama tidak tahu kalau Mama melahirkan dua
bayi. Jadi Mama tidak tahu kalau anaknya kembar,’ jelas Papa setelah kami masuk
ke dalam rumah dan berbincang di ruang tamu.
‘Bagaimana
bisa menghilang? Apa Papa tahu kalau ada Dilla?’ tanyaku.
‘Tahu.
Papa memberikan Dilla pada teman Papa yang sudah lama tidak punya anak,’ jawab
Papa
‘Kenapa
Papa nggak kasih tau kami?’ tanyaku antusias. Tapi Papa tidak menjawab Papa
hanya tersenyum
Aku melihat ke arah Dilla dengan tatapan mata
yang dalam. Aku sendiri tidak tahu, apa aku bisa menerima kehadiran Dilla yang
sudah hamper 20 tahun terpisah dariku. Dilla yang menyadari aku melihatnya, pun
tersenyum manis padaku. Aku hanya membalasnya dengan senyuman getir.
***
Ah, Dilla didaftarkan di sekolahku. Hari ini
aku berangkat dengannya. Tentu saja Papa yang mengantar kami. Aku sangat suka
diantar Papa. Sedari kecil aku memang sangat dimanja Papa. Rasanya kasih
sayangnya tak pernah terbelah untukku meskipun aku punya satu adik laki-laki.
Tapi entah apa yang akan terjadi dengan kehadiran Dilla. Mungkinkah kasih
sayang Papa akan terbagi? Hmmm…
Sesampainya aku dan Dilla di sekolah, kami
tidak langsung masuk kelas. Aku harus melakukan absensi dulu atau yang beken
disebut finger print.
‘Mbak, kapan aku mulai bisa finger print?’ Tanya Dilla yang sedari
tadi berjalan di belakangku.
‘Ya nanti, kalo udah didata sama gurunya,’.
Dilla hanya mengangguk.
Kemudian aku mengajak Dilla duduk di bangku
sebelah mesin absensi. Ini masih pukul 06.00 pagi. Masih terlalu pagi untuk
berangkat ke sekolah. Tapi sedari dulu aku memang suka berangkat pagi. Aku dan
Dilla hanya diam. Aku juga tidak punya topik perbincangan yang biasa
diperbincangkan anak kembar. Aku tidak mau tahu banyak tentang Dilla. Entah
kenapa, rasanya aku langsung antipasti padanya.
Selang 15 menit kemudian, sahabatku –yang juga
teman sebangkuku-, Yoga, datang menghampiri mesin absensi kemudian
menghampiriku dan Dilla. Tapi sebelum Yoga mendekatiku, langkahnya terhenti.
Pasti ia bingung, kenapa Dhita ada dua?
‘Hayoo, mana yang manusia, mana yang
penampakan?’ godaku kepada Yoga. Mukanya memucat. Mungkin ia menyangka bahwa
aku serius tentang penampakan makhluk astral di sebelah kananku.
Dilla tertawa kecil.
‘K…Kk… Kok?’ katanya terbata-bata sambil
menunjuk ke arahku dan Dilla.
‘Ini adik kembarku, Dilla. Baru datang kemarin
dari Bogor. Kaget kan? Aku aja yang ternyata kembarannya kaget, apalagi kamu,’
Yoga mulai berjalan mendekati kami. Ia baru
yakin bahwa Dilla adalah manusia. Aku berkerudung, sedangkan Dilla tidak.
Seragam yang ia kenakan masih bukan seragam sekolahku.
‘Sejak kapan kamu punya saudara kembar?’
introgasi Yoga.
‘Sejak lahir. Tapi tahunya baru 2 hari yang
lalu,’ jawabku malas. Sepertinya Yoga bisa membaca raut mukaku. Ia hanya
tersenyum kecut.
‘Aku ke kelas dulu ya,’ sahut Yoga kemudian
meninggalkan kami.
***
Bel pulang berbunyi. Kutunggu Papa di trotoar
depan sekolah, tapi tak kunjung muncul juga. Sudah ku-sms, sudah kutelepon,
tapi tidak ada respon. Papa kemana? Pikiranku sudah kemana-mana. Aku takut Papa
pergi lagi.
‘Hai,’
‘Mbak, disapa, tuh,’ tegur Dillah menepuk
lenganku. Saking brutalnya lamunanku, aku sampai tidak sadar bahwa Ray, cowok
yang aku sukai, ada di depanku dengan sepeda motornya.
‘Hah? Ya, Ray?’
‘Eeeerrrr,’ gumam Ray sambil memandangku dan
Dilla berhantian.
Jangan
sampai Ray jatuh hati pada Dilla. Aku tidak terima! Jeritku dalam hati
‘Ini Dilla, adik kembarku. Baru balik dari
Bogor kemarin,’ jelasku sok riang.
Ingin sekali
kusepak saja si Dilla. Ya Tuhan…
‘Oh, begitu ya. Nanti sore e-mailnya aku kirim
ya,’ katanya sebelum tancap gas meninggalkanku.
‘Itu siapa, Mbak?’
‘Kenapa emangnya? Kamu suka?’
‘Nggak terlalu ganteng sih, tapi kelihatannya
dia punya kharisma tersendiri,’ jawabnya sambil tersenyum.
‘Berani kamu naksir dia, aku tendang kamu!’
sergahku. ‘Kita naik angkot aja, deh, Dil!’ kataku sambil menarik tangannya
menyeberang jalan.
Di dalam angkot, kami menjadi bahan tontonan
penumpang seangkot. Kembar tapi beda seragam. Aku memilih untuk bungkam.
Sedangkan Dilla sibuk dengan ponselnya.
‘Mbak, disini enak ya, sepi. Di Bogor, mah, sering macet,’ katanya membuka
topic.
‘Iya,’ jawabku singkat.
‘Di Bogor aku nyaris nggak punya teman, Mbak.
Teman sekelasku pun Cuma sekedar teman sekelas. Nggak ada yang namanya teman
dekat atau sahabat. Makanya aku minta pulang kesini,’jelasnya yang membuatku
mulai tertarik dengan curhatannya.
‘Kenapa bisa gitu?’
‘Nggak tahu. Karena aku terlalu pendiam,
mungkin?’ jawabnya dengan muka polos. Aku hanya menganggukkan kepala.
‘Untungnya aku kenal Kak Steve,’
‘Siapa?’ Tanyaku sambil menoleh mencari
wajahnya.
‘Steve,’
‘Steve?’
‘Iya, Steve. Stefanus. Mantan pacar Mbak yang
sekarang kuliah di Binus itu,’ jawabnya tidak kalah polos. ‘Papa ngenalin aku
ke Kak Steve. Dia bilang, dia mantannya Mbak Dhita. Katanya dia susah move on
dari Mbak sejak Mbak mutusin dia gara-gara Mbak bosen LDR-an, terus Mbak juga
suka sama cowok lain,’
Aku mencubit pahanya dan dia menjerit kecil.
‘Kalo nggosip itu nggak usah keras-keras!’ kataku dengan suara pelan.
‘Nggak ngegosip kok, Mbak,’ rintihnya sambil
mengelus pahanya yang kucubit.
‘Terus Steve cerita apalagi sama kamu?’
‘Kak Steve bilang kalo Mbak udah nggak mau
balikan lagi sama dia meskipun dia maksa-maksa kayak mau ngajak kawin lari,’
jawabnya dengan muka mirip anak kecil.
Tuhan,
kenapa adik kembarku seperti ini?
‘LDR-an itu nggak enak tau! Aku udah capek.
Lagian setelah putus dari aku dia sempat 2 kali pacaran. Waktu kelas 3 SMA sama
Marylin, terus waktu semester 2 kuliah sama yang namanya Tamara. Udah itu aja
yang aku tau,’
‘Cowok keren kayak Kak Steve kok dibuang sih,
Mbak?’ timpalnya. Aku mendelik tajam ke arah mukanya dan berhasil membuatnya
takut.
‘Aku suka sama cowok itu nggak sekedar dari
fisik! Kalo aku udah nggak suka, emang mau dipaksa?’ bantahku.
‘Emang cowok yang Mbak suka itu yang mana?’
‘Ray,’ jawabku jujur. Sekalian sih, upaya
pencegahan Dilla suka sama Ray juga.
‘Eh, Ray sama Kak Steve jauh, ya! Bagusan Kak
Steve!’ responnya bersemangat.
‘Kalo gitu, kenapa kamu nggak pacaran aja sama
Steve? Muka kita kan seiras. Nggak salah kok kalo dia macarin kembaranku. Aku
nggak keberatan,’
‘Kalo aku pacaran sama Kak Steve tapi Mbak nggak
bisa dapetin Ray, pasti Mbak keberatan banget, kan?’ timpalnya. Sial!
Aku hanya diam. Dilla benar-benar menyebalkan!
***
‘Surprise! Lihat, Papa beli tas kembar buat
kalian,’ kata Papa sambil menunjukkan dua buah tas Tweety berwarna kuning.
Dilla girang bukan kepalang. Sedangkan aku ingin muntah.
Kuning? Sejak kapan aku suka warna kuning?
Yang Papa tahu, aku hanya suka warna merah muda. Meskipun aku ngotot ngomong ke
Papa kalo aku lebih suka warna hijau, Papa pun ngotot membelikanku
barang-barang serba merah muda.
‘Besok kalian pakai ke sekolah, ya,’. Sahut
papa sambil tersenyum. Aku terbelalak. Itu saja.
***
‘Cieee, Dhita tasnya pasaran! Hahaha,’ ejek
Yoga. Aku duduk di sebelah Yoga dengan muka manyun.
‘Lho? Yoga kok duduk disini?’ Tanya Dilla. Aku
menepuk dahiku. Aku lupa kalau Dilla belum punya tempat duduk. Kemarin, ia
belum sempat masuk kelas karena proses pendaftaran siswa pindahan.
‘Aku memang duduk sebangku sama Dhita,’ jawab
Yoga.
‘Kamu duduk situ aja, ada bangku kosong
sebelah Prima. Nanti biar aku yang bilang ke Prima,’ kataku santai.
‘Ebuset, Dhit, halus dikit napa ke kembaran
sendiri,’ tegur Yoga sambil berbisik.
‘Dia itu ngeselin banget, Ce. Semenjak
kedatangannya, semuanya serba berubah! Semua ini terlalu mirip sinetron!
Tiba-tiba Papaku datang bawa dia. Aneh kan?’ keluhku bertubi-tubi pada Yoga.
Yoga mencubit lenganku. Aaww!!!
‘Kali aja kamu Cuma mimpi, hahaha,’ jawab
Yoga.
***
Aku terbangun dari tidurku pukul setengah
empat pagi. Kudengar Pakdheku yang juga sebagai abdi masjid setelah pensiun itu
membuka pagar masjid. Adzan subuh belum berkumandang. Kutarik selimutku untuk
melanjutkan tidur. Sejenak aku menoleh ke arah kiriku. Dilla masih tertidur
pulas. Kemudian aku mulai tidur lagi.
***
Langkahku terhenti di ujung koridor menuju
kelasku. Aku terpaku melihat Ray berbincang dengan Dilla. Aku yakin itu Dilla!
Ia belum memakai seragam yang sama denganku. Itu pasti Dilla!
Aku berlari menghampiri Dilla dan Ray,
kemudian menampar muka Dilla dengan keras.
‘Mbak?’ Dilla memegang pipinya yang sakit dan
memerah. Aku tidak peduli. Aku sangat marah. Beraninya dia mendekati Ray. Aku
tidak suka!
‘Ray Cuma Tanya-tanya sedikit, Mbak. Mbak
Dhita jangan marah,’ katanya dengan mata berkaca-kaca.
‘Aku benci sama kamu, Dil! Aku nggak suka kamu
disini! Sana! Kembali ke Bogor! Aku nggak punya kembaran kayak kamu!’ sentakku
dengan penuh murka.
Dilla menangis. Ia terpukul dengan
kalimat-kalimat jahatku. Ray pun hanya menggelengkan kepala melihat sikapku.
Dilla berlari berlalu.
***
‘PAPA!!!!’ teriakku di depan rumah memanggil
Papa. Aku ingin Papa mengembalikan Dilla ke habitat asalnya.
‘Kamu cari siapa, Nduk?’ Tanya Mama.
‘Cari Papa. Papa mana? Aku mau Dilla balik ke
Bogor! Aku nggak mau tahu!’
‘Nak, kamu ngomong apa? Papa kan sudah
meninggal. Terus siapa itu Dilla?’ Tanya Mama heran.
Aku bingung. Apa yang terjadi tadi?
***
‘Ndiel, bangun. Sudah jam 5,’
Kudengar suara Mama membangunkanku. Kubuka mataku
yang terasa berat itu. Tiba-tiba aku ingat sesuatu. Kutengok sebelah kiriku dan
yang ada hanya sebuah guling cokelat. Kemana Dilla?
Kususul Mama di ruang tengah. Ia sedang
mengeringkan rambutnya menggunakan hair
dryer. Aku masih bingung. Itu tadi mimpi atau nyata? Aku benar-benar
melihat ada gadis tengah tidur disampingku semalam.
Kuceritakan semua tentang mimpiku pada Mama. Tumben
sekali, Mama mendengarkan cerita mimpiku dengan seksama. Mungkin karena aku
bercerita dengan suara lirih dan muka yang memelas.
‘Ma, kira-kira Dilla itu pernah ada nggak sih?’
tanyaku dengan muka polos.
‘Duh, Ndiel. Mama hamil kamu itu 10 bulan. Satu
jabang bayi aja udah nyusahin, apalagi dua,’ celoteh Mama sambil tertawa.
‘Mungkin aja 10 bulan itu karena isinya ada
dua ma,’ timpalku. Tawa mama makin keras.
Pa, andai
Papa bisa pulang…