Friday, 30 May 2014

Papa dan Dilla; Mimpi atau Sinetron?

'Ndiiieeel!!! Cepat sini! Cepat keluar! Lihat, siapa yang datang!' seru mama dari luar rumah terdengar sangat antusias. Aku masih malas bangun. Tapi teriakan Mama yang menggelegar itu memaksaku untuk turun dari ranjang empukku. Aku keluar rumah dengan langkah gontai karena masih mengantuk.
Aku segera keluar rumah dan melihat siapa yang datang. Tahu siapa? Sosok pria gagah, tegap, tampan dan berkacamata yang sangat aku cintai: Papa.
‘PAPA!!!’ jeritku sambil berlari ke arahnya kemudian memeluknya erat. Bagaimana aku tidak bahagia? Sosok ayah yang kuingat sudah meninggal 3 tahun lalu itu sekarang sedang mendekapku erat.
‘Papa kemana aja selama ini? Aku kangen, Pa!’ tanyaku pada Papa. Namun Papa hanya diam.
‘Sudah, ayo, Pa, masuk,’ ajak Mama untuk masuk ke rumah peninggalan Papa yang sampai sekarang masih kami huni.
‘Papa kesini tidak sendirian,’ katanya sebelum masuk ke dalam rumah.
‘Sama siapa, Pa?’ tanyaku.
Kemudian Papa mendongakkan kepalanya kea rah ujung gang rumah kami. Ia memanggil seseorang, ‘Sini, Ndiel!’
Hah? Ndiel? Itu kan sapaan sayang keluargaku padaku. Namaku memang Dhita, tapi entah kenapa seluruh keluargaku memanggilku dengan nama singkat ‘Ndiel’ sedari dulu. Lalu Ndiel yang Papa panggil ini Ndiel siapa? Ndiel yang mana?’
Kemudian seorang gadis cantik berambut pendek dan memakai bando berwarna senada dengan roknya, coklat muda, berjalan ke arah Papa.
‘Dia siapa, Pa?’ tanyaku.
‘Masa kamu tidak tahu? Ini Dilla, adik kembar kamu,’ jelas Papa yang kemudian mengusap lembut rambut gadis di sebelahnya itu.
Dahiku mengerut. Sejak kapan aku punya saudara kembar?

***

‘Waktu Mama hamil dulu, sebenarnya ada dua bayi dalam perut Mama. Tapi Dilla menghilang di ruang bayi rumah sakit. Mama tidak tahu kalau Mama melahirkan dua bayi. Jadi Mama tidak tahu kalau anaknya kembar,’ jelas Papa setelah kami masuk ke dalam rumah dan berbincang di ruang tamu.
‘Bagaimana bisa menghilang? Apa Papa tahu kalau ada Dilla?’ tanyaku.
‘Tahu. Papa memberikan Dilla pada teman Papa yang sudah lama tidak punya anak,’ jawab Papa
‘Kenapa Papa nggak kasih tau kami?’ tanyaku antusias. Tapi Papa tidak menjawab Papa hanya tersenyum
Aku melihat ke arah Dilla dengan tatapan mata yang dalam. Aku sendiri tidak tahu, apa aku bisa menerima kehadiran Dilla yang sudah hamper 20 tahun terpisah dariku. Dilla yang menyadari aku melihatnya, pun tersenyum manis padaku. Aku hanya membalasnya dengan senyuman getir.
***
Ah, Dilla didaftarkan di sekolahku. Hari ini aku berangkat dengannya. Tentu saja Papa yang mengantar kami. Aku sangat suka diantar Papa. Sedari kecil aku memang sangat dimanja Papa. Rasanya kasih sayangnya tak pernah terbelah untukku meskipun aku punya satu adik laki-laki. Tapi entah apa yang akan terjadi dengan kehadiran Dilla. Mungkinkah kasih sayang Papa akan terbagi? Hmmm…
Sesampainya aku dan Dilla di sekolah, kami tidak langsung masuk kelas. Aku harus melakukan absensi dulu atau yang beken disebut finger print.
‘Mbak, kapan aku mulai bisa finger print?’ Tanya Dilla yang sedari tadi berjalan di belakangku.
‘Ya nanti, kalo udah didata sama gurunya,’. Dilla hanya mengangguk.
Kemudian aku mengajak Dilla duduk di bangku sebelah mesin absensi. Ini masih pukul 06.00 pagi. Masih terlalu pagi untuk berangkat ke sekolah. Tapi sedari dulu aku memang suka berangkat pagi. Aku dan Dilla hanya diam. Aku juga tidak punya topik perbincangan yang biasa diperbincangkan anak kembar. Aku tidak mau tahu banyak tentang Dilla. Entah kenapa, rasanya aku langsung antipasti padanya.
Selang 15 menit kemudian, sahabatku –yang juga teman sebangkuku-, Yoga, datang menghampiri mesin absensi kemudian menghampiriku dan Dilla. Tapi sebelum Yoga mendekatiku, langkahnya terhenti. Pasti ia bingung, kenapa Dhita ada dua?
‘Hayoo, mana yang manusia, mana yang penampakan?’ godaku kepada Yoga. Mukanya memucat. Mungkin ia menyangka bahwa aku serius tentang penampakan makhluk astral di sebelah kananku.
Dilla tertawa kecil.
‘K…Kk… Kok?’ katanya terbata-bata sambil menunjuk ke arahku dan Dilla.
‘Ini adik kembarku, Dilla. Baru datang kemarin dari Bogor. Kaget kan? Aku aja yang ternyata kembarannya kaget, apalagi kamu,’
Yoga mulai berjalan mendekati kami. Ia baru yakin bahwa Dilla adalah manusia. Aku berkerudung, sedangkan Dilla tidak. Seragam yang ia kenakan masih bukan seragam sekolahku.
‘Sejak kapan kamu punya saudara kembar?’ introgasi Yoga.
‘Sejak lahir. Tapi tahunya baru 2 hari yang lalu,’ jawabku malas. Sepertinya Yoga bisa membaca raut mukaku. Ia hanya tersenyum kecut.
‘Aku ke kelas dulu ya,’ sahut Yoga kemudian meninggalkan kami.
***
Bel pulang berbunyi. Kutunggu Papa di trotoar depan sekolah, tapi tak kunjung muncul juga. Sudah ku-sms, sudah kutelepon, tapi tidak ada respon. Papa kemana? Pikiranku sudah kemana-mana. Aku takut Papa pergi lagi.
‘Hai,’
‘Mbak, disapa, tuh,’ tegur Dillah menepuk lenganku. Saking brutalnya lamunanku, aku sampai tidak sadar bahwa Ray, cowok yang aku sukai, ada di depanku dengan sepeda motornya.
‘Hah? Ya, Ray?’
‘Eeeerrrr,’ gumam Ray sambil memandangku dan Dilla berhantian.
Jangan sampai Ray jatuh hati pada Dilla. Aku tidak terima! Jeritku dalam hati
‘Ini Dilla, adik kembarku. Baru balik dari Bogor kemarin,’ jelasku sok riang.
Ingin sekali kusepak saja si Dilla. Ya Tuhan…
‘Oh, begitu ya. Nanti sore e-mailnya aku kirim ya,’ katanya sebelum tancap gas meninggalkanku.
‘Itu siapa, Mbak?’
‘Kenapa emangnya? Kamu suka?’
‘Nggak terlalu ganteng sih, tapi kelihatannya dia punya kharisma tersendiri,’ jawabnya sambil tersenyum.
‘Berani kamu naksir dia, aku tendang kamu!’ sergahku. ‘Kita naik angkot aja, deh, Dil!’ kataku sambil menarik tangannya menyeberang jalan.
Di dalam angkot, kami menjadi bahan tontonan penumpang seangkot. Kembar tapi beda seragam. Aku memilih untuk bungkam. Sedangkan Dilla sibuk dengan ponselnya.
‘Mbak, disini enak ya, sepi. Di Bogor, mah, sering macet,’ katanya membuka topic.
‘Iya,’ jawabku singkat.
‘Di Bogor aku nyaris nggak punya teman, Mbak. Teman sekelasku pun Cuma sekedar teman sekelas. Nggak ada yang namanya teman dekat atau sahabat. Makanya aku minta pulang kesini,’jelasnya yang membuatku mulai tertarik dengan curhatannya.
‘Kenapa bisa gitu?’
‘Nggak tahu. Karena aku terlalu pendiam, mungkin?’ jawabnya dengan muka polos. Aku hanya menganggukkan kepala. ‘Untungnya aku kenal Kak Steve,’
‘Siapa?’ Tanyaku sambil menoleh mencari wajahnya.
‘Steve,’
‘Steve?’
‘Iya, Steve. Stefanus. Mantan pacar Mbak yang sekarang kuliah di Binus itu,’ jawabnya tidak kalah polos. ‘Papa ngenalin aku ke Kak Steve. Dia bilang, dia mantannya Mbak Dhita. Katanya dia susah move on dari Mbak sejak Mbak mutusin dia gara-gara Mbak bosen LDR-an, terus Mbak juga suka sama cowok lain,’
Aku mencubit pahanya dan dia menjerit kecil. ‘Kalo nggosip itu nggak usah keras-keras!’ kataku dengan suara pelan.
‘Nggak ngegosip kok, Mbak,’ rintihnya sambil mengelus pahanya yang kucubit.
‘Terus Steve cerita apalagi sama kamu?’
‘Kak Steve bilang kalo Mbak udah nggak mau balikan lagi sama dia meskipun dia maksa-maksa kayak mau ngajak kawin lari,’ jawabnya dengan muka mirip anak kecil.
Tuhan, kenapa adik kembarku seperti ini?
‘LDR-an itu nggak enak tau! Aku udah capek. Lagian setelah putus dari aku dia sempat 2 kali pacaran. Waktu kelas 3 SMA sama Marylin, terus waktu semester 2 kuliah sama yang namanya Tamara. Udah itu aja yang aku tau,’
‘Cowok keren kayak Kak Steve kok dibuang sih, Mbak?’ timpalnya. Aku mendelik tajam ke arah mukanya dan berhasil membuatnya takut.
‘Aku suka sama cowok itu nggak sekedar dari fisik! Kalo aku udah nggak suka, emang mau dipaksa?’ bantahku.
‘Emang cowok yang Mbak suka itu yang mana?’
‘Ray,’ jawabku jujur. Sekalian sih, upaya pencegahan Dilla suka sama Ray juga.
‘Eh, Ray sama Kak Steve jauh, ya! Bagusan Kak Steve!’ responnya bersemangat.
‘Kalo gitu, kenapa kamu nggak pacaran aja sama Steve? Muka kita kan seiras. Nggak salah kok kalo dia macarin kembaranku. Aku nggak keberatan,’
‘Kalo aku pacaran sama Kak Steve tapi Mbak nggak bisa dapetin Ray, pasti Mbak keberatan banget, kan?’ timpalnya. Sial!
Aku hanya diam. Dilla benar-benar menyebalkan!
***
‘Surprise! Lihat, Papa beli tas kembar buat kalian,’ kata Papa sambil menunjukkan dua buah tas Tweety berwarna kuning. Dilla girang bukan kepalang. Sedangkan aku ingin muntah.
Kuning? Sejak kapan aku suka warna kuning? Yang Papa tahu, aku hanya suka warna merah muda. Meskipun aku ngotot ngomong ke Papa kalo aku lebih suka warna hijau, Papa pun ngotot membelikanku barang-barang serba merah muda.
‘Besok kalian pakai ke sekolah, ya,’. Sahut papa sambil tersenyum. Aku terbelalak. Itu saja.
***
‘Cieee, Dhita tasnya pasaran! Hahaha,’ ejek Yoga. Aku duduk di sebelah Yoga dengan muka manyun.
‘Lho? Yoga kok duduk disini?’ Tanya Dilla. Aku menepuk dahiku. Aku lupa kalau Dilla belum punya tempat duduk. Kemarin, ia belum sempat masuk kelas karena proses pendaftaran siswa pindahan.
‘Aku memang duduk sebangku sama Dhita,’ jawab Yoga.
‘Kamu duduk situ aja, ada bangku kosong sebelah Prima. Nanti biar aku yang bilang ke Prima,’ kataku santai.
‘Ebuset, Dhit, halus dikit napa ke kembaran sendiri,’ tegur Yoga sambil berbisik.
‘Dia itu ngeselin banget, Ce. Semenjak kedatangannya, semuanya serba berubah! Semua ini terlalu mirip sinetron! Tiba-tiba Papaku datang bawa dia. Aneh kan?’ keluhku bertubi-tubi pada Yoga.
Yoga mencubit lenganku. Aaww!!!
‘Kali aja kamu Cuma mimpi, hahaha,’ jawab Yoga.
***
Aku terbangun dari tidurku pukul setengah empat pagi. Kudengar Pakdheku yang juga sebagai abdi masjid setelah pensiun itu membuka pagar masjid. Adzan subuh belum berkumandang. Kutarik selimutku untuk melanjutkan tidur. Sejenak aku menoleh ke arah kiriku. Dilla masih tertidur pulas. Kemudian aku mulai tidur lagi.
***
Langkahku terhenti di ujung koridor menuju kelasku. Aku terpaku melihat Ray berbincang dengan Dilla. Aku yakin itu Dilla! Ia belum memakai seragam yang sama denganku. Itu pasti Dilla!
Aku berlari menghampiri Dilla dan Ray, kemudian menampar muka Dilla dengan keras.
‘Mbak?’ Dilla memegang pipinya yang sakit dan memerah. Aku tidak peduli. Aku sangat marah. Beraninya dia mendekati Ray. Aku tidak suka!
‘Ray Cuma Tanya-tanya sedikit, Mbak. Mbak Dhita jangan marah,’ katanya dengan mata berkaca-kaca.
‘Aku benci sama kamu, Dil! Aku nggak suka kamu disini! Sana! Kembali ke Bogor! Aku nggak punya kembaran kayak kamu!’ sentakku dengan penuh murka.
Dilla menangis. Ia terpukul dengan kalimat-kalimat jahatku. Ray pun hanya menggelengkan kepala melihat sikapku. Dilla berlari berlalu.
***
‘PAPA!!!!’ teriakku di depan rumah memanggil Papa. Aku ingin Papa mengembalikan Dilla ke habitat asalnya.
‘Kamu cari siapa, Nduk?’ Tanya Mama.
‘Cari Papa. Papa mana? Aku mau Dilla balik ke Bogor! Aku nggak mau tahu!’
‘Nak, kamu ngomong apa? Papa kan sudah meninggal. Terus siapa itu Dilla?’ Tanya Mama heran.
Aku bingung. Apa yang terjadi tadi?
***
‘Ndiel, bangun. Sudah jam 5,’
Kudengar suara Mama membangunkanku. Kubuka mataku yang terasa berat itu. Tiba-tiba aku ingat sesuatu. Kutengok sebelah kiriku dan yang ada hanya sebuah guling cokelat. Kemana Dilla?
Kususul Mama di ruang tengah. Ia sedang mengeringkan rambutnya menggunakan hair dryer. Aku masih bingung. Itu tadi mimpi atau nyata? Aku benar-benar melihat ada gadis tengah tidur disampingku semalam.
Kuceritakan semua tentang mimpiku pada Mama. Tumben sekali, Mama mendengarkan cerita mimpiku dengan seksama. Mungkin karena aku bercerita dengan suara lirih dan muka yang memelas.
‘Ma, kira-kira Dilla itu pernah ada nggak sih?’ tanyaku dengan muka polos.
‘Duh, Ndiel. Mama hamil kamu itu 10 bulan. Satu jabang bayi aja udah nyusahin, apalagi dua,’ celoteh Mama sambil tertawa.
‘Mungkin aja 10 bulan itu karena isinya ada dua ma,’ timpalku. Tawa mama makin keras.

Pa, andai Papa bisa pulang…

No comments:

Post a Comment