Tuesday, 27 August 2013

Kue Pahit Kita Bersama




“Kamu tidak akan pernah mengerti seberapa berat beban hidup yang Ibu pikul, En.” desak tangis Ibu En menyentak dan membuat En menatap mata Ibunya dalam-dalam degnan mata memerah. Bibirnya kaku. Lidahnya kelu. Air matanya menggenang dan menunggu untuk menetes deras.
“Karena Ibu pun tidak pernah mengerti bahwa aku adalah salah satu tempat untuk Ibu berbagi beban,” jawab En dengan nada rendah kemudian meninggalkan Ibunya sendirian. Ia kembali mengurung diri di dalam kamar dan menangis tanpa suara.
Mereka masih menganggapku anak-anak. Padahal sudah lama aku dewasa. Menjadi seseorang yang mengerti betapa beratnya hidup. Setiap manusia pasti punya problemanya masing-masing. Tapi mereka masih memandangku dengan picis. Mereka masih memandangku sebagai anak ingusan kemarin sore. Yang mereka tahu hanyalah aku adalah orang yang keras kepala dan mau menangnya sendiri. Tidakkah mereka mengerti aku rela melakukan apapun agar mereka bahagia. Aku tidak peduli dengan penderitaanku. Berat yang aku rasakan adalah sepele bagi mereka. Semua orang juga tahu bahwa mereka bisa melakukan yang terbaik, tapi sesungguhnya terbaik untuk diri mereka sendiri. Mereka lebih sering memikirkan diri sendiri daripada melakukan pengorbanan untuk orang lain. Mereka menganggapku remeh. Menganggap remeh dengan pengorbanan yang aku lakukan. Tulus atau tidaknya hati ini, hanya aku dan Tuhan saja yang tahu. Seperti ada pepatah yang mengatakan, ‘Jangan berpikir tentang apa yang negaramu berikan kepadamu, tapi pikirkanlah apa yang akan kau berikan untuk negaramu’.
***
“Ada apa dengan matamu, En? Kenapa jadi bengkak begini? Habis nangis, ya?” tanya Juan sambil duduk di depannya
“Ah, nggak apa-apa, kok. Abaikan,” jawab En dengan muka datar. Ia tidak ingin Juan tahu tentang permasalahannya.
“En, kalau kamu punya masalah, ceritakan padaku,” kata Juan menatap mata En prihatin.
“Aku tidak ingin membagi sesuatu yang negatif kepada siapapun. Setiap orang punya privasi dengan porsi masing-masing. Jadi aku minta maaf, kalau aku tidak bisa membagi kisah burukku padamu,” jawab En sambil tersenyum. Juan pun tidak bertanya-tanya lagi dan memilih untuk bungkam.
Tidak pantas jika aku membagi penderitaan dengan orang lain sedangkan Ibuku sendiri tidak mau membagi penderitaannya denganku. Ibu tidak pernah tahu, beban yang aku pikul tidak kalah berat dengan yang dipikul Ibu. Itu adalah beban-beban yang tidak pernah aku bagi dengan orang lain. Ayah tidak pernah mengajariku untuk hidup dengan penderitaan yang dipikul sendiri. Tapi mungkin dengan ini, Ibu akan mengerti, betapa pentingnya berbagi beban denganku sebagai Ibu yang diberikan titipan seorang anak yang kini mulai beranjak dewasa. Aku mengerti apa masalah Ibu. Hanya saja, Ibu tidak ingin mengerti bahwa aku sudah mengerti.
“Kau mau?” Juan menyodorkan kotak makanan berisi 2 buah kue. Juan mengambil salah satunya. Mau tidak mau En mengambil satu-satunya yang tersisa dan mencicipinya.
“Emmmhh!!! Pahit sekali!” pekik En yang tidak sampai hati hendak menelan kunyahan kue yang masih ada di mulutnya.
“Itu kue pahitku, mana kue pahitmu?” timpal Juan sambil melangkahkan kaki meninggalkan En. Ada sarat senyum kemenangan di bibir Juan. En hanya tersenyum sinis dan memutuskan untuk memakan kue itu sampai habis.
Ternyata benar. Manis dan pahit kehidupan masing-masing manusia itu tidak untuk dipikul sendiri, tapi untuk dibagi…



Cerpen diatas adalah cerpen absurd yang saya buat seminggu sebelum saya menempuh ujian nasional. Sedikit aneh memang, atau bahkan aneh sekali. Tapi ambil satu hikmahnya : Kita tidak hidup sendirian. Kita hidup bersama-sama. Banyak orang di sekitar kita yang menyayangi kita dan jadikanlah mereka tempat berbagi suka duka. Jangan sia-siakan mereka selagi mereka 'masih ada' :)

Lil Notice :)

Saya merasa sangat terapresiasi oleh Kontemporer People sekalian yang sudah berkenan membaca artikel saya mulai dari yang depresif, galau, (sedikit) penting dan sebagainya. Di sini saya hanya share tentang pengalaman dan pendapat, tidak ada unsur mendoktrin, mencari popularitas atau bisnis.

Konten dari blog ini masih banyak cacatnya. Maka dari itu, kritik dan saran sangat saya harapkan. Silahkan tinggalkan testimoni Anda pada setiap artikel yang Anda ingin komentari, atau bisa contact twitter saya, mention atau DM ke @dhitarizkya. Bisa juga kala ingin tanya-tanya mengenai tulisan saya di ask.fm/dhitarizkya

Saya akan sangat senang jika teman-teman Kontemporer sekalian bisa meluangkan waktunya untuk membaca dan mengkritik blog saya.
Bisa terima order artikel seperti puisi dan cerpen. Saya punya beberapa karya dan akan saya posting jika ada permintaan karena menurut saya, karya saya masih terbilang picisan. Hehehe :)

Terimakasih banyak semuanya. Love you damn much!

'Double Pilkada' Part 2

Hello Kontemporer people!
Aaaah, saya masih melayang-layang nih, kemaren saya cuma iseng ngetweet 'Ngomongnya sok ala mbak @Sorayahylmi, tapi pure mengemukakan pendapat >> (link blog saya)' eh, ternyata dapet respon dari mbak Soraya Hylmi, dibilang bagus, bahasanya ringan, mudah dicerna tapi berbobot positif. Alhamdulillah.. Padahal itu hanyalah celotehan seorang pemilih pemula. Hehehe
Then, sesuai janji saya kemarin, hari ini saya posting artikel 'Double Pilkada Part 2'

Saat saya mengetik ini, saya sembari menonton Debat Kandidat Calon walikota dan wakil walikota Tangerang. Debatnya bagus, berbobot. Berbeda dengan beberapa debat yang saya tonton beberapa hari lalu. Sungguh, yang ini membuat saya betah stay channel di depan TV (dan laptop).

Pendapat yang ingin saya kemukakan disini adalah...
Bicara masalah keutamaan kandidat, kita tidak melulunya terpaku dengan suatu hal atau nama yang khas atau mudah dikenal oleh masyarakat, seakan-akan popularitas menjadi modal yang utama. Hal ini tentu saja salah. Kenapa? Popularitas itu tidak bisa menggambarkan bobot dan potensi dari kandidat. Maka sebenarnya pembuatan nama yang bertujuan untuk ramah di telinga masyarakat itu percuma. Hal ini seperti memandang masyarakat berada di rataan kelas bawah. Maksudnya, kandidat beranggapan bahwa masyarakat tidak akan berpikir terlalu jauh mengenai seluk beluk kandidat. Yang penting dipilih. Hal ini terjadi terutama pada Pemilih Pemula dengan spesifikasi usia 17-19 tahun yang mayoritas dari mereka masih belum sadar politik. Inilah salah satu dampak dari tiadanya sosialisasi politik terhadap pemilih pemula.

Kedua, banyak sekali terjadi kesalahan mengenai visi dan misi kandidat yang seakan-akan cenderung memasukkan unsur program-program baru yang disuguhkan jika kandidat tersebut terpilih menjadi pemimpin. Ini bukan soal program semata ataupun esensinya, tapi yang utama adalah bagaimana caranya menjalankan roda kepemerintahan yang baik. Gambaran mudahnya seperti ini : Jika dalam suatu wilayah terdapat masalah, yang dibicarakan adalah bagaimana solusi untuk menangani masalah di wilayah tersebut secara MURNI atas pemikiran kandidat secara spontan namun sudah terpikirkan dengan matang, bukan malah 'mensinkronkan' solusi tersebut dengan program yang disuguhkan, karena sudah jelas ini adalah hal yang berbeda. Sehingga seringkali masalah seperti ini lagi-lagi bertujuan untuk mendongkrak popularitas karena mengatasnamakan program unggulan kandidat. Lama-kelamaan hal ini malah mirip dengan konsep Chauvinisme lho. Tahu kan, Chauvinisme adalah rasa cinta dan bangga yang berlebihan kepada etnis, suku, dan keyakinannya sendiri. Dan rasanya seperti ada penerapan konsep chauvinisme dalam diri kandidat yang sangat membanggakan program-programnya seakan-akan program itu adalah program terbaik dari semua kandidat. Padahal belum dijalankan tapi sudah mengambil kesimpulan akan berhasil.

Ketiga, hal ini sering membikin saya merasa miris. Pemilih pemula seringkali dieskploitasi haknya untuk menjadi tim sukses kandidat. Mereka disuruh berkeliling kota dengan mengendarai motor (dengan mayoritas berknalpot telo yang bunyinya merdu sekali). Saya sungguh tidak mengerti, apa esensi dari konvoi ini. Mereka tidak tersadar bahwa yang mereka lakukan itu sebenarnya tidak membawa dampak yang sangat besar bagi kandidat. Terlebih karena ini dalam konteks konvoi dan mentang-mentang sudah mendapat pengawalan dari polisi, mereka mengabaikan keselamatan dan cenderung melupakan peraturan lalu lintas seperti tidak memakai helm. Sepele memang, tapi ini justru menggambarkan bahwa tidak adanya kesadaran berpolitik. Artinya, mereka sudah mengesampingkan keselamatan mereka sendiri.

Berikutnya, Provokasi. Ah, hal ini sudah biasa, tapi tetap saja membikin gereget juga. Kenapa? Karena tidak jarang kandidat seperti makin gencar mengunggulkan programnya dengan catatan kaki 'merevisi' program unggulan kandidat lain. Apakah ini termasuk plagiat? Tentu! Karena ini bicara soal ketepatan waktu membuat program unggulan. Merevisi itu mungkin lebih baik, tapi terkadang juga seperti menggambarkan ketidakfreatifan kandidat membuat program. Tidak hanya itu, banyak sekali pihak misterius yang sering membuat posting bahkan dimuat di media cetak mengenai kampanye yang cenderung menyudutkan kandidat lain. Jangan mudah terprovokasi! Hal ini hanya bertujuan untuk menambah simpati masyarakat dengan cara yang menurut saya tidak lazim.

Kemudian, saya kurang setuju dengan adanya area-area atau wilayah tertentu yang di-klaim sebagai wilayah kekuasaan kandidat atau partai. Mungkin sejauh ini terlihat lumrah, tapi malah menimbulkan persepsi 'fanatik partai'. Belum lagi akan menimbulkan persepsi pembunuhan hak asasi. Memilih kandidat itu merupakan rahasia pribadi yang patut dihormati agar tidak menimbulkan kontra bahkan permusuhan. Tiap inidividu pasti mempunyai pendapat dan keyakinan berbeda. Ini Indonesia, tidak boleh ada keseragaman pendapat secara keseluruhan yang cenderung memaksa

Para Pemilih pemula, ingatlah. Kita sangat berpengaruh. Mumpung belum berangkat ke TPS, kita harus menyadari kembali siapa nantinya yang akan kita pilih. Jangan golput! Golput itu sama saja tidak berpikir cerdas dan cenderung menggambarkan sifat malas. Pribadi kandidat itu bisa kita ketahui secara kentara melalui cara bicaranya kok, kita bisa tahu secara langsung gambaran potensi kandidat. Tapi jagnan sampai terkecoh dengan kandidat yang pintar omong semata. Because PERSUADE IS NOT A FORCING! Biarkan kami memilih sesuai dengan keyakinan kami sendiri.

Tak hentinya saya mengingatkan, di sini saya netral, tidak membela siapapun. Saya tahu siapa yang harus saya pilih dengan alasan yang saya pendam sendiri karena tidak ingin menuai kontra. Pilihlah yang terbaik menurut kalian. Terimakasih.

Monday, 26 August 2013

'Double Pilkada'

Tadi sempat lihat TV tentang potensi beberapa tokoh yang akan melaju dalam pemilihan Presiden tahun mendatang dan saya terkejut dengan munculnya sosok Gubernur DKI Jakarta, Bapak Joko Widodo. Ah, mungkin itu hanyalah pendapat beberapa orang saja bahwa beliau pantas menjadi presiden. Namun, apa mau dikata, beliau masih menjabat sebagai Guberbur.

Tanggal 29 Agustus besok, warga Kota Probolinggo harus melaksanakan 2 coblosan, Pilwalikota dan Pilgub. Masing-masing ada 4 pasangan calon, itu artinya ada 8 pasangan yang 2 diantaranya harus kami pilih.

Itu baru preambule kok. Hahaha, santai. Anak muda harus santai, woles, tapi jangan terlalu nyantai, karena anak muda punya peranan yang sangat penting dan cukup berpengaruh dalam kehidupan bermasyarakat. Seperti contoh anak muda di jaman dulu harus berperang melawan penjajah dengan menggunakan bambu runcing. Sedangkan anak muda jaman sekarang ngga boleh ketinggalan update status Facebook, Twitter, Path, BBM, atau yang lainnya. Loh?

Sudah pernah dengar tentang istilah 'Pemilih Pemula'?
Benar, 'Pemilih Pemula' adalah warga negara dengan batas usia minimal 17 tahun yang berkesempatan untuk menjadi pemilih atau mempunyai hak pilih dalam suatu eleksi manapun. Hal ini berlaku dengan spesifikasi mereka berdomisili di Indonesia. Namun seperti yang kita ketahui pula bahwa warga negara Indonesia yang berusia di bawah 18 tahun termasuk kategori anak. Jadi bisa kita simpulkan, pemilih pemula yang masih berusia tepat 17 tahun adalah ANAK

Kita tidak bisa menafikkan bahwa di usia 17 tahun, mereka wajib menggunakan hak pilih mereka untuk menentukan siapa pemimpin mereka selanjutnya. Satu hal yang perlu diperhatikan pemerintah adalah adanya sosialisasi mengenai politik kepada pemilih pemula sebelum diadakannya eleksi. Namun sejauh saya perhatikan, di Kota Probolinggo minim sekali dengan sosialisasi serupa. Bahkan mayoritas keberadaan kegiatan yang telah diadakan selalu ada unsur politik yang diselipkan. Mungkin bagi warga yang sudah cukup umur dan sadar politik, hal ini sudah biasa. Tapi tentu tidak akan berlaku bagi pemilih pemula. Mereka seakan disuguhkan dengan berbagai sajian yang dalam kata kasarnya 'Nikmat Sementara'. Dengan kata lain, banyak program maupun kegiatan yang terkesan mengeksploitasi anggapan pemilih pemula untuk cenderung memilih salah satu calon yang berpengaruh.

Memilih pemimpin itu tidak sembarangan. Masih mengenai keluhan saya yang saya torehkan di akun twitter dan facebook mengenai konvoi yang berlangsung tanpa esensi kampanye. Beberapa calon seakan-akan membuat suatu parade yang percuma tanpa mereka membeberkan potensi mereka. Ingat, jangan salah, mendahulukan program kerja yang bagus belum tentu efisien lho. Sebenarnya yang menjadi utama alasan kita, para pemilih pemula khususnya, memilih calon pemimpin harus berdasarkan kemampuan memanajemen kepemerintahan agar semua sektor bisa berjalan dengan baik. Tentu saja hal ini akan secara langsung berimbas pada kesejahteraan masyarakat. Bukan sekedar mengumbar janji dengan program yang menggiurkan bahkan 'tidak masuk akal'.

Contohnya sekolah gratis. Kita bisa memaklumi bahwa salah satu sektor yang bisa mengancam kemampuan finansial untuk mendapatkan salah satu hak hidup adalah pendidikan. Pendidikan itu tidak sekedar bicara tentang belajar di kelas, mengerjakan PR lalu ujian. Pendidikan juga berbicara mengenai pembentukan karakter, media pembelajaran, fasilitas dan sebagainya. Pendidikan gratis itu boleh, tapi harus ada spesifikasi konteksnya. Harus dipahami pula bahwa TANPA UANG, PROGRAM TIDAK AKAN BERJALAN. Kalau saya pribadi, memilih sekolah berbayar namun memiliki peluang dan program yang bagus sehingga bisa memberikan banyak hal pada siswa dan bukan hanya belajar dibanding sekolah gratis namun sebenarnya pembelajarannya pun hanya bertahan dalam posisi standart.

Kembali ke topik awal.
Pemilih pemula harus memahami siapa yang mereka pilih, bagaimana potensi dan keunggulan dalam memerintah, karena tak butuh semenit mereka mencoblos, efeknya akan berlangsung selama 5 tahun ke depan. Memilih pemimpin bukan hanya bicara soal siapa aliansi yang dirangkul, tapi juga bicara soal bagaimana mereka bisa menunjukkan abdi dan dedikasinya selama memimpin. Para pemilih pemula juga harus menyadari bahwa ada salah satu diantara para calon dimana beliaulah yang terbaik. Tapi juga perlu diingat, baik menurut pemilih pemula, belum tentu baik menurut orang tua, begitu pula sebaliknya. Maka dari itu, pemilih pemula yang jumlahnya tiap 5 tahun pastilah bertambah dengan angka fantastis harus berpikir kritis sebelum akhirnya mencoblos dan berujung jari ungu.

Kita semua punya hak, setiap individu berusia minimal 17 tahun pasti punya hak. Namun jangan sampai salah pilih dan terbuai iming-iming program para calon. Ingat, eleksi ini tidak seperti logisnya Kontes pencarian bakat. Presentasi dulu, baru kirim SMS. Yang ini justru memilih dulu, baru mereka bekerja. Hal ini perlu adanya pengawasan yang ketat dari banyak pihak karena mereka telah dipercaya masyarakat untuk memimpin jauh lebih baik. Karena tidak ada yang tidak setuju dengan adanya progres..

Disini saya sedang tidak kampanye. Saya hanya mengemukakan pendapat saya sebagai salah satu pemilih pemula. Karena bagaimanapun pemilih pemula berhak tahu tentang kondisi proses eleksi beserta dampaknya. Mereka harus memahami sebelum akhirnya mereka nantinya pasti akan menjadi 'pengomentar' kinerja pemerintah. Toh mereka juga punya hak suara, tapi setidaknya tahu batasan karena kerja mereka juga berawal dari suara yang mereka berikan.

Siapapun yang terpilih, semoga bisa amanah dalam menjalankan tugas. Satu yang perlu diingat kembali, berani mundur karena tidak amanah itu jauh lebih baik daripada menutupi kesalahan dengan berbagai dalih dan topeng program menggiurkan yang bisa mengalihkan perhatian masyarakat. Terimakasih.

Wednesday, 21 August 2013

Saya (bukan) ibunya Baim

Baim menjerit. Tiga orang temannya mengejarnya hingga teras rumah. Mereka berempat bersenda gurau riang sekali. Sesekali saya tengok Baim dari minimarket seberang jalan. Hingga saya melihat Baim tengah menatap saya di minimarket dibalik besi pagar rumah seakan ia ingin keluar.
Saya menyeberang jalan dan menghampiri Baim. Ia tersenyum. Saya berjongkok dan bertanya padanya, 'Baim kenapa?'
'Baim boleh beli-beli?' tanyanya dengan muka polos.
Saya hanya tersenyum. Membukakan pintu pagar. Saya menggendong Baim menyebrang jalan untuk ke minimarket. Saya turunkan Baim saat masuk ke dalam minimarket dan membiarkan ia memilih makanan yang ia mau. Saya terus mengekorinya agar ia tidak sembarangan memilih makanan. Ia mengambil susu kemasan siap minum rasa cokelat. Setelah itu, Baim berlari ke arah kasir untuk mem-barcode minuman tersebut. Kemudian ia menatap saya yang sayapun tak tahu apa maksudnya.
'Mau langsung diminum?' tanya saya sambil berjongkok menyamai tinggi badannya.
Baim mengangguk. Saya membukakan plastik yang membungkus sedotan dan mencobloskannya pada kemasan susu itu. Saat saya baru saja berdiri kembali, Baim menarik-narik celana saya dan berkata, 'Pulang,'
Saya tersenyum. Kemudian saya menggendongnya untuk menyebrang dan mengantarkannya pulang ke rumah. Saya turunkan Baim di teras rumah dan berkata, 'Baim main di rumah aja ya, jangan nakal,'. Baim hanya mengangguk dan masuk ke dalam rumah.

Selang sejam kemudian, teman Baim yang bernama Sasa, berteriak kencang sekali. 'Bu'e, Baim tidur di kursi teras!'
Sontak saya terkejut. Saya menyebrang jalan sambil berlari. Saya melihat Baim sudah tertidur pulas di kursi teras. Padahal beberapa saat yang lalu saya masih melihatnya berkejar-kejaran dengan teman-temannya. Kemudian saya menggendongnya ke dalam kamar saya dan mengusap dahinya yang deras akan air keringat.
'Mungkin Baim kecapekan, jadi dia tidurnya tiba-tiba,' gumam saya. Saya tak tega membiarkan Baim sendirian. Akhirnya saya menemaninya tidur sambil mengipaskan lipatan kertas padanya. Ia terlihat sangat gerah, terbukti keringat selalu mengucur di dahinya. Sayapun ikut tertidur di kamar bersama Baim siang itu.

***

Jam dinding telah menunjukkan pukul 11 malam, tapi Baim tak kunjung tidur. Ia memang terbiasa tidur larut malam. Berkali-kali saya membujuknya agar segera tidur dengan berjanji akan membuatkannya sebuah gambar Ultraman Gaia. Tapi ia tak mau berbaring juga. Ia menggoda saya dengan mematikan lampu kamar dan saya menegurnya, 'Kalo lampunya dimatikan, nanti hantunya keluar lho,'. Seketika Baim menyalakan lampu kembali.
Saya menggelitik pinggangnya. Ia menggeliat geli. Saya memangkunya dan mengambil secarik kertas untuk menggambar. Aziel, sang kakak, jadi ikutan tertarik untuk menggambar. Ia duduk di samping saya, memperhatikan setiap siluet Ultraman Gaia yang saya torehkan di kertas. Tanpa saya sadari Baim sudah tidak ada di pangkuan saya. Saya mendengar jeritan manja Baim yang tengah dipeluk lelaki bertelanjang dada di kursi ruang tengah. Ia tengah bercanda dengan pamannya. Saya hanya tersenyum melihatnya. Ia tampak riang meski ini sudah malam.

'Kita baca dongeng, yuk!' tawar saya pada Aziel. Baim melonjak tertarik. Ia berusaha kabur dari pelukan Pamannya. Ia berlari ke arah saya dan memaksa saya untuk segera membacakan dongeng.
'Baim pengen dongeng Dinosaurus!' katanya antusias.
'Tapi syaratnya harus sambil tiduran, ya.' Tanpa babibu, Aziel dan Baim naik ke atas ranjang dan saya tidur di tengah-tengah mereka. Saya mulai membacakan dongeng tentang Dinosaurus. Belum semenit saya membaca dongeng, Aziel merebut buku dongeng itu dari tangan saya, 'Biar Aziel aja yang baca,' namun Baim memberontak tidak suka. 
'Tidak apa-apa, kan yang penting dibacakan dongeng,' kata saya sambil membelai rambutnya yang halus.
Mata saya tertuju pada buku dongeng yang dipegang Aziel. Ia membacakan dongeng dengan mahir hingga saya ikut tertawa. Namun saat saya melihat Baim, ajaib! Ia sudah tertidur pulas.
'Baca dongengnya sudah selesai, sekarang saatnya tidur,' kata saya pada Aziel.
'Tapi dongengnya belum selesai dan Aziel belum ngantuk,' jawabnya.
'Kalo Aziel bacanya keras-keras, nanti Baim terbangun,' kata saya.
Aziel melengus kesal sambil menutup buku. Kemudian ia beranjak dari ranjang. 'Aziel mau nonton Dunia Lain dulu, Aziel belum ngantuk,' katanya berpamitan.
'Tapi Aziel tidurnya jangan malam-malam ya,' kata saya. Seketika ia keluar kamar dan menutup pintu.

Saya memakaikan selimut di atas tubuh Baim agar ia tidak kedinginan. Beberapa menit kemudian saya tertidur juga. Tapi malam itu saya selalu terjaga. Tiap kali saya membuka mata, posisi Baim sudah jauh dari saya. Bahkan ia sampai tidur di pojok ranjang. Sayapun segera memindahkannya ke tengah ranjang agar ia tidak jatuh ke lantai. Saya juga memeluknya agar ia tidak bergerak berpindah posisi terlalu jauh dari saya.

Paginya saat saya terbangun, saya melihat Baim masih tertidur pulas di samping saya. Saya mengusap rambutnya yang halus penuh dengan rasa sayang kemudian saya mencium keningnya. Ia menggeliat dan saya hanya tersenyum. Kemudian saya meinggalkannya untuk mandi.

Siangnya, Baim sudah siap dengan kopernya. Ia bersiap-siap meninggalkan Jember. Ia harus pulang ke rumahnya di Denpasar. Usai semuanya siap, Aziel dan Baim segera masuk ke dalam mobil meskipun mobil masih dalam proses pemanasan. Berat bagi saya melihat mereka pergi, terutama Baim. Saya merasa senang, merawatnya sungguh-sungguh dan menjaganya tidur semalam. Saya telah menjadi 'ibu' dalam semalam. Tapi saya tetap bukan ibu Baim. Kemudian mobil berwarna biru metalik itu pergi meninggalkan rumah dan saya sempat melihat ada lambaian tangan kecil di balik jendela mobil. Sampai jumpa, Baimku...

Monday, 12 August 2013

My Sickness

"minal aidzin wal faidzin
mohon maaf lahir dan bathin"


Nggak ada kalimat lain sih selain serangkaian kalimat di atas tadi. Belakangan ini aku seperti kehabisan kata-kata. Aku kehilangan motivasi semenjak ia pergi entah kemana beberapa hari sebelum lebaran tiba. Ia tak memberitahuku ia pergi kemana. Projekku kubiarkan membusuk. Karena tidak ada yang mendesakku untuk menyelesaikannya. Jujur, satu-satunya motivasiku untuk menyelesaikan projek itu hanyalah dia. Bukan karena ia inspirasinya, atau karena aku menyukainya, tapi terlebih karena ia menilai projekku yang ini menarik dan menantang.

Hari minggu kemarin ada pertemuan keluarga. Rumah Oom Alvin lah yang menjadi venue pertemuan tahun ini. Selama perjalanan di pikiranku cuma ada 3.
1. Harus ketemu Oom Alvin dan tanya-tanya soal otomotif beserta modifikasinya untuk projekku.
2. Harus ketemu Mbak Mamik, Mbak Heny, Mbak Siti, dan Mbak Aminah. Aku sungguh kangen dengan gangster Ivan Mart tersebut.
3. Aku harus berhasil mengambil sikat gigi miniku yang tertinggal di kamar mandi rumah Oom Alvin saat menginap disana bulan lalu.

Dan yang berhasil kulakukan hanyalah :
1. Ketemu Oom Alvin cuma buat bahas kuliah, jadi terima tamu, bantu-bantu nyiapin sajian. Lupa nanya soal otomotifnya.
2. Cuma ketemu Mbak Mamik yang sekarang rambutnya udah lurus kayak penggaris dan Mbak Aminah yang terlihat cantik dengan hijab kuningnya.
3. Sama sekali nggak kebelet pipis, jadi nggak ke kamar mandi sama sekali.

Sekarang aku sakit. Nggak ada niat sama sekali buat nerusin projek. Malah curhat nggak jelas di postingan ini. Kamu kapan pulang, My Sugar My Candy??? Aku butuh omelanmu agar projek ini terselesaikan sesuai dengan inginmu.

Kemarin aku mimpi soal masa lalu. Mimpi kami bercanda riang tanpa keraguan dan kecanggungan. Tertawa lepas. Aku mencubit hidungnya yang besar dan dia memelukku. Subhanallah indahnya. Dan mimpi indah itu berakhir seiring dering alarm membangunkanku diiringi dengan derai tangis air mata. Mimpi yang membuatku semi gagal move on.

Aku jadi sering mengingat masa lalu. Dimana aku sering mendoakan keselamatannya. Semoga dia sehat wal afiat, sehingga ia bisa melaksanakan tugasnya dengan baik. Semakin mengingat hal itu, lagi-lagi nangis. Ah, entah kenapa begitu hebatnya dia berkeliaran di otakku selama 2 tahun.

Hampir setahun laryngitis yang kuidap selama lebih dari 6 tahun itu tidak kambuh di tahn 2013 ini. Tapi sekarang jadi terasa, tenggorokan seperti tercekik. Aku takut operasi lagi.

Aku makin tua. Sudah 19 tahun. Sempat cemas THR menipis, ternyata tidak benar adanya. Alhamdulillah ada aja rejekinya. Tapi semakin tua semakin sakit. Tahun depan sudah angka milenium. Kalau masih sendiri bakal dijuluki Si Jomblo Perak. Eh, salah, saya single, bukan Jomblo! Seperti kata Bang Arip : 'Single itu prinsip, Jomblo itu nasip, kalo Rian udah pasti Demasip!' yeaaahh, sedaaaaapppp

Oh iya, kemarin sekilas lihat banner calon walikota dengan catatan kaki "Ambil uangnya, jangan pilih orangnya!"
Hmmmmm, beliau sudah tahu dengan arti 'Serangan Fajar'. Atau memang tidak ada modal untuk serangan fajar? Mempan nggak sih kira-kira?
Karena nggak pernah lihat orangnya secara langsung, ah, sudahlah. Jariku ada lima, balonku yang tinggal empat, kupegang erat-erat, karena yang hijau sudah meletus.