“Kamu tidak akan pernah
mengerti seberapa berat beban hidup yang Ibu pikul, En.” desak tangis Ibu En
menyentak dan membuat En menatap mata Ibunya dalam-dalam degnan mata memerah.
Bibirnya kaku. Lidahnya kelu. Air matanya menggenang dan menunggu untuk menetes
deras.
“Karena Ibu pun tidak
pernah mengerti bahwa aku adalah salah satu tempat untuk Ibu berbagi beban,”
jawab En dengan nada rendah kemudian meninggalkan Ibunya sendirian. Ia kembali
mengurung diri di dalam kamar dan menangis tanpa suara.
Mereka
masih menganggapku anak-anak. Padahal sudah lama aku dewasa. Menjadi seseorang
yang mengerti betapa beratnya hidup. Setiap manusia pasti punya problemanya
masing-masing. Tapi mereka masih memandangku dengan picis. Mereka masih
memandangku sebagai anak ingusan kemarin sore. Yang mereka tahu hanyalah aku
adalah orang yang keras kepala dan mau menangnya sendiri. Tidakkah mereka
mengerti aku rela melakukan apapun agar mereka bahagia. Aku tidak peduli dengan
penderitaanku. Berat yang aku rasakan adalah sepele bagi mereka. Semua orang
juga tahu bahwa mereka bisa melakukan yang terbaik, tapi sesungguhnya terbaik
untuk diri mereka sendiri. Mereka lebih sering memikirkan diri sendiri daripada
melakukan pengorbanan untuk orang lain. Mereka menganggapku remeh. Menganggap
remeh dengan pengorbanan yang aku lakukan. Tulus atau tidaknya hati ini, hanya
aku dan Tuhan saja yang tahu. Seperti ada pepatah yang mengatakan, ‘Jangan
berpikir tentang apa yang negaramu berikan kepadamu, tapi pikirkanlah apa yang
akan kau berikan untuk negaramu’.
***
“Ada apa dengan matamu,
En? Kenapa jadi bengkak begini? Habis nangis, ya?” tanya Juan sambil duduk di
depannya
“Ah, nggak apa-apa,
kok. Abaikan,” jawab En dengan muka datar. Ia tidak ingin Juan tahu tentang
permasalahannya.
“En, kalau kamu punya
masalah, ceritakan padaku,” kata Juan menatap mata En prihatin.
“Aku tidak ingin
membagi sesuatu yang negatif kepada siapapun. Setiap orang punya privasi dengan
porsi masing-masing. Jadi aku minta maaf, kalau aku tidak bisa membagi kisah burukku
padamu,” jawab En sambil tersenyum. Juan pun tidak bertanya-tanya lagi dan
memilih untuk bungkam.
Tidak
pantas jika aku membagi penderitaan dengan orang lain sedangkan Ibuku sendiri
tidak mau membagi penderitaannya denganku. Ibu tidak pernah tahu, beban yang
aku pikul tidak kalah berat dengan yang dipikul Ibu. Itu adalah beban-beban
yang tidak pernah aku bagi dengan orang lain. Ayah tidak pernah mengajariku
untuk hidup dengan penderitaan yang dipikul sendiri. Tapi mungkin dengan ini,
Ibu akan mengerti, betapa pentingnya berbagi beban denganku sebagai Ibu yang
diberikan titipan seorang anak yang kini mulai beranjak dewasa. Aku mengerti
apa masalah Ibu. Hanya saja, Ibu tidak ingin mengerti bahwa aku sudah mengerti.
“Kau mau?” Juan
menyodorkan kotak makanan berisi 2 buah kue. Juan mengambil salah satunya. Mau
tidak mau En mengambil satu-satunya yang tersisa dan mencicipinya.
“Emmmhh!!! Pahit
sekali!” pekik En yang tidak sampai hati hendak menelan kunyahan kue yang masih
ada di mulutnya.
“Itu kue pahitku, mana
kue pahitmu?” timpal Juan sambil melangkahkan kaki meninggalkan En. Ada sarat
senyum kemenangan di bibir Juan. En hanya tersenyum sinis dan memutuskan untuk
memakan kue itu sampai habis.
Ternyata
benar. Manis dan pahit kehidupan masing-masing manusia itu tidak untuk dipikul
sendiri, tapi untuk dibagi…
Cerpen diatas adalah cerpen absurd yang saya buat seminggu sebelum saya menempuh ujian nasional. Sedikit aneh memang, atau bahkan aneh sekali. Tapi ambil satu hikmahnya : Kita tidak hidup sendirian. Kita hidup bersama-sama. Banyak orang di sekitar kita yang menyayangi kita dan jadikanlah mereka tempat berbagi suka duka. Jangan sia-siakan mereka selagi mereka 'masih ada' :)
No comments:
Post a Comment