Tuesday, 27 August 2013

Kue Pahit Kita Bersama




“Kamu tidak akan pernah mengerti seberapa berat beban hidup yang Ibu pikul, En.” desak tangis Ibu En menyentak dan membuat En menatap mata Ibunya dalam-dalam degnan mata memerah. Bibirnya kaku. Lidahnya kelu. Air matanya menggenang dan menunggu untuk menetes deras.
“Karena Ibu pun tidak pernah mengerti bahwa aku adalah salah satu tempat untuk Ibu berbagi beban,” jawab En dengan nada rendah kemudian meninggalkan Ibunya sendirian. Ia kembali mengurung diri di dalam kamar dan menangis tanpa suara.
Mereka masih menganggapku anak-anak. Padahal sudah lama aku dewasa. Menjadi seseorang yang mengerti betapa beratnya hidup. Setiap manusia pasti punya problemanya masing-masing. Tapi mereka masih memandangku dengan picis. Mereka masih memandangku sebagai anak ingusan kemarin sore. Yang mereka tahu hanyalah aku adalah orang yang keras kepala dan mau menangnya sendiri. Tidakkah mereka mengerti aku rela melakukan apapun agar mereka bahagia. Aku tidak peduli dengan penderitaanku. Berat yang aku rasakan adalah sepele bagi mereka. Semua orang juga tahu bahwa mereka bisa melakukan yang terbaik, tapi sesungguhnya terbaik untuk diri mereka sendiri. Mereka lebih sering memikirkan diri sendiri daripada melakukan pengorbanan untuk orang lain. Mereka menganggapku remeh. Menganggap remeh dengan pengorbanan yang aku lakukan. Tulus atau tidaknya hati ini, hanya aku dan Tuhan saja yang tahu. Seperti ada pepatah yang mengatakan, ‘Jangan berpikir tentang apa yang negaramu berikan kepadamu, tapi pikirkanlah apa yang akan kau berikan untuk negaramu’.
***
“Ada apa dengan matamu, En? Kenapa jadi bengkak begini? Habis nangis, ya?” tanya Juan sambil duduk di depannya
“Ah, nggak apa-apa, kok. Abaikan,” jawab En dengan muka datar. Ia tidak ingin Juan tahu tentang permasalahannya.
“En, kalau kamu punya masalah, ceritakan padaku,” kata Juan menatap mata En prihatin.
“Aku tidak ingin membagi sesuatu yang negatif kepada siapapun. Setiap orang punya privasi dengan porsi masing-masing. Jadi aku minta maaf, kalau aku tidak bisa membagi kisah burukku padamu,” jawab En sambil tersenyum. Juan pun tidak bertanya-tanya lagi dan memilih untuk bungkam.
Tidak pantas jika aku membagi penderitaan dengan orang lain sedangkan Ibuku sendiri tidak mau membagi penderitaannya denganku. Ibu tidak pernah tahu, beban yang aku pikul tidak kalah berat dengan yang dipikul Ibu. Itu adalah beban-beban yang tidak pernah aku bagi dengan orang lain. Ayah tidak pernah mengajariku untuk hidup dengan penderitaan yang dipikul sendiri. Tapi mungkin dengan ini, Ibu akan mengerti, betapa pentingnya berbagi beban denganku sebagai Ibu yang diberikan titipan seorang anak yang kini mulai beranjak dewasa. Aku mengerti apa masalah Ibu. Hanya saja, Ibu tidak ingin mengerti bahwa aku sudah mengerti.
“Kau mau?” Juan menyodorkan kotak makanan berisi 2 buah kue. Juan mengambil salah satunya. Mau tidak mau En mengambil satu-satunya yang tersisa dan mencicipinya.
“Emmmhh!!! Pahit sekali!” pekik En yang tidak sampai hati hendak menelan kunyahan kue yang masih ada di mulutnya.
“Itu kue pahitku, mana kue pahitmu?” timpal Juan sambil melangkahkan kaki meninggalkan En. Ada sarat senyum kemenangan di bibir Juan. En hanya tersenyum sinis dan memutuskan untuk memakan kue itu sampai habis.
Ternyata benar. Manis dan pahit kehidupan masing-masing manusia itu tidak untuk dipikul sendiri, tapi untuk dibagi…



Cerpen diatas adalah cerpen absurd yang saya buat seminggu sebelum saya menempuh ujian nasional. Sedikit aneh memang, atau bahkan aneh sekali. Tapi ambil satu hikmahnya : Kita tidak hidup sendirian. Kita hidup bersama-sama. Banyak orang di sekitar kita yang menyayangi kita dan jadikanlah mereka tempat berbagi suka duka. Jangan sia-siakan mereka selagi mereka 'masih ada' :)

No comments:

Post a Comment