Tadi sempat lihat TV tentang potensi beberapa tokoh yang akan melaju dalam pemilihan Presiden tahun mendatang dan saya terkejut dengan munculnya sosok Gubernur DKI Jakarta, Bapak Joko Widodo. Ah, mungkin itu hanyalah pendapat beberapa orang saja bahwa beliau pantas menjadi presiden. Namun, apa mau dikata, beliau masih menjabat sebagai Guberbur.
Tanggal 29 Agustus besok, warga Kota Probolinggo harus melaksanakan 2 coblosan, Pilwalikota dan Pilgub. Masing-masing ada 4 pasangan calon, itu artinya ada 8 pasangan yang 2 diantaranya harus kami pilih.
Itu baru preambule kok. Hahaha, santai. Anak muda harus santai, woles, tapi jangan terlalu nyantai, karena anak muda punya peranan yang sangat penting dan cukup berpengaruh dalam kehidupan bermasyarakat. Seperti contoh anak muda di jaman dulu harus berperang melawan penjajah dengan menggunakan bambu runcing. Sedangkan anak muda jaman sekarang ngga boleh ketinggalan update status Facebook, Twitter, Path, BBM, atau yang lainnya. Loh?
Sudah pernah dengar tentang istilah 'Pemilih Pemula'?
Benar, 'Pemilih Pemula' adalah warga negara dengan batas usia minimal 17 tahun yang berkesempatan untuk menjadi pemilih atau mempunyai hak pilih dalam suatu eleksi manapun. Hal ini berlaku dengan spesifikasi mereka berdomisili di Indonesia. Namun seperti yang kita ketahui pula bahwa warga negara Indonesia yang berusia di bawah 18 tahun termasuk kategori anak. Jadi bisa kita simpulkan, pemilih pemula yang masih berusia tepat 17 tahun adalah ANAK
Kita tidak bisa menafikkan bahwa di usia 17 tahun, mereka wajib menggunakan hak pilih mereka untuk menentukan siapa pemimpin mereka selanjutnya. Satu hal yang perlu diperhatikan pemerintah adalah adanya sosialisasi mengenai politik kepada pemilih pemula sebelum diadakannya eleksi. Namun sejauh saya perhatikan, di Kota Probolinggo minim sekali dengan sosialisasi serupa. Bahkan mayoritas keberadaan kegiatan yang telah diadakan selalu ada unsur politik yang diselipkan. Mungkin bagi warga yang sudah cukup umur dan sadar politik, hal ini sudah biasa. Tapi tentu tidak akan berlaku bagi pemilih pemula. Mereka seakan disuguhkan dengan berbagai sajian yang dalam kata kasarnya 'Nikmat Sementara'. Dengan kata lain, banyak program maupun kegiatan yang terkesan mengeksploitasi anggapan pemilih pemula untuk cenderung memilih salah satu calon yang berpengaruh.
Memilih pemimpin itu tidak sembarangan. Masih mengenai keluhan saya yang saya torehkan di akun twitter dan facebook mengenai konvoi yang berlangsung tanpa esensi kampanye. Beberapa calon seakan-akan membuat suatu parade yang percuma tanpa mereka membeberkan potensi mereka. Ingat, jangan salah, mendahulukan program kerja yang bagus belum tentu efisien lho. Sebenarnya yang menjadi utama alasan kita, para pemilih pemula khususnya, memilih calon pemimpin harus berdasarkan kemampuan memanajemen kepemerintahan agar semua sektor bisa berjalan dengan baik. Tentu saja hal ini akan secara langsung berimbas pada kesejahteraan masyarakat. Bukan sekedar mengumbar janji dengan program yang menggiurkan bahkan 'tidak masuk akal'.
Contohnya sekolah gratis. Kita bisa memaklumi bahwa salah satu sektor yang bisa mengancam kemampuan finansial untuk mendapatkan salah satu hak hidup adalah pendidikan. Pendidikan itu tidak sekedar bicara tentang belajar di kelas, mengerjakan PR lalu ujian. Pendidikan juga berbicara mengenai pembentukan karakter, media pembelajaran, fasilitas dan sebagainya. Pendidikan gratis itu boleh, tapi harus ada spesifikasi konteksnya. Harus dipahami pula bahwa TANPA UANG, PROGRAM TIDAK AKAN BERJALAN. Kalau saya pribadi, memilih sekolah berbayar namun memiliki peluang dan program yang bagus sehingga bisa memberikan banyak hal pada siswa dan bukan hanya belajar dibanding sekolah gratis namun sebenarnya pembelajarannya pun hanya bertahan dalam posisi standart.
Kembali ke topik awal.
Pemilih pemula harus memahami siapa yang mereka pilih, bagaimana potensi dan keunggulan dalam memerintah, karena tak butuh semenit mereka mencoblos, efeknya akan berlangsung selama 5 tahun ke depan. Memilih pemimpin bukan hanya bicara soal siapa aliansi yang dirangkul, tapi juga bicara soal bagaimana mereka bisa menunjukkan abdi dan dedikasinya selama memimpin. Para pemilih pemula juga harus menyadari bahwa ada salah satu diantara para calon dimana beliaulah yang terbaik. Tapi juga perlu diingat, baik menurut pemilih pemula, belum tentu baik menurut orang tua, begitu pula sebaliknya. Maka dari itu, pemilih pemula yang jumlahnya tiap 5 tahun pastilah bertambah dengan angka fantastis harus berpikir kritis sebelum akhirnya mencoblos dan berujung jari ungu.
Kita semua punya hak, setiap individu berusia minimal 17 tahun pasti punya hak. Namun jangan sampai salah pilih dan terbuai iming-iming program para calon. Ingat, eleksi ini tidak seperti logisnya Kontes pencarian bakat. Presentasi dulu, baru kirim SMS. Yang ini justru memilih dulu, baru mereka bekerja. Hal ini perlu adanya pengawasan yang ketat dari banyak pihak karena mereka telah dipercaya masyarakat untuk memimpin jauh lebih baik. Karena tidak ada yang tidak setuju dengan adanya progres..
Disini saya sedang tidak kampanye. Saya hanya mengemukakan pendapat saya sebagai salah satu pemilih pemula. Karena bagaimanapun pemilih pemula berhak tahu tentang kondisi proses eleksi beserta dampaknya. Mereka harus memahami sebelum akhirnya mereka nantinya pasti akan menjadi 'pengomentar' kinerja pemerintah. Toh mereka juga punya hak suara, tapi setidaknya tahu batasan karena kerja mereka juga berawal dari suara yang mereka berikan.
Siapapun yang terpilih, semoga bisa amanah dalam menjalankan tugas. Satu yang perlu diingat kembali, berani mundur karena tidak amanah itu jauh lebih baik daripada menutupi kesalahan dengan berbagai dalih dan topeng program menggiurkan yang bisa mengalihkan perhatian masyarakat. Terimakasih.
No comments:
Post a Comment