Hello Kontemporer people!
Aaaah, saya masih melayang-layang nih, kemaren saya cuma iseng ngetweet 'Ngomongnya sok ala mbak @Sorayahylmi, tapi pure mengemukakan pendapat >> (link blog saya)' eh, ternyata dapet respon dari mbak Soraya Hylmi, dibilang bagus, bahasanya ringan, mudah dicerna tapi berbobot positif. Alhamdulillah.. Padahal itu hanyalah celotehan seorang pemilih pemula. Hehehe
Then, sesuai janji saya kemarin, hari ini saya posting artikel 'Double Pilkada Part 2'
Saat saya mengetik ini, saya sembari menonton Debat Kandidat Calon walikota dan wakil walikota Tangerang. Debatnya bagus, berbobot. Berbeda dengan beberapa debat yang saya tonton beberapa hari lalu. Sungguh, yang ini membuat saya betah stay channel di depan TV (dan laptop).
Pendapat yang ingin saya kemukakan disini adalah...
Bicara masalah keutamaan kandidat, kita tidak melulunya terpaku dengan suatu hal atau nama yang khas atau mudah dikenal oleh masyarakat, seakan-akan popularitas menjadi modal yang utama. Hal ini tentu saja salah. Kenapa? Popularitas itu tidak bisa menggambarkan bobot dan potensi dari kandidat. Maka sebenarnya pembuatan nama yang bertujuan untuk ramah di telinga masyarakat itu percuma. Hal ini seperti memandang masyarakat berada di rataan kelas bawah. Maksudnya, kandidat beranggapan bahwa masyarakat tidak akan berpikir terlalu jauh mengenai seluk beluk kandidat. Yang penting dipilih. Hal ini terjadi terutama pada Pemilih Pemula dengan spesifikasi usia 17-19 tahun yang mayoritas dari mereka masih belum sadar politik. Inilah salah satu dampak dari tiadanya sosialisasi politik terhadap pemilih pemula.
Kedua, banyak sekali terjadi kesalahan mengenai visi dan misi kandidat yang seakan-akan cenderung memasukkan unsur program-program baru yang disuguhkan jika kandidat tersebut terpilih menjadi pemimpin. Ini bukan soal program semata ataupun esensinya, tapi yang utama adalah bagaimana caranya menjalankan roda kepemerintahan yang baik. Gambaran mudahnya seperti ini : Jika dalam suatu wilayah terdapat masalah, yang dibicarakan adalah bagaimana solusi untuk menangani masalah di wilayah tersebut secara MURNI atas pemikiran kandidat secara spontan namun sudah terpikirkan dengan matang, bukan malah 'mensinkronkan' solusi tersebut dengan program yang disuguhkan, karena sudah jelas ini adalah hal yang berbeda. Sehingga seringkali masalah seperti ini lagi-lagi bertujuan untuk mendongkrak popularitas karena mengatasnamakan program unggulan kandidat. Lama-kelamaan hal ini malah mirip dengan konsep Chauvinisme lho. Tahu kan, Chauvinisme adalah rasa cinta dan bangga yang berlebihan kepada etnis, suku, dan keyakinannya sendiri. Dan rasanya seperti ada penerapan konsep chauvinisme dalam diri kandidat yang sangat membanggakan program-programnya seakan-akan program itu adalah program terbaik dari semua kandidat. Padahal belum dijalankan tapi sudah mengambil kesimpulan akan berhasil.
Ketiga, hal ini sering membikin saya merasa miris. Pemilih pemula seringkali dieskploitasi haknya untuk menjadi tim sukses kandidat. Mereka disuruh berkeliling kota dengan mengendarai motor (dengan mayoritas berknalpot telo yang bunyinya merdu sekali). Saya sungguh tidak mengerti, apa esensi dari konvoi ini. Mereka tidak tersadar bahwa yang mereka lakukan itu sebenarnya tidak membawa dampak yang sangat besar bagi kandidat. Terlebih karena ini dalam konteks konvoi dan mentang-mentang sudah mendapat pengawalan dari polisi, mereka mengabaikan keselamatan dan cenderung melupakan peraturan lalu lintas seperti tidak memakai helm. Sepele memang, tapi ini justru menggambarkan bahwa tidak adanya kesadaran berpolitik. Artinya, mereka sudah mengesampingkan keselamatan mereka sendiri.
Berikutnya, Provokasi. Ah, hal ini sudah biasa, tapi tetap saja membikin gereget juga. Kenapa? Karena tidak jarang kandidat seperti makin gencar mengunggulkan programnya dengan catatan kaki 'merevisi' program unggulan kandidat lain. Apakah ini termasuk plagiat? Tentu! Karena ini bicara soal ketepatan waktu membuat program unggulan. Merevisi itu mungkin lebih baik, tapi terkadang juga seperti menggambarkan ketidakfreatifan kandidat membuat program. Tidak hanya itu, banyak sekali pihak misterius yang sering membuat posting bahkan dimuat di media cetak mengenai kampanye yang cenderung menyudutkan kandidat lain. Jangan mudah terprovokasi! Hal ini hanya bertujuan untuk menambah simpati masyarakat dengan cara yang menurut saya tidak lazim.
Kemudian, saya kurang setuju dengan adanya area-area atau wilayah tertentu yang di-klaim sebagai wilayah kekuasaan kandidat atau partai. Mungkin sejauh ini terlihat lumrah, tapi malah menimbulkan persepsi 'fanatik partai'. Belum lagi akan menimbulkan persepsi pembunuhan hak asasi. Memilih kandidat itu merupakan rahasia pribadi yang patut dihormati agar tidak menimbulkan kontra bahkan permusuhan. Tiap inidividu pasti mempunyai pendapat dan keyakinan berbeda. Ini Indonesia, tidak boleh ada keseragaman pendapat secara keseluruhan yang cenderung memaksa
Para Pemilih pemula, ingatlah. Kita sangat berpengaruh. Mumpung belum berangkat ke TPS, kita harus menyadari kembali siapa nantinya yang akan kita pilih. Jangan golput! Golput itu sama saja tidak berpikir cerdas dan cenderung menggambarkan sifat malas. Pribadi kandidat itu bisa kita ketahui secara kentara melalui cara bicaranya kok, kita bisa tahu secara langsung gambaran potensi kandidat. Tapi jagnan sampai terkecoh dengan kandidat yang pintar omong semata. Because PERSUADE IS NOT A FORCING! Biarkan kami memilih sesuai dengan keyakinan kami sendiri.
Tak hentinya saya mengingatkan, di sini saya netral, tidak membela siapapun. Saya tahu siapa yang harus saya pilih dengan alasan yang saya pendam sendiri karena tidak ingin menuai kontra. Pilihlah yang terbaik menurut kalian. Terimakasih.
No comments:
Post a Comment