Wednesday, 21 August 2013

Saya (bukan) ibunya Baim

Baim menjerit. Tiga orang temannya mengejarnya hingga teras rumah. Mereka berempat bersenda gurau riang sekali. Sesekali saya tengok Baim dari minimarket seberang jalan. Hingga saya melihat Baim tengah menatap saya di minimarket dibalik besi pagar rumah seakan ia ingin keluar.
Saya menyeberang jalan dan menghampiri Baim. Ia tersenyum. Saya berjongkok dan bertanya padanya, 'Baim kenapa?'
'Baim boleh beli-beli?' tanyanya dengan muka polos.
Saya hanya tersenyum. Membukakan pintu pagar. Saya menggendong Baim menyebrang jalan untuk ke minimarket. Saya turunkan Baim saat masuk ke dalam minimarket dan membiarkan ia memilih makanan yang ia mau. Saya terus mengekorinya agar ia tidak sembarangan memilih makanan. Ia mengambil susu kemasan siap minum rasa cokelat. Setelah itu, Baim berlari ke arah kasir untuk mem-barcode minuman tersebut. Kemudian ia menatap saya yang sayapun tak tahu apa maksudnya.
'Mau langsung diminum?' tanya saya sambil berjongkok menyamai tinggi badannya.
Baim mengangguk. Saya membukakan plastik yang membungkus sedotan dan mencobloskannya pada kemasan susu itu. Saat saya baru saja berdiri kembali, Baim menarik-narik celana saya dan berkata, 'Pulang,'
Saya tersenyum. Kemudian saya menggendongnya untuk menyebrang dan mengantarkannya pulang ke rumah. Saya turunkan Baim di teras rumah dan berkata, 'Baim main di rumah aja ya, jangan nakal,'. Baim hanya mengangguk dan masuk ke dalam rumah.

Selang sejam kemudian, teman Baim yang bernama Sasa, berteriak kencang sekali. 'Bu'e, Baim tidur di kursi teras!'
Sontak saya terkejut. Saya menyebrang jalan sambil berlari. Saya melihat Baim sudah tertidur pulas di kursi teras. Padahal beberapa saat yang lalu saya masih melihatnya berkejar-kejaran dengan teman-temannya. Kemudian saya menggendongnya ke dalam kamar saya dan mengusap dahinya yang deras akan air keringat.
'Mungkin Baim kecapekan, jadi dia tidurnya tiba-tiba,' gumam saya. Saya tak tega membiarkan Baim sendirian. Akhirnya saya menemaninya tidur sambil mengipaskan lipatan kertas padanya. Ia terlihat sangat gerah, terbukti keringat selalu mengucur di dahinya. Sayapun ikut tertidur di kamar bersama Baim siang itu.

***

Jam dinding telah menunjukkan pukul 11 malam, tapi Baim tak kunjung tidur. Ia memang terbiasa tidur larut malam. Berkali-kali saya membujuknya agar segera tidur dengan berjanji akan membuatkannya sebuah gambar Ultraman Gaia. Tapi ia tak mau berbaring juga. Ia menggoda saya dengan mematikan lampu kamar dan saya menegurnya, 'Kalo lampunya dimatikan, nanti hantunya keluar lho,'. Seketika Baim menyalakan lampu kembali.
Saya menggelitik pinggangnya. Ia menggeliat geli. Saya memangkunya dan mengambil secarik kertas untuk menggambar. Aziel, sang kakak, jadi ikutan tertarik untuk menggambar. Ia duduk di samping saya, memperhatikan setiap siluet Ultraman Gaia yang saya torehkan di kertas. Tanpa saya sadari Baim sudah tidak ada di pangkuan saya. Saya mendengar jeritan manja Baim yang tengah dipeluk lelaki bertelanjang dada di kursi ruang tengah. Ia tengah bercanda dengan pamannya. Saya hanya tersenyum melihatnya. Ia tampak riang meski ini sudah malam.

'Kita baca dongeng, yuk!' tawar saya pada Aziel. Baim melonjak tertarik. Ia berusaha kabur dari pelukan Pamannya. Ia berlari ke arah saya dan memaksa saya untuk segera membacakan dongeng.
'Baim pengen dongeng Dinosaurus!' katanya antusias.
'Tapi syaratnya harus sambil tiduran, ya.' Tanpa babibu, Aziel dan Baim naik ke atas ranjang dan saya tidur di tengah-tengah mereka. Saya mulai membacakan dongeng tentang Dinosaurus. Belum semenit saya membaca dongeng, Aziel merebut buku dongeng itu dari tangan saya, 'Biar Aziel aja yang baca,' namun Baim memberontak tidak suka. 
'Tidak apa-apa, kan yang penting dibacakan dongeng,' kata saya sambil membelai rambutnya yang halus.
Mata saya tertuju pada buku dongeng yang dipegang Aziel. Ia membacakan dongeng dengan mahir hingga saya ikut tertawa. Namun saat saya melihat Baim, ajaib! Ia sudah tertidur pulas.
'Baca dongengnya sudah selesai, sekarang saatnya tidur,' kata saya pada Aziel.
'Tapi dongengnya belum selesai dan Aziel belum ngantuk,' jawabnya.
'Kalo Aziel bacanya keras-keras, nanti Baim terbangun,' kata saya.
Aziel melengus kesal sambil menutup buku. Kemudian ia beranjak dari ranjang. 'Aziel mau nonton Dunia Lain dulu, Aziel belum ngantuk,' katanya berpamitan.
'Tapi Aziel tidurnya jangan malam-malam ya,' kata saya. Seketika ia keluar kamar dan menutup pintu.

Saya memakaikan selimut di atas tubuh Baim agar ia tidak kedinginan. Beberapa menit kemudian saya tertidur juga. Tapi malam itu saya selalu terjaga. Tiap kali saya membuka mata, posisi Baim sudah jauh dari saya. Bahkan ia sampai tidur di pojok ranjang. Sayapun segera memindahkannya ke tengah ranjang agar ia tidak jatuh ke lantai. Saya juga memeluknya agar ia tidak bergerak berpindah posisi terlalu jauh dari saya.

Paginya saat saya terbangun, saya melihat Baim masih tertidur pulas di samping saya. Saya mengusap rambutnya yang halus penuh dengan rasa sayang kemudian saya mencium keningnya. Ia menggeliat dan saya hanya tersenyum. Kemudian saya meinggalkannya untuk mandi.

Siangnya, Baim sudah siap dengan kopernya. Ia bersiap-siap meninggalkan Jember. Ia harus pulang ke rumahnya di Denpasar. Usai semuanya siap, Aziel dan Baim segera masuk ke dalam mobil meskipun mobil masih dalam proses pemanasan. Berat bagi saya melihat mereka pergi, terutama Baim. Saya merasa senang, merawatnya sungguh-sungguh dan menjaganya tidur semalam. Saya telah menjadi 'ibu' dalam semalam. Tapi saya tetap bukan ibu Baim. Kemudian mobil berwarna biru metalik itu pergi meninggalkan rumah dan saya sempat melihat ada lambaian tangan kecil di balik jendela mobil. Sampai jumpa, Baimku...

No comments:

Post a Comment