Kalo ini sih hasil konsep absurd sebelum tidur.
First of all, entah kenapa pengen bilang "Aku kangen kamu, Riadi"
*skip*
Sebagai manusia yang hobinya mengeluh tiap hari, selalu ada saja kata-kata umpatan yg keluar dari mulut ataupun hanya terucap dalam hati saja.
Aku lupa kapan terakhir aku mengucapkannya, atau pada siapa terakhir aku mengucapkannya.
"Ketika Papa pergi, sembilan per sepuluh dari diriku ikut pergi. Jadi sebenarnya aku ini hanya mayat hidup. Mayat yang seakan-akan hidup, atau manusia hidup yang sebenarnya mati"
Ah, Dhita lebay.
Ya.
Tidak.
Bisa jadi.
*maaf, anda gagal mendapatkan uang tunai senilai dua juta rupiah. Terima kasih*
Aku tidak tahu bagaimana caranya merangkai kata agar terlihat agamis. Aku percaya pada Tuhanku. Aku sangat yakin kepada-Nya. Aku yakin Dia menjaga Papaku disana. Dia masih menjaga dekatnya jarak antara aku dengan Papa.
Aku tidak pernah bermaksud berpaling dari Tuhan. Tapi di saat aku frustrasi, yg aku ingat pertama kali adalah Papa. Entah mengapa wajah tampannya itu mampu mengusap hilang raut kecemasan di wajahku. Semakin lama semakin dalam. Seakan-akan Papa membisikkan sesuatu kepadaku, "Kamu kuat, Nak" atau "Sabar, Nak"
Aku akui, aku sering lemah iman jika mengingat Papa. Betapa aku selalu ingin berada di dekatnya. Aku tidak sedang menantang maut, tapi aku sangat ingin berkumpul lagi dengan Papa.
Aku tidak mau munafik, tanpanya, AKU HANYA MAYAT HIDUP!
Katakanlah aku ini adalah seorang ratu drama!
Aku sanggup kehilangan seluruh dunia, asalkan aku masih memiliki Papa.
Pria gagah sumber kekuatanku selama ia tinggal pergi, hanya tergiang dalam imaji belaka.
Papa, aku kangen...