Monday, 9 June 2014

Kekayaan dan Kemiskinan.

"Nama saya Dhita Rizky, dan saya bukan seorang uztadzah"

sewaktu saya masih SMA, saya pernah mendengar suatu ceramah Ramadhan di sekolah. Satu kalimat yang saya ingat namun tidak bisa saya cerna....

"Allah menguji manusia tidak hanya dengan kemiskinan, tapi juga kekayaan"

 Seketika saya berpikir keras, bagaimana bisa kekayaan yang bisa kita gunakan untuk berbagai hal, sekaligus otomatis pasti bisa menyenangkan hati kita secara materi, adalah suatu bentuk ujian dari Allah? Bukankah kekayaan itu salah satu dari bentuk rezeki?

Seringkali saya juga mendengar pepatah seperti ini;

"Kebahagiaan tidak bisa ditukar dengan harta"
Sebagai manusia yang tahu apa itu kekayaan, saya jadi bingung. You must be joking! Dengan harta yang banyak, kita bisa membeli apa yang kita mau, bukan? Rumah mewah, mobil mewah, makanan yang enak, berbagai fasilitas yang menunjang kehidupan, hingga benda-benda yang sebetulnya tidak terlalu dibutuhkan. Bahkan, dengan bermodalkan harta yang melimpah, kita juga akan lebih mudah untuk bersedekah. Bukan begitu, teman?


Tapi, bagaimana jika kemudian harta bisa merampas kebahagiaan, kebersamaan, persaudaraan? Bagaimana jika harta bisa menaikkan harkat martabat, kelas, status, dan kasta?

-saya tidak bermaksud menyinggung siapapun-

Bagaimana jika harta bisa menimbulkan sifat angkuh, sombong, pelit, kedekut, jahat, durhaka, murka bahkan serakah?
Ketika orang yang dulu pernah dekat dengan kita, kini telah antipati dengan kita hanya karena kita pernah angkuh dan sombong atas harta kita. Kita juga enggan untuk berbagi dengan mereka. Di saat kita tengah tersepit keadaan, sebenarnya harta bisa menolong kita, tapi hanya dalam waktu jangka pendek. Karena harta punya kuantitas yang jelas. Karena harta bisa habis. 

Saya jadi paham, mengapa kekayaan juga disebut ujian dari Allah.
Allah menguji manusia, apakah harta yang dimilikinya bisa bermanfaat. Apakah hartanya barokah. Apakah hartanya tidak terbuang sia-sia. Apakah manusia mampu mempertahankan hartanya. Apakah manusia bisa bertahan dengan hartanya.

Ketika kita kaya, lalu mendapat musibah, jumlah harta yang keluar untuk menyelamatkan kita dari musibah tentu tidak akan dihitung jumlahnya. Tau-tau setelah kita lolos dari musibah, kita baru menyadari bahwa harta kita berkurang. Lalu kemana lagi kita akan berlari? Berlari sambil terus menunjukkan sikap angkuh dan kedekut atas harta kita?

Ingatlah, tidak ada harta di dunia yang abadi kecuali amal ibadah. Sederhana saja, menjaga tali silaturahmi itu sudah ibadah. Jangan sampai tali silaturahmi putus hanya karena harta. Gunakan harta untuk membantu sesama, niscaya Allah akan terus menambahkan rezki dan nikmatnya. Jangan takut harta habis. Karena hakikatnya seperti menanam padi. Kita tanamkan benih kebaikan (dalam hal ini mengamalkan harta kita), lalu kita petik hasilnya nanti. Apa yang kita semaikan dengan tulus ikhlas, Insya Allah, Dia akan memberi kita lebih. Jangan lupa untuk selalu bersyukur atas harta yang kita miliki.

-sekali lagi, saya tidak sedang menyinggung siapapun-

So, kontemporer people sekalian yang baik hatinya,
mulailah berbenah diri. Kita tengok dan cermati, harta kita akan digunakan untuk apa. Jangan kedekut kalau ingin bersedekah. Karena sebenarnya tujuan bersedekah adalah membantu sesama sekaligus membersihkan harta kita. Mudah-mudahan harta yang kita miliki adalah harta yang barokah. Aamiin.

Dan sekarang saya mengerti, mengapa Allah juga menguji manusia dengan kekayaan. Mudah-mudahan kita tidak termasuk dalam orang-orang yang mudah takabur karena harta, angkuh karena harta, sok karena harta, pelit karena harta. Jangan takut harta akan habis, selagi kita menggunakannya dengan bijaksana. Nikmati dan manfaatkanlah harta. Nikmati hasil jernih payahmu, bermanfaat bagi dirimu dan juga orang di sekitarmu.

Terakhir,
"Berhati-hatilah dengan hartamu,"

No comments:

Post a Comment