
And yeaaaahhh!
Dear Kontemporer People... *efek nulis e-mail setiap hari*
Finally I can find this kind of soft drink! PEPSI BLUE!
Saya sudah lupa, kapan terakhir kali saya minum Pepsi kaleng. Seingat saya sih waktu kelas 5 SD. Tapi terakhir kali minum benda cair ini waktu ke KFC kelas 9 SMP. Dan entah kenapa belakangan ini ngotot banget pengen minum Pepsi Blue kaleng lagi.
Yap, saya adalah penggemar minuman bersoda semacam produk-produk dari Coca Cola Company dan minuman bersoda lainnya. Mulai suka minum beginian diajarin Papa waktu masih TK, awalnya cuma Fanta Fruity, apalagi kesukaan saya yang rasa melon. Sedari dulu saya sudah tahu efek samping dari suka minum soda, salah satunya adalah pengikisan zat kalsium dalam tulang sampai infeksi pencernaan. Tapi gede-gedenya makin menggila. Saya sempat jadi cewek semi 'rusak' gara-gara sempat frustasi sedikit. Pas kelas 1 SMA lagi banyak masalah kompleks, nenangin diri pake minum soda berbotol-botol. Merasa kurang mempan, coba-coba Mix-Max dan Vodka, tapi rasanya nggak enak. Yerk.
-Kelihatan dari luar, saya ini cewek baik-baik. Tapi percayalah, diam-diam dulu saya memang sempat 'rusak'. Everybody has any pasts, right?-
Well, saya beli Pepsi Blue ini di salah satu minimarket waralaba paling terkenal se-Indonesia (yeah, you know what) di dekat rumah saya. Begitu masuk minimarket, ada seorang bapak melakukan pembayaran di kasir.
Kasir : 'Bapak, seratus rupiahnya boleh disumbangkan ke PMI?'
si Bapak : *menggeleng*
Kasir : *dengan nada ragu dan menahan malu* Eeee... Enggak pak?'
si Bapak : *tetap menggeleng*
Ckckckck...
Dalem ati saya bergumam 'Andai saja malam begini kantor PMI buka, udah aku samperin deh buat konfirmasi adanya beginian'
-yeah, you know, saya ini termasuk orang yg responsif. Biskuit Better teksturnya berubah aja saya langsung kirim e-mail ke customer service Mayora loh. Seminggu kemudian saya ditelepon sama pihak Mayoranya untuk konfirmasi. Lebay sih emang. But I think that's cool-
Setelah saya mengambil biskuit cokelat pesanan mama saya beserta Pepsi Blue tersebut, saya menuju kasir dengan harapan saya nggak ditawarin seratus rupiah saya minta disumbangkan ke PMI.
Kasir : 'Total semuanya Rp12.900, Mbak. Ini struk dan kembaliannya'
Kenapa mbak ini nggak menyebutkan nominal kembaliannya ya? Saya bayar pakai uang 50.000an, tapi kembaliannya cuma Rp37.000. Seratus rupiahnya kemance?
Gila ini kasir! Seratus rupiah gue disumbangin ke PMI tanpa pamit!
Saya : 'Mbak, seratus rupiah ini nggak ada permen paling nggak enak sedunia atau apaaaa gitu?' *nada jutek efek service BB lama banget*
Mbak kasirnya nggak jawab apa-apa. Tapi malah ngasih koin 200 perak ke saya. Lebih 100 perak sih, tapi daripada saya banyak bacot dan cari ribut di minimarket tersebut, saya memilih pergi. Lumayan, seratus perak...
Mungkin cuma seratus perak. You know what? Itu seratus perak masuk kantong kasir! Coba kalo diakumulasi jumlah pembeli dalam satu hari. Kira-kira paling sedikit dapet 20 ribu. Saya sih nggak mempermasalahkan seratus peraknya, tapi mengatasnamakan PMI-nya! Ini instansi sosial kenapa disalahgunakan namanya? Maksudnya biar orang simpati dan ikhlas ngasihin uangnya gitu? Seratus rupiah itu ngga dapet satu kali sms! Dan nggak semua orang pakai Telkomsel! *eh
Jujur, kalo ngga lagi bener-bener kepepet, saya males banget jajan di minimarket waralaba satu ini. Entah kenapa harganya bisa lebih mahal daripada harga di supermarket.
-yang tahu alasannya, leave comment, please-
but, btw entah kenapa rasa Pepsi Blue yg ini tidak selembut dulu ya? Yang ini hampir nggak ada bedanya sama Coca-cola meskipun rasa 'Blue'-nya tetap ada, tapi tektur airnya kasar. Hmm tapi saya suka
No comments:
Post a Comment