“Kemana aku akan berjalan? Apa aku hanya bisa diam di tempat dan bersifat statis seperti ini?” Cela bingung apa yang harus ia perbuat. Sementara Edwin masih terus saja menyiksa batinnya. “Apa aku harus jujur pada Edwin? Tapi tak mungkin aku mengatakannya. Dia pasti nggak suka,”
Tak lama ponselnya berbunyi dan ada sms masuk. Diraihnya ponsel itu dan ia nyaris melonjak terkejut. Sms itu dari Edwin. Bagaimana ia tidak kaget, akhirnya Edwin menghubunginya juga setelah kurang lebih sebulan Edwin menghilang bak ditelan bumi dan tak pernah menghubungi Cela lagi. Cela senang bukan kepalang membaca sms itu, biarpun isi pesan itu hanyalah “Ur…” dan Cela membalasnya, “Sahur”. Ya, Cela yakin, itu yang Edwin maksud. Namun sayang, Edwin tak membalasnya lagi.
Tak heran. Edwin memang pelit kata.
Esoknya, ia tak menemui batang hidung Edwin di sekolah. System dinamis yang dianut sekolahnya memang mempersulit Cela untuk menemui Edwin. Baiklah, untuk hari ini hasilnya nihil.
Keesokan harinya, Cela mencoba mencari Edwin lagi di sela-sela pergantian jam pelajaran. Dan berhasil. Terlihat dengan gaya pendiamnya, Edwin enteng sekali membawa laptop di tangannya dan mengantri masuk kelas bahasa inggris. Namun Cela tak bisa berbuat apa-apa selain menatap diri itu menghilang memasuki kelas. Karena tergambar jelas di raut muka Edwin yang memampang muka manyun dan jutek.
Minggu. Seperti biasa, Cela hanya bisa galau. Hari ini terasa monotone seperti hari yang lain. Mungkin hanya Septian dan Dendy yang bisa ‘menghibur’ ponselnya yang sepi karena tak ada satupun pesan dari Edwin yang masuk.
Senin. Inilah kali pertama ia menjadi ketua sebuah ekstra baru. Cukup menyenangkan. Karena kegiatan itu bisa sedikit mengalihkan pikirannya dari Edwin. Namun sial, saat ia dan beberapa anggota ekstranya berkumpul di aula, muka manyun itu muncul dengan entengnya dan tak berusaha menghindari Cela. Memang aneh. Biasanya tiap melihat Cela, matanya langsung terpalingkan pada pandangan lain. Cela mencoba stay cool.
Dan yang membuat Cela lebih heran, Edwin duduk di kursi dimana disitu ada tas Cela. Ia justru langsung duduk tanpa memindahkannya. Cela makin bingung. Bagaimana caranya ia membawa kabur tasnya itu jika seakan Edwin menahannya. Cela mencoba cuek dan focus pada anggota ekstranya yang masih belum lengkap.
Hingga Edwin berceletuk, “Oh, ternyata kamu buka ekstra patrol ya, pake bawa galon segala,”
Cela tahu, Edwin hanya bercanda. Hanya saja ia bingung apakah ia mau menanggapi candaan Edwin atau hanya diam saja. Tapi terbesit di otaknya, mungkin dengan merespon Edwin, keadaan bisa membaik. “Enak saja! Justru ini yang disebut kreatifitas!”
“Oh, kirain mau patrol. Coba sini, pinjam galonnya,”
Seolah tak pernah ada apa-apa. Malaikat mana yang berhasil menghasut Edwin untuk kembali pada sifatnya sediakala, begitu ramah pada Cela. Yang jelas, Cela tampak senang, Edwin tak lagi diam seribu bahasa padanya. Mulai lagi ada canda tawa. Cela membiarkan hal itu terjadi walaupun secara sadar ia tahu, bahwa sebenarnya hal itu hanya akan bisa melukai batinnya lebih dalam lagi.
Aku nggak ngerti apa yang kamu mau, Ed.
Tapi, walaupun aku tahu, semua ini hanyalah semu, aku ingin bertahan.
Setidaknya aku bisa bahagia bisa dekat denganmu dan mendapatkan kasihmu meski itu tak nyata
Rasa sakit ini bisa jadi bahagia, walau bahagia ini terasa sangat sakit
Tetaplah seperti ini, Ed. Karena dengan seperti ini aku bisa mencintaimu
“Pulang jam berapa?” Tanya Edwin tiba-tiba yang membuyarkan lamunan Cela.
“Kurang tahu. Tapi kayaknya sampe sore. Soalnya masih ada yang mau curhat sama aku,” jawab Cela enteng.
“Oh, gitu. Ya udah, ke kelas sana, buruan dimulai. Kasihan anggotanya pada nungguin dari tadi,”
“Ngusir nih?” Cela pura-pura tersinggung.
“Iya, aku usir. Pergi sana!” jawab Edwin dengan senyum membubuhi muka manisnya.
Dan Celapun pergi.
Kapan bisa terulang lagi? Aku masih kangen kamu, Ed….
No comments:
Post a Comment