“Pagi, guys!” sapa Kerlinda ramah.
“Pagi, Ker,” jawab Guntur dan Mario menghentikan kegiatan mereka masing-masing.
“Turangga mana?” tanya Mario menyadari ketidakhadiran Turangga bersama Kerlinda seperti biasanya.
“Dia lagi sakit. Hari ini dia absen. Kasihan Turangga, semalem gue dari rumahnya. Mukanya pucet, badannya lemes kayak nggak ada tenaga gitu,” jelas Kerlinda memberitahu Mario dengan tampang sedih. Kerlinda memang sedih jika Turangga sakit.
“Terus lo berangkat sama siapa?” timpal Guntur.
“Sama pacar baru,” sahut Yosua sambil meninggalkan ketiga sahabatnya ke kelas.
Kerlinda heran mengapa Yosua mempunyai pikiran sepeti itu? Apa ia dan Daniel sudah terlihat seperti pasangan kekasih?
“Elo punya pacar, Ker?” tanya Mario juga kaget dengan jawaban Yosua yang ketus itu.
“Pacar? Gue nggak punya pacar, kok!” sergah Kerlinda tidak membenarkan.
“Terus elo berangkat sama siapa?”
“Sama temen gue. Beneran dia temen gue, nggak pacaran,” terang Kerlinda mengaku.
“Terus tadi kenapa lagi tuh si Yosua?” tanya Mario sambil mengambil tas ranselnya.
“Cemburu kali, Kerlinda dianter cowok selain Turangga,” goda Guntur pada Kerlinda.
“Cemburu?” tanya Kerlinda tak percaya, “Ngapain juga Yosua cemburu sama gue?”
“Kali aja foto yang ditempel di cermin itu foto lo. Hahaha,” canda Guntur lagi yang kali ini ditambah dengan tawa keras.
“Lo ngaco, ah, doain gue cepet mati!” protes Kerlinda.
“Siapa juga yang doain lo cepet mati?” protes balik Guntur.
“Kan udah gue bilang kalo gadis yang ada di cermin itu akan cepat mati,” jelas Kerlinda mengingatkan Guntur akan pengelihatannya.
“Ker, mati itu ditangan Tuhan. Lo nggak bisa ngelihat kematian,” kata Mario meremehkan Kerlinda.
“Ya semoga saja cewek itu bukan gue. Gue masih pengen lulus kuliah dan kerja,” ketusnya sambil berjalan menuju kelas.
“Kalo gue mah masih pengen ngerasain punya istri,” canda Mario berbisik pada Guntur.
“Hahaha, gue setuju sama elo, Bro!” jawab Guntur sambil tertawa tak tertahankan dan setuju.
No comments:
Post a Comment