"Nama saya Dhita Rizky Amelia Arifin. Usia saya 20 tahun. Saya adalah pemilih pemula dalam Pemilu 2014"
Saya menginjak usia 17 tahun itu kurang lebih 3 tahun lalu. Usia 17 tahun adalah batas usia standar Indonesia untuk mulai memiliki KTP, SIM, bahkan sampai ke Pemilu/Pilkada. Pertama kali saya ikut coblosan adalah ketika pilkada walikota Probolinggo dan Pilkada Gubernur Jawa Timur pada tahun 2013 lalu. Coblosan edisi kedua saya adalah pemilu legislatif pada tanggal 9 April lalu.
Jujur saja, saya mulai melek politik ketika saya berusia 19 tahun, yakni tepat tahun lalu. Saya mulai mempertimbangkan Cawali dan Cagub yang akan saya pilih karena potensi, kredibilitas, dan program kerja yang diusung setiap Cawali dan Cagub. Saat itu, suara saya memang PANTANG dibeli. Karena saya ingin menguji diri saya sendiri, apakah ideologi saya sudah pantas disisipkan di dunia politik.
Sebagai pemilih pemula, saya BETUL-BETUL masih BUTA POLITIK. Yang saya tahu sedari dulu, politik itu kejam, tidak adil, mengubah kawan menjadi lawan, bahkan sampai tidak berperikemanusiaan. Hati saya miris melihat berbagai pemberitaan yang bersifat 'menyikut' dan berusaha menjatuhkan lawan. Saya pun sampai tidak habis pikir. Pers yang harusnya memberikan berita yang benar-benar AKTUAL dan bersifat NETRAL, kini sudah mulai menjadi senjata ampuh untuk melancarkan misi tim sukses.
Belakangan ini saya mulai kembali gemar menilik Facebook saya lagi setelah saya biarkan hampir membusuk. Karena saat itu saya sudah terlalu muak dengan ke-4L4Y-an yang makin merajalela di Facebook. Dan karena makin banyaknya berita politik yang di-share di Facebook, saya jadi tertarik lagi untuk sekedar membuka berita tersebut, atau saya share ulang. Namun sayangnya, berita-berita tersebut merupakan berita yang tidak bersifat netral aliyas lebih menjurus mengunggulkan atau malah menjatuhkan salah satu pihak calon.
Yah, ini dunia maya. Internet yang semakin lama semakin mudah untuk diakses membuat banyak peselancarnya menghabiskan waktu untuk surfing tentang berbagai hal. Daripada susah-susah menerbitkan tulisan di koran, kenapa tidak di-publish di dunia maya saja? Terlebih sekarang sudah banyak akun-akun social media yang mempermudah penggunanya untuk menyebarkan sesuatu. Dan hal inilah yang membuat setiap posting menjadi terlihat BENAR! Mulai dari mengunggulkan sampai menjatuhkan. Setiap pemberitaan seolah tidak ada yang salah. Saya yakin, orang yang memposting pun meyakini suatu hal, 'Mayoritas dari pengguna akun media sosial seperti Facebook, Twitter, dan Path adalah para remaja, at least usia mereka masih muda dan tergolong dalam pemilih pemula yang masih buram pandangan terhadap politik. Mereka sangat mudah dipengaruhi!'
'Proudly, I'm standing on the right side!'
'Mari, kita selamatkan Indonesia!'
See? Sudah sedikit paham? Prinsip-prinsip seperti itu lahir karena HASUTAN banyak posting yang merajalela di berbagai media sosial. Saya sampai ingin mati tertawa mendengar kabar sepasang kekasih berantem karena mereka mendukung kubu yang berbeda. Duh, kasihan...
Dalam waktu singkat, penulis-penulis awam pun banyak bermunculan. Mulai dengan kalimat-kalimat 'tinggi' sampai ke kata-kata kampungan, semuanya ada. Mereka berusaha meyakinkan bahwa pilihan mereka adalah pilihan yang terbaik. Contoh kecil; Debat Capres dilaksanakan setiap Minggu malam. Senin dini hari pun sudah banyak berbagai pemberitaan di media mengenai Debat Capres tersebut. Ulasannya mulai dari hal-hal yang sepele sampai hal-hal yang sangat mendetail. Bahkan tak jarang pemberitaan tersebut dilebih-lebihkan. Diberi bumbu-bumbu biar makin sip. Gosip yang biasanya menyerbu selebriti, sekarang malah banyak menyerbu Capres. Mulai dari berita tentang pencitraan lah, berbagai kasus yang pernah melilit Capres lah, koar-koar kinerja Capres lah, dan masih banyak lagi.
Masih ingat dengan postingan saya tentang 'Double Pilkada' dan 'Double Pilkada part 2'?
Ya, artikel busuk ala ababil yang sempat di-share oleh tokoh idola saya, Mbak Soraya Hylmi, bisa dibaca kembali. Bagaimana pemilih pemula agar berpikir objektif sesuai dengan potensi Capres. Mungkin sampai sekarang, kapasitas otak saya masih belum memumpuni untuk diajak ngobrol soal politik. Tapi setidaknya, saya tidak mau buta politik lagi.
Politik ini bukan sekedar politik yang seringkali dipandang sebagai pihak yang najis, kejam, tidak adil, kotor, identik dengan korupsi dan munafik. MENURUT SAYA (yah, anggap dulu saja opini saya ini benar. Kan jaman sekarang tidak ada opini yang salah :p) politik hanyalah 'preparat' untuk menjalankan roda pemerintahan. Ups, harus bisa dibedakan ya. Mana politik dan mana yang 'politik'. DPR dan DPRD adalah contoh dari badan pemerintahan, tapi di dalamnya mau tidak mau memang ada unsur 'politik'. Itu sebabnya saya tekankan, tolong bedakan politik dengan 'politik'
"Nama saya Dhita Rizky Amelia Arifin. Usia saya 20 tahun. Saya adalah pemilih pemula dalam Pemilu 2014"
Saya ingatkan sekali lagi, saya hanya pemilih pemula berusia 20 tahun. Benar atau tidaknya opini saya, semua kembali kepada para pembaca.
KALAU SAJA Bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono MASIH diperbolehkan untuk mencalonkan kembali menjadi Presiden, tanpa ragu saya pilih beliau. Banyak yang protes dan melakukan aksi demonstrasi yang ditujukan kepada Pak Presiden SBY karena kasus-kasus yang menjerat kader-kader partai Demokrat.
Tunggu! Saya sebagai lulusan SMA kelas IPS, saya sempat mempelajari ilmu sosiologi. Setiap manusia itu mempunyai beberapa peran yang harus dijalankan, yang kerap disebut sebagai peran sosial. Contoh kecil; Di Perusahaan Farmasi, Pak Achmad menjabat sebagai Manajer Keuangan. Di Perumahan Griya Asri, Pak Achmad menjabat sebagai Ketua RT. Di rumah, Pak Achmad adalah kepala keluarga. Sama halnya dengan Bapak Presiden SBY. Di Indonesia, Bapak Presiden SBY adalah seorang Presiden yang memimpin bangsa ini. Di Partai Demokrat, Bapak Presiden SBY adalah Ketua Umum Partai. Lah kok Pak Presiden dinilai tidak pantas menjadi Presiden karena banyak kadernya yang terlibat kasus korupsi seperti Nazaruddin, Anas Urbaningrum, dan Andi Malarangeng. Dua hal tersebut adalah hal yang berbeda! Yang korupsi kan kadernya, kenapa harus disangkut-pautkan dengan peran Bapak Presiden SBY sebagai pemimpin negara? Meskipun kata kebanyakan orang, hal ini masih ada relasinya, tapi menurut saya hal ini TIDAK NYAMBUNG!
Rasa dan ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya saya haturkan dengan penuh rasa hormat kepada Bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang sudah berjasa selama 10 tahun untuk memimpin bangsa ini. Meskipun masih banyak hal yang perlu dikoreksi, tapi saya yakin banyak perubahan positif yang terjadi di negeri ini.
Last, ingat ya pemilih pemula, JANGAN GOLPUT! GOLPUT MENUNJUKKAN SIFAT MALAS! TIDAK CERDAS! Perbedaan Golput masa orba dan masa sekarang itu jauh berbeda. Golput masa Orba adalah bentuk ancaman, kecaman, dan protes karena sistem pemerintahan yang kurang bagus. Kalau ingin negaranya jauh lebih maju, kenapa harus GOLPUT?
YUK NYOBLOS! :)

No comments:
Post a Comment