Aku berdiri tepat di
atas garis marka jalan yang terputus-putus. Aku lupa saat itu pukul berapa. Yang
aku ingat hanyalah tidak ada satupun kendaraan bermotor maupun kendaraan tidak
bermotor berlalu lalang. Tidak ada sama sekali. Tidak ada suara bingar knalpot telo di malam minggu. Aku menutup
mataku. Aku membiarkan telingaku
mendengar dengan seksama.
Suara desah angin
yang lumayan kencang sedang menyusuri jalan Suroyo. Kekuatannya menjatuhkan hampir
seluruh bunga kuning kecil dari pohon besar –yang akupun tak tahu nama pohon
besar itu- yang terjejer di sisi kanan kiri jalan. Seperti di luar negeri saja.
Bunga-bunga kuning kecil berguguran pelan.
Kemudian aku nekat
untuk membuka mataku. Awannya mendung, gelap sekali. Aroma tanah semakin
menusuk hidungku tanda hujan hendak turun. Aku menggerakkan kedua bola mataku
untuk melihat sekeliling. Hanya ada aku yang berdiri di sepanjang jalan Suroyo.
aku masih berdiri tepat di atas marka jalan yang terputus-putus. Kudengar suara
angin sedang berlomba dengan suara gemertak gigiku yang mirip gigi kelinci. Aku
menggigil kedinginan.
Merasa ketakutan, aku
berlari ke arah selatan. Aku berusaha menerobos lapangan komando distrik
militer VI yang arsitektur bangunannya masih londo banget. Seandainya lapangan kodim itu tidak ada, sudah pasti
jalan Suroyo langsung terhubung dengan jalan rumahku, Jalan Cokroaminoto.
Masih dalam derap
langkah lariku, aku berhipotesa sendiri. Pasti dulu jalan Suroyo dan jalan
Cokroaminoto ini menyambung. Buktinya saat aku berhenti berlari di ujung jalan
Cokroaminoto, kulihat pemandangan yang sama di Jalan Suroyo. tidak ada satupun
kendaraan bermotor maupun kendaraan tidak bermotor berlalu lalang. Tidak ada
seorangpun pejalan kaki menyusuri jalan ini. Bunga-bunga kuning kecil pun
berjatuhan berkat sentuhan kasar angin Probolinggo yang seakan-akan marah. Mendungpun
semakin gelap. Gelap sekali. Terlihat kelam dalam gelap malam.
Awannya kian memerah.
Aku melihat ada titik merah di seberang 1 kilometer dari titik retinaku. Aku juga
mendengar, ada suara gemuruh kecil yang kian membesar, makin riuh perlahan. Titik
merah itu terlihat menjelma menjadi bara api. Jantungku berdegup kencang.
Kemudian seorang Pria
berbadan tegap mencempung tubuhku kemudian berlari menjauhi jalan Cokroaminoto.
Kudengar sesak nafasnya yang khas. Punggung hingga kepalaku yang berada di
belakang punggung itu, hanya bisa melihat semua pemandangan yang kulihat seakan
berlari menjauh dariku (sebelum aku
memahaminya sebagai gerak semu).
“Pa, i-tu a-da a-pa?”
tanyaku lugu dengan suara terputus-putus karena pria itu masih tetap berlari
membawaku menjauh dari titik merah itu.
“Sudah! Diam!” beliau
sempat membentakku di sela sesak nafasnya. Aku hanya diam saja sampai ia
berhenti dan menurunkanku di bawah pohon mangga.
Pria itu adalah
ayahku. Tubuhnya segar bugar, kumisnya tergaris indah di bawah lubang
hidungnya. ia terduduk lemas di depanku yang masih berdiri. Kemudian ia menatap
wajah polosku yang seakan menuntut penjelasan tentang mengapa ia membawaku
lari.
“Papa ingatkan
padamu, kalau angin bertiup kencang dan langitnya memerah, kau harus segera
pulang, Nak!” kata Papa sambil berusaha mengatur nafasnya.
“Memangnya ada apa,
Pa?” kataku sambil berjongkok, berusaha menemukan wajah ayahku yang tertunduk
lelah.
“Ada sekelompok orang
yang tengah marah. Mereka ingin berkelahi dengan sekelompok orang yang lain,”
jelasnya yang membuat raut mukaku memucat.
Sesaat setelah itu,
kudengar gemuruh derap langkah kaki yang tengah berlari. Aku berjalan
berjinjit, ingin mengintip ada apa disana. Kulihat sekelompok orang membawa
obor. Mungkin itulah titik merah yang tadi kulihat. Titik merah yang berjarak 1
kilometer dari titik retinaku. Beberapa dari mereka memukul palang listrik
dengan kayu hingga berbunyi tong tong tong!
“Nduk! Sini! Mereka sudah
membunyikan genderang perang! Mereka mau berkelahi!” bisik ayahku keras sekali.
Aku berlari ke arahnya. Ia lalu memelukku dengan erat. Dari bawah pohon mangga,
kulihat dua kubu saling mendekat. Kini dua titik merah yang ternyata kumpulan
obor itu menyatu. Jerit kemarahan makin terdengar jelas.
Aku memejamkan mata
sejenak. Saat kubuka, aku sudah ada di ruas jalan lain. Tapi aku sendiri lagi,
berdiri tepat di atas marka jalan putih yang terputus putus. Aku tahu jalan
ini. Salah satu jalan satu arah di kabupaten Jember, Jalan Kartini. Di sisi
kanan dan kiri jalan itu juga berjejer pohon-pohon besar berbunga kuning kecil,
pohon yang sama dengan pohon di sepanjang tepi jalan Suroyo dan jalan
Cokroaminoto di Probolinggo. Bedanya, saat aku menginjakkan kaki di marka jalan
Kartini, Jember, kala itu tengah malam dan tidak gelap. Di sisi kanan dan kiri
jalan terdapat beberapa obor yang tertancap di atas trotoar. oh, seperti inikah
suasana jaman dulu?
Kususuri jalan
Kartini. Bangunan-bangunan di jalan itu notabene masih berarsitektur Belanda. Aku
juga melihat beberapa wanita Nonik Belanda sedang mengesap teh di halaman
bangunan.
Tiba-tiba kudengar
ada gemuruh di belakangku. Seperti ada hembusan angin keras yang hendak
menabrak tubuhku. Saat aku membalikkan tubuhku untuk mengetahuinya, angin itu
sudah terlebih dahulu menyerangkan dan membutakan pandanganku.
***
Aku membuka mataku. Aku
sudah kebasahan. Air hujan turun dengan deras. Aku sudah berada di ujung jalan
Cokroaminoto lagi. Masih sendiri. Lagi-lagi tidak ada kendaraan bermotor maupun
tak bermmotor berlalu lalang. Ah, aku seperti hidup seorang diri di muka bumi
ini. Tapi aku membiarkan tubuhku mematung di tengah ruas jalan itu. Ya, pasti
mudah dihafal. Aku berdiri tepat di atas marka jalan berwana putih yang
terputus-putus.
Aku melihat ada titik
merah yang berjarak 1 kilometer dari retina mataku. Langitnya gelap. Hujan masih
turun dengan deras. Di saat itulah, aku ingat akan ayahku. Namun sayang, tubuh
itu tidak akan lagi mencempung tubuhku sambil berlari.
Aku menutup kembali
mataku dan hanya menikmati runtuhan bulir hujan yang seakan menusuk kepalaku. Entah
apa yang akan terjadi ketika titik merah itu semakin mendekat kepadaku, aku pasrah
saja.
Probolinggo, 8 Juli 2014, 15.40 WIB
*)kisah ini kuambil dari kisah masa kecilku
bersama Papa kala hujan deras. Kami suka bermain hujan. Papa juga menceritakan
bagaimana di jaman kala ia masih duduk di bangku sekolah dasar, ia kerap
melihat awan berwarna merah. Setelahnya, tak jarang terjadi perkelahian di ruas
jalan Cokroaminoto hingga menelan korban. Terlepas dari benar-tidaknya cerita
Papaku, aku juga pernah bermimpi dengan latar yang sama dengan yang Papaku
ceritakan. Maka ketika hujan deras, aku kerap memandangi ruas jalan
Cokroaminoto yang basah total dengan aroma tanah yang menusuk tajam hidungku. Di
saat itulah, aku ingat akan Almarhum ayahku………
sumber gambar : http://jombangcityguide.blogspot.com/2012/05/jombang-yellow-autumn.html
No comments:
Post a Comment