Tuesday, 8 July 2014

Tiga Ruas Jalan


Aku berdiri tepat di atas garis marka jalan yang terputus-putus. Aku lupa saat itu pukul berapa. Yang aku ingat hanyalah tidak ada satupun kendaraan bermotor maupun kendaraan tidak bermotor berlalu lalang. Tidak ada sama sekali. Tidak ada suara bingar knalpot telo di malam minggu. Aku menutup mataku. Aku membiarkan telingaku  mendengar dengan seksama.

Suara desah angin yang lumayan kencang sedang menyusuri jalan Suroyo. Kekuatannya menjatuhkan hampir seluruh bunga kuning kecil dari pohon besar –yang akupun tak tahu nama pohon besar itu- yang terjejer di sisi kanan kiri jalan. Seperti di luar negeri saja. Bunga-bunga kuning kecil berguguran pelan.

Kemudian aku nekat untuk membuka mataku. Awannya mendung, gelap sekali. Aroma tanah semakin menusuk hidungku tanda hujan hendak turun. Aku menggerakkan kedua bola mataku untuk melihat sekeliling. Hanya ada aku yang berdiri di sepanjang jalan Suroyo. aku masih berdiri tepat di atas marka jalan yang terputus-putus. Kudengar suara angin sedang berlomba dengan suara gemertak gigiku yang mirip gigi kelinci. Aku menggigil kedinginan.

Merasa ketakutan, aku berlari ke arah selatan. Aku berusaha menerobos lapangan komando distrik militer VI yang arsitektur bangunannya masih londo banget. Seandainya lapangan kodim itu tidak ada, sudah pasti jalan Suroyo langsung terhubung dengan jalan rumahku, Jalan Cokroaminoto.

Masih dalam derap langkah lariku, aku berhipotesa sendiri. Pasti dulu jalan Suroyo dan jalan Cokroaminoto ini menyambung. Buktinya saat aku berhenti berlari di ujung jalan Cokroaminoto, kulihat pemandangan yang sama di Jalan Suroyo. tidak ada satupun kendaraan bermotor maupun kendaraan tidak bermotor berlalu lalang. Tidak ada seorangpun pejalan kaki menyusuri jalan ini. Bunga-bunga kuning kecil pun berjatuhan berkat sentuhan kasar angin Probolinggo yang seakan-akan marah. Mendungpun semakin gelap. Gelap sekali. Terlihat kelam dalam gelap malam.

Awannya kian memerah. Aku melihat ada titik merah di seberang 1 kilometer dari titik retinaku. Aku juga mendengar, ada suara gemuruh kecil yang kian membesar, makin riuh perlahan. Titik merah itu terlihat menjelma menjadi bara api. Jantungku berdegup kencang.

Kemudian seorang Pria berbadan tegap mencempung tubuhku kemudian berlari menjauhi jalan Cokroaminoto. Kudengar sesak nafasnya yang khas. Punggung hingga kepalaku yang berada di belakang punggung itu, hanya bisa melihat semua pemandangan yang kulihat seakan berlari  menjauh dariku (sebelum aku memahaminya sebagai gerak semu).

“Pa, i-tu a-da a-pa?” tanyaku lugu dengan suara terputus-putus karena pria itu masih tetap berlari membawaku menjauh dari titik merah itu.

“Sudah! Diam!” beliau sempat membentakku di sela sesak nafasnya. Aku hanya diam saja sampai ia berhenti dan menurunkanku di bawah pohon mangga.

Pria itu adalah ayahku. Tubuhnya segar bugar, kumisnya tergaris indah di bawah lubang hidungnya. ia terduduk lemas di depanku yang masih berdiri. Kemudian ia menatap wajah polosku yang seakan menuntut penjelasan tentang mengapa ia membawaku lari.

“Papa ingatkan padamu, kalau angin bertiup kencang dan langitnya memerah, kau harus segera pulang, Nak!” kata Papa sambil berusaha mengatur nafasnya.

“Memangnya ada apa, Pa?” kataku sambil berjongkok, berusaha menemukan wajah ayahku yang tertunduk lelah.

“Ada sekelompok orang yang tengah marah. Mereka ingin berkelahi dengan sekelompok orang yang lain,” jelasnya yang membuat raut mukaku memucat.

Sesaat setelah itu, kudengar gemuruh derap langkah kaki yang tengah berlari. Aku berjalan berjinjit, ingin mengintip ada apa disana. Kulihat sekelompok orang membawa obor. Mungkin itulah titik merah yang tadi kulihat. Titik merah yang berjarak 1 kilometer dari titik retinaku. Beberapa dari mereka memukul palang listrik dengan kayu hingga berbunyi tong tong tong!

“Nduk! Sini! Mereka sudah membunyikan genderang perang! Mereka mau berkelahi!” bisik ayahku keras sekali. Aku berlari ke arahnya. Ia lalu memelukku dengan erat. Dari bawah pohon mangga, kulihat dua kubu saling mendekat. Kini dua titik merah yang ternyata kumpulan obor itu menyatu. Jerit kemarahan makin terdengar jelas.

Aku memejamkan mata sejenak. Saat kubuka, aku sudah ada di ruas jalan lain. Tapi aku sendiri lagi, berdiri tepat di atas marka jalan putih yang terputus putus. Aku tahu jalan ini. Salah satu jalan satu arah di kabupaten Jember, Jalan Kartini. Di sisi kanan dan kiri jalan itu juga berjejer pohon-pohon besar berbunga kuning kecil, pohon yang sama dengan pohon di sepanjang tepi jalan Suroyo dan jalan Cokroaminoto di Probolinggo. Bedanya, saat aku menginjakkan kaki di marka jalan Kartini, Jember, kala itu tengah malam dan tidak gelap. Di sisi kanan dan kiri jalan terdapat beberapa obor yang tertancap di atas trotoar. oh, seperti inikah suasana jaman dulu?

Kususuri jalan Kartini. Bangunan-bangunan di jalan itu notabene masih berarsitektur Belanda. Aku juga melihat beberapa wanita Nonik Belanda sedang mengesap teh di halaman bangunan.

Tiba-tiba kudengar ada gemuruh di belakangku. Seperti ada hembusan angin keras yang hendak menabrak tubuhku. Saat aku membalikkan tubuhku untuk mengetahuinya, angin itu sudah terlebih dahulu menyerangkan dan membutakan pandanganku.

***

Aku membuka mataku. Aku sudah kebasahan. Air hujan turun dengan deras. Aku sudah berada di ujung jalan Cokroaminoto lagi. Masih sendiri. Lagi-lagi tidak ada kendaraan bermotor maupun tak bermmotor berlalu lalang. Ah, aku seperti hidup seorang diri di muka bumi ini. Tapi aku membiarkan tubuhku mematung di tengah ruas jalan itu. Ya, pasti mudah dihafal. Aku berdiri tepat di atas marka jalan berwana putih yang terputus-putus.

Aku melihat ada titik merah yang berjarak 1 kilometer dari retina mataku. Langitnya gelap. Hujan masih turun dengan deras. Di saat itulah, aku ingat akan ayahku. Namun sayang, tubuh itu tidak akan lagi mencempung tubuhku sambil berlari.

Aku menutup kembali mataku dan hanya menikmati runtuhan bulir hujan yang seakan menusuk kepalaku. Entah apa yang akan terjadi ketika titik merah itu semakin mendekat kepadaku, aku pasrah saja.





Probolinggo, 8 Juli 2014, 15.40 WIB

*)kisah ini kuambil dari kisah masa kecilku bersama Papa kala hujan deras. Kami suka bermain hujan. Papa juga menceritakan bagaimana di jaman kala ia masih duduk di bangku sekolah dasar, ia kerap melihat awan berwarna merah. Setelahnya, tak jarang terjadi perkelahian di ruas jalan Cokroaminoto hingga menelan korban. Terlepas dari benar-tidaknya cerita Papaku, aku juga pernah bermimpi dengan latar yang sama dengan yang Papaku ceritakan. Maka ketika hujan deras, aku kerap memandangi ruas jalan Cokroaminoto yang basah total dengan aroma tanah yang menusuk tajam hidungku. Di saat itulah, aku ingat akan Almarhum ayahku………

sumber gambar : http://jombangcityguide.blogspot.com/2012/05/jombang-yellow-autumn.html

No comments:

Post a Comment