225 : 9 = 25!!!
Ama maknyoutnya? (efek ngobrol sambil makan)
Hai, kontemporer people! (makanan sudah ditelan)
Brrrr lagi hujan nih. Entah kenapa sejak senin kemaren, Probolinggo lagi error. Mendadak hujan lebat. Enaknya sih jam segini tuh tidur-tidur ayam, ditemenin bantal, guling, plus spesial pake KUCING!
Sedari kecil saya emang nggak pernah lepas dari yang namanya Kucing. Hewan berbulu cantik (kalo nggak ada scar-nya sama sekali ya) ini sudah menjadi bagian dari keluarga semenjak Papa saya masih SMA. Sedari kecil saya emang dididik untuk mencintai binatang, terutama kucing. Hewan ini penurut, cocok untuk jadi sahabat manusia.
Saya punya 1 ekor kucing, saya beri nama Oreo. Selain karena saya suka biskuit satu ini, warna kucing saya memang dominan hitam dengan warna putih di lehernya, jadi dia kayak pakai slayer gitu deh hehehe
2 minggu lalu dia melahirkan. Seumur-umur saya memelihara kucing, baru kali ini saya punya kucing yang mampu melahirkan 5 ekor cemeng (bayi kucing)! kelima-limanya dominan hitam. Merasa kesulitan untuk mencari 5 nama yang berbeda, akhirnya Mama saya memutuskan untuk memberi mereka nama Pertama, Kedua, Ketiga, Keempat dan Kelima. Ide yang cemerlang, Mum :D
Lanjut.
Saya suka sekali makan gorengan. Bukan karena rasanya yang memang enak, tapi dengan makan gorengan, saya bisa mengingat kenangan bersama mendiang Papa saya. Semalam saya beli gorengan di dekat rumah. Tempat itu penuh sekali dengan kucing. Saya sempat menghitung, ada 12 ekor. Awalnya saya kurang paham mengapa kelompok kucing ini bisa akur di satu tempat, mengingat kucing adalah hewan individual ketika mereka sudah dewasa.
"beli berapa, Mbak?" tanya si ibu penjual gorengan.
"5 ribu saja bu, weci sama roti goreng," jawabku sambil terus menatap para kucing yang sedang asyik menjilati tubuhnya. Kemudian secara tak sengaja, saya menginjak ekor salah satu kucing tersebut, "MIIAAUUWWW!!!" Jeritnya kencang.
"Eh, sori pus, soriiii banget!" jawabku. Kemudian tampaknya kucing itu melengus pada saya dan dia berlalu pergi begitu saja dengan muka kecut. Saya merasa sangat bersalah.
"Dia emang gampang ngambek, Mbak," sahut si ibu penjual gorengan.
"Hah?"
"Iya, mereka itu kucing-kucing saya," tambahnya
"Sebanyak itu, Bu?" tanyaku heran.
"Di rumah masih ada 13 ekor lagi, Mbak,"
"Hah? berarti totalnya 25 ekor?"
"Iya. Jadi seringkali saya belanja ke pasar, kemudian ada kucing yang sendirian, saya kasihan. Ya saya bawa pulang saja dan saya rawat," jelasnya membuat saya melongo terpaku.
"Panti kucing, ya," responku lepas.
Sepanjang perjalanan pulang, saya berfikir, mengapa ibu itu begitu cintanya pada kucing? Secinta-cintanya saya ke kucing pun, saya hanya memelihara 1 induk kucing dengan anak-anaknya. Yang membuat saya heran, bagaimana bisa kucing-kucing dari keluarga dan habitat yang berbeda bisa hidup akur dalam satu rumah ibu penjual gorengan itu?
Sesampainya saya di rumah, saya melihat Oreo tengah melahap rumput. Oreo memang kucing langka. Selain suka makan nasi dan ikan, ia juga suka merumput. Keanehan ini saya sadari ketika saya sedang mencabut rumput liar di halaman belakang, dan dia memakan rumput-rumput itu. Saya menggertak Oreo agar ia memuntahkan rumput yang ia makan. Tapi ia malah pergi dengan masih banyak kunyahan rumput di mulutnya.
Melihat Oreo yang tengah asyik makan rumput, saya mendekatinya dan mengelusnya dengan lembut. Ia adalah seekor ucing yang luar biasa. Kemudian saya menawari 1 buah weci kepadanya, tapi tidak ia hiraukan. ia lebih suka makan rumput."Kucing vegetarian," gumamku.
No comments:
Post a Comment