Tiba-tiba aku jadi teringat akan kenangan manis itu. Ketika aku merasa benar dengan melampiaskan kasih sayangku pada seseorang untuk balas dendam terhadap adik kandungku. Kenangan manis dimana aku bisa merasakan bagaimana rasanya menyayangi dan disayangi seorang adik yang manja. Ia bisa menggantikan figur adik bagiku. Bahkan aku rela berpanas-panasan untuknya. Dimulai saat perhatian kecilku yang tidak seberapa direspon lembut olehnya. Kemudian ia mulai menghias hari-hariku dengan banyak pesan singkatnya, dengan cerita lucunya, dengan curhatannya, dengan tingkah lakunya. Aku suka itu. Sikap dan tingkah laku seorang adik yang memanja, yang selama ini aku harapkan dari seorang adik. Rasa cemasnya ketika aku sakit, rasa cemasku ketika ia tak kunjung pulang ke rumah hingga larut malam, beberapa amarahku tanda aku ingin sekali melindunginya, dan beberapa canda guraunya, semua masih melekat di memoriku. Rasa saling memiliki layaknya saudara kandung. Tampaknya aku lumayan berhasil menjadi figur kakak baginya, yang mengajarinya, yang menuntunnya, yang membantunya, dan dia yang berhasil mengusir sepiku. Memberiku sedikit ketabahan menghadapi adik kandungku yang kala itu kubenci setengah mati karena rasa tidak hormatnya kepadaku.
Tapi, apa mau dikata. Semua itu tidaklah abadi. Aku harus rela kehilangan dan menyadari bahwa dia bukan adik kandungku.
Aku juga harus menerima bahwa ia punya kehidupannya sendiri. Sementara bodohnya aku, baru menyadari bahwa adik kandungku adalah ADIK TERBAIK di muka bumi ini. Meskipun ia sedikit tidak hormat padaku, tak apalah. Ia masih melindungiku. Jauh di dalam hatinya, ia sangat menyayangiku. Ia masih senang berbagi tawa denganku. Menjadikanku sahabat dekat dan mulai terbuka kepadaku. Mataku mulai terbuka, seburuk apapun adik kandungku, tapi darah yang mengalir di tubuh kami adalah dari ayah dan ibu yang SAMA, itulah keabadian bersaudara. Aku mulai mencemaskan adikku jika ia tidak kunjung pulang ke rumah, aku mulai memperdulikan prestasinya, membantunya belajar, serta berbagi pengalaman sehari-hari dengannya, menyuapinya makan siang dan bermanja, memotong kukunya sambil bercerita, adalah hal-hal kecil yang mulai aku dapatkan, dan itu membuatku bahagia.
Aku menyesal pernah membencinya. Ialah satu-satunya saudara kandungku. Ia pasti melindungiku. Ia pasti inginkan yang terbaik untukku. Seindah apapun kenanganku bersama 'adik jadi-jadianku', tidak akan ada kenangan yang lebih indah dibanding berebut batu saat bermain dengan adik kandungku ketika kami kecil. Karena sesungguhnya, aku dan adik kandungku adalah SALING MENYAYANGI, kami hanya terlalu gengsi untuk mengakuinya. Karena rantingku dan ranting adikku tak akan pernah tertebang terpisah dari pohon silsilah keluarga. Hubungan darah adalah hubungan yang abadi.
Terimakasih Tuhan, Kau telah membuka mataku lebar-lebar untuk mensyukuri apa yang aku punya, Adikku, yang selalu apa adanya.

.jpg)

No comments:
Post a Comment