Thursday, 18 August 2011

Pray For Bagas Satrio Wibisono

untuk teman masa kecilku, Bagas Satrio Wibisono....

dulu, pas gue masih TK dan menempati rumah baru di suatu perumahan,
gue kenal elo. anak lelaki polos yang paling gempar kalo ada tetangga baru.
elo ke rumah gue dan nyapa gue dan ngajak kenalan.
di situ pertemanan kita dimulai, Bagas..
elo sahabat kecil gue. kita selalu bermain bersama tiap pulang sekolah..
kadang elo main ke rumah gue, kadang gue juga main ke rumah elo.
elo cowok, gue cewek, we didn't too care about it. we were a best friend when kid we used to be.
elo tipikal anak lelaki yang periang, tapi juga plin plan. kita bolak-balik musuhan, baikan, musuhan, baikan. hanya karena masalah yang sangat sepele... biasa, namanya juga anak-anak...

gue pindah rumah, kita lost contact.
hingga pas SMP kita dipertemukan kembali dalam suatu kompetisi story telling di SMA 1.
elo juara 2, gue juara 3. buat gue, biarpun kita udah lost contact, ternyata kalo yang namanya teman itu pasti bakal dipertemukan kembali walaupun dalam kasus ini kita menjadi rival.

kemudian ketika gue masuk SMA, kita jadi senior-junior.
gue masih inget pas itu gue nyoblos elo buat jadi ketua MPK karena gue yakin, elo pandai berorganisasi.
dan pas elo wawancarain gue buat jadi wakil ketua MPK, gue makin yakin, bahwa elo memang pandai berorganisasi. namun sayang, bukan elo yang terpilih jadi ketua MPKnya.

hingga pas tressa, elo manggil gue dan bertanya, "masih inget aku nggak?"
dan gue jawab, "jelas inget lah. selama aku hidup, temenku yang namanya Bagas itu cuma kamu.."
dan akhirnya kita akrab lagi...

hingga suatu hari elo kesandung kasus gara2 kata2 lo di status FB lo yang menuai kontra.
karena lo harus inget, Bagas, apa status lo. "KANG PROBOLINGGO" yang harusnya jadi panutan anak muda se-Probolinggo.
dan elo malah merusak reputasi lo sendiri gara2 elo lebih nurutin emosi lo.
hingga elo merasa stress dengan semua masalah lo dan lebih memilih pindah sekolah karena sepertinya memang, satu sekolah udah bak musuhin lo.. sampe guru dan kepala sekolah mojokin elo di depan temen2 saking 'gemes' nya sama elo...

gue, nyokap, sama adek gue kaget sama sikap lo yang satu ini. bahkan kami ngga nyangka elo bakal kayak gitu.
gue cuma berharap dan berdoa, semoga elo kuat menghadapi ini semua.. gue sebagai teman kecil lo cuma bisa mensupport elo doang, Bagas.

salam, teman masa kecil lo, teman satu PS, teman satu ngaji di TPQ, dan sekarang,,,, gue nggak tahu

Tuesday, 16 August 2011

CelaEdwin #part1




“Kemana aku akan berjalan? Apa aku hanya bisa diam di tempat dan bersifat statis seperti ini?” Cela bingung apa yang harus ia perbuat. Sementara Edwin masih terus saja menyiksa batinnya. “Apa aku harus jujur pada Edwin? Tapi tak mungkin aku mengatakannya. Dia pasti nggak suka,”
Tak lama ponselnya berbunyi dan ada sms masuk. Diraihnya ponsel itu dan ia nyaris melonjak terkejut. Sms itu dari Edwin. Bagaimana ia tidak kaget, akhirnya Edwin menghubunginya juga setelah kurang lebih sebulan Edwin menghilang bak ditelan bumi dan tak pernah menghubungi Cela lagi. Cela senang bukan kepalang membaca sms itu, biarpun isi pesan itu hanyalah “Ur…” dan Cela membalasnya, “Sahur”. Ya, Cela yakin, itu yang Edwin maksud. Namun sayang, Edwin tak membalasnya lagi.
Tak heran. Edwin memang pelit kata.
Esoknya, ia tak menemui batang hidung Edwin di sekolah. System dinamis yang dianut sekolahnya memang mempersulit Cela untuk menemui Edwin. Baiklah, untuk hari ini hasilnya nihil.
Keesokan harinya, Cela mencoba mencari Edwin lagi di sela-sela pergantian jam pelajaran. Dan berhasil. Terlihat dengan gaya pendiamnya, Edwin enteng sekali membawa laptop di tangannya dan mengantri masuk kelas bahasa inggris. Namun Cela tak bisa berbuat apa-apa selain menatap diri itu menghilang memasuki kelas. Karena tergambar jelas di raut muka Edwin yang memampang muka manyun dan jutek.
Minggu. Seperti biasa, Cela hanya bisa galau. Hari ini terasa monotone seperti hari yang lain. Mungkin hanya Septian dan Dendy yang bisa ‘menghibur’ ponselnya yang sepi karena tak ada satupun pesan dari Edwin yang masuk.
Senin. Inilah kali pertama ia menjadi ketua sebuah ekstra baru. Cukup menyenangkan. Karena kegiatan itu bisa sedikit mengalihkan pikirannya dari Edwin. Namun sial, saat ia dan beberapa anggota ekstranya berkumpul di aula, muka manyun itu muncul dengan entengnya dan tak berusaha menghindari Cela. Memang aneh. Biasanya tiap melihat Cela, matanya langsung terpalingkan pada pandangan lain. Cela mencoba stay cool.
Dan yang membuat Cela lebih heran, Edwin duduk di kursi dimana disitu ada tas Cela. Ia justru langsung duduk tanpa memindahkannya. Cela makin bingung. Bagaimana caranya ia membawa kabur tasnya itu jika seakan Edwin menahannya. Cela mencoba cuek dan focus pada anggota ekstranya yang masih belum lengkap.
Hingga Edwin berceletuk, “Oh, ternyata kamu buka ekstra patrol ya, pake bawa galon segala,”
Cela tahu, Edwin hanya bercanda. Hanya saja ia bingung apakah ia mau menanggapi candaan Edwin atau hanya diam saja. Tapi terbesit di otaknya, mungkin dengan merespon Edwin, keadaan bisa membaik. “Enak saja! Justru ini yang disebut kreatifitas!”
“Oh, kirain mau patrol. Coba sini, pinjam galonnya,”
Seolah tak pernah ada apa-apa. Malaikat mana yang berhasil menghasut Edwin untuk kembali pada sifatnya sediakala, begitu ramah pada Cela. Yang jelas, Cela tampak senang, Edwin tak lagi diam seribu bahasa padanya. Mulai lagi ada canda tawa. Cela membiarkan hal itu terjadi walaupun secara sadar ia tahu, bahwa sebenarnya hal itu hanya akan bisa melukai batinnya lebih dalam lagi.
Aku nggak ngerti apa yang kamu mau, Ed.
Tapi, walaupun aku tahu, semua ini hanyalah semu, aku ingin bertahan.
Setidaknya aku bisa bahagia bisa dekat denganmu dan mendapatkan kasihmu meski itu tak nyata
Rasa sakit ini bisa jadi bahagia, walau bahagia ini terasa sangat sakit
Tetaplah seperti ini, Ed. Karena dengan seperti ini aku bisa mencintaimu
“Pulang jam berapa?” Tanya Edwin tiba-tiba yang membuyarkan lamunan Cela.
“Kurang tahu. Tapi kayaknya sampe sore. Soalnya masih ada yang mau curhat sama aku,” jawab Cela enteng.
“Oh, gitu. Ya udah, ke kelas sana, buruan dimulai. Kasihan anggotanya pada nungguin dari tadi,”
“Ngusir nih?” Cela pura-pura tersinggung.
“Iya, aku usir. Pergi sana!” jawab Edwin dengan senyum membubuhi muka manisnya.
Dan Celapun pergi.
Kapan bisa terulang lagi? Aku masih kangen kamu, Ed….

Monday, 8 August 2011

What's Up dengan perbedaan agama?

pondok ramadhan di sekolah edisi 9 Agustus 2011...
seperti biasa, ada ceramah..
pas ada sesi tanya jawab, ada adek kelas yang tanya melenceng banget dari tema, "pak ustadz, katanya, Tuhan itu hanya satu, lalu mengapa di dunia ini ada perbedaan agama? kenapa mereka menyembah Tuhan yang berbeda?"

maaf beribu maaf deh adek yang cantiiiikkk
kalo gue boleh komentar, itu adalah pertanyaan BODOH!!!
karena lo tahu apa?
Tuhan itu memang satu, tapi ya terserah para umat mau nyembahnya gimana. karena pada dasarnya, setiap agama itu menuntun kita untuk mengenal baik Tuhannya dan menuntun kita untuk berbuat KEBAIKAN
emangnya ada ya agama yang ngajarin umatnya untuk mencuri? membunuh? berzinah? nggak ada kan?
dan lo kan hidup di Indonesia, dan lo tahu sendiri, di Indonesia ada 6 agama yang diakui; Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Buddha, dan Konghuchu.
emangnya ada pada setiap agama itu ngajarin umatnya untuk berbuat keburukan? enggak kan?
dan pertanyaan lo tadi itu beneran tak mencerminkan adanya toleransi di diri lo. emangnya lo nggak punya temen yang nggak sekeyakinan ya?
dan kalopun punya, apa temen lo pernah melecehkan agama lo? enggak kan?
kenapa lo mengomentari mereka sedangkan lo nggak lebih baik dari mereka?

adek cantik...
pertanyaan lo aja udah melenceng dari tema. kenapa lo ngga mikirin dulu?
karena kita hidup disini itu bersama-sama, nggak satu umat agama doang.
kalo lo emang penasaran banget, lo tanya sama temen2 lo yang beda agama, misal kristen atau katholik..
mreka pasti menceritakan sejarah agama mereka, dan pasti sebagian kecil memiliki sinkron dengan sejarah agama kita. yakin deh, iya beneran...

makanya adek cantiiikk...
Tuhan itu memang satu, dan terserah para umat bagaimana mereka menyembah Tuhan...
trims

Friday, 8 July 2011

efek kepergian ayah

ungkapan hati saya.....

ayah saya adalah tipikal ayah yang sangat bijak dan sangat menyayangi keluarganya.
sangat bertanggung jawab dan selalu menjaga seluruh anggota keluarga.
memang ayah sering sakit, namun hal tersebut tak pernah menciutkan niatnya untuk selalu menjaga kami

kurang lebih 2 setengah bulan ayah sakit keras. dan di saat itulah kami merasa bahwa itulah giliran kami untuk menjaga dan merawat ayah. itulah bentuk rasa terimakasih kami pada ayah yang selama ini telah benar2 bertanggung jawab untuk menjaga keluarga.

namun Tuhan berkehendak lain. Tuhan menginginkan ayah berada di sisi-Nya pada hari sabtu, 2 juli 2011.
saya dan keluarga harus kehilangan sosok imam yang baik dan bijak tersebut.

namun yang amat saya sedihkan adalah... tidak akan ada lagi yang bisa melindungi saya sebagaimana ayah yang benar2 over protect terhadap saya.
ayah yang selalu mengelus punggung saya seusai mengantarkan saya ke sekolah.
ayah yang gemar bersih2 rumah
dan ayah yang giat untuk memperluas ilmu agama dan menyalurkannya kepada banyak orang.

dan saya sudah memprediksi akan kehidupan saya setelah kepergian ayah.
sifat dan sikap saya pasti sedikit berubah. bisa jadi saya berubah menjadi lebih pendiam dan dingin.
bisa jadi saya berubah menjadi gadis yang lebih suka menyendiri.
bisa jadi saya berubah menjadi gadis yang keras.
tapi semua itu atas berlatarbelakangkan : SAYA INGIN MEMAHAMI DAN MELINDUNGI DIRI SAYA SENDIRI
karena saya tahu persis, tidak ada yang bisa memahami dan melindungi saya sebagaimana yang ayah lakukan terhadap saya. meskipun sebenarnya banyak orang yang ada di belakang saya dan siap membantu saya kapanpun saya membutuhkan mereka. tapi saya ingin mandiri. saya ingin menerapkan apa yang telah ayah ajarkan kepada saya semasa hidupnya dan itu benar2 menyatu dengan ideologi-ideologi yang selama ini saya anut. ya, SAYA SEPAHAM DENGAN AYAH SAYA

maka dari itu, sebelumnya saya memohon maaf pada semuanya.
jika nanti saya berubah menjadi dingin, pendiam, keras, lebih tegas dari sebelumnya.
karena semua itu semata2 saya ingin melidungi diri saya sendiri.







*memang terbesit di pikiran saya, mengapa saya tidak mempunyai pacar saja?
tidak! saya belum siap dengan hal itu. saya masih kapok, memotong rambut saya sendiri gara2 stress memikirkan kepedihan yang saya rasakan dari orang yang saya sukai itu. dan hati saya masih diselimuti duka.
saya menginginkan pacar yang bukan sekedar melindungi saya, tapi memahami apa yang saya mau. cukup itu saja. dan itu bukan untuk sekarang. untuk nanti. entah kapan......





selamat jalan, ayah. cinta dan doaku selalu menyertai perjalananmu menuju surga-Nya.


Wednesday, 8 June 2011

cuplikan novel saya


“Pagi, guys!” sapa Kerlinda ramah.
“Pagi, Ker,” jawab Guntur dan Mario menghentikan kegiatan mereka masing-masing.
“Turangga mana?” tanya Mario menyadari ketidakhadiran Turangga bersama Kerlinda seperti biasanya.
“Dia lagi sakit. Hari ini dia absen. Kasihan Turangga, semalem gue dari rumahnya. Mukanya pucet, badannya lemes kayak nggak ada tenaga gitu,” jelas Kerlinda memberitahu Mario dengan tampang sedih. Kerlinda memang sedih jika Turangga sakit.
“Terus lo berangkat sama siapa?” timpal Guntur.
“Sama pacar baru,” sahut Yosua sambil meninggalkan ketiga sahabatnya ke kelas.
Kerlinda heran mengapa Yosua mempunyai pikiran sepeti itu? Apa ia dan Daniel sudah terlihat seperti pasangan kekasih?
“Elo punya pacar, Ker?” tanya Mario juga kaget dengan jawaban Yosua yang ketus itu.
“Pacar? Gue nggak punya pacar, kok!” sergah Kerlinda tidak membenarkan.
“Terus elo berangkat sama siapa?”
“Sama temen gue. Beneran dia temen gue, nggak pacaran,” terang Kerlinda mengaku.
“Terus tadi kenapa lagi tuh si Yosua?” tanya Mario sambil mengambil tas ranselnya.
“Cemburu kali, Kerlinda dianter cowok selain Turangga,” goda Guntur pada Kerlinda.
“Cemburu?” tanya Kerlinda tak percaya, “Ngapain juga Yosua cemburu sama gue?”
“Kali aja foto yang ditempel di cermin itu foto lo. Hahaha,” canda Guntur lagi yang kali ini ditambah dengan tawa keras.
“Lo ngaco, ah, doain gue cepet mati!” protes Kerlinda.
“Siapa juga yang doain lo cepet mati?” protes balik Guntur.
“Kan udah gue bilang kalo gadis yang ada di cermin itu akan cepat mati,” jelas Kerlinda mengingatkan Guntur akan pengelihatannya.
“Ker, mati itu ditangan Tuhan. Lo nggak bisa ngelihat kematian,” kata Mario meremehkan Kerlinda.
“Ya semoga saja cewek itu bukan gue. Gue masih pengen lulus kuliah dan kerja,” ketusnya sambil berjalan menuju kelas.
“Kalo gue mah masih pengen ngerasain punya istri,” canda Mario berbisik pada Guntur.
“Hahaha, gue setuju sama elo, Bro!” jawab Guntur sambil tertawa tak tertahankan dan setuju.

Tuesday, 7 June 2011

hancur hatiku

bukan hanya soal cinta, tapi peristiwa tak enak datang beruntun....


1. ayah masuk rumah sakit lagi :(
2. masih diem-dieman sama sahabat. kapan baikannya coba?
3. pelajaran IPS remidi semua. gimana bisa masuk IPS kalo gini caranya???
4. nylekit banget baca kalimat-kalimat pedas dari Seta. sakit hati banget
5. kelas gue lagi ada masalah

terus gue harus gimana?
gue butuh kalian....
terutama sahabat gue yang lagi diemin gue. ini kali pertama gue stress tanpa elo di samping gue. gue udah minta maaf (padahal dia yg salah) tapi kenapa elo masih diemin gue?

gue yakin, Tuhan pasti bisa menguatkan hati gue. dan gue yakin bisa melewati semua ini.
berkahi langkahku, Tuhan.... aku tak ingin bersedih yang berlarut-larut

Monday, 6 June 2011

EVOLUSI MENTAL XE

“Tsamina-mina E E, waka-waka E E”
soundtrack piala dunia 2010 memang, namun itulah lirik lagu pertama yang mengiringi perkumpulan ini di awal kami terbentuk. Sebuah perkumpulan terisi oleh 28 makhluk Tuhan dengan seragam almamater yang berbeda. Ada yang merah, abu-abu, hijau, biru, ungu dan sebagainya. Inilah awal hari kami. Mengenalkan diri satu sama lain.

Aku tak ingin membahas soal MOS Pena. Karena aku tak melewati masa itu. Dimana seharusnya masa-masa itu adalah masa yang digunakan untuk mengetes kekompakan perkumpulan ini. Tak dapat terlihat oleh mataku karena aku tak hadir MOS selama seminggu karena sakit.

Terlebih dahulu ingin kuceritakan tentang pandanganku pada beberapa makhluk pada perkumpulan ini. Dimana aku yang memang bisa melihat sifat dari tatapan mata mereka. Dari tatapan pertama mereka padaku. Dari cara bicara mereka. Serta tingkah laku dan tipikal sosialisasi mereka. Sedikit tak kusukai, jujur saja. Berharap perkumpulan ini hanya perkumpulan sementara dan tak berumur lama. Sudah bisa terlihat jelas bagaimana masa kelanjutan kehidupan perkumpulan ini.

Dimulai dengan canda tawa dan diselingi memotret diri sendiri. Di bulan pertama masih tak tampak adanya sebuah gumpalan yang sejenis di antara kami. Masih seperti larutan, dimana makhluk-makhluk ini merasakan segalanya bersama. Berseminya bunga yang berada tepat di depan ruangan kami seakan menggambarkan betapa keharmonisan antar individu mulai tercipta. Menganggap segala hal adalah main-main. Dan sedikit membubuhkan amarah kecil di setiap topik yang meluncur bebas dari mulut kami.

Saat menginjak hari-hari 'lapar binti dahaga' roda masih berputar. Ruangan kini warna-warni. Tak ada abu-abu maupun almamater. Makin terlihat jelas bagaimana propertis-propertis yang mereka usungkan di kesempatan ini. Pernak-pernik yang terkadang menjadi inspirasi satu sama lain yang mungkin layak untuk dikembangkan. Dan makin hari makhluk-makhluk ini makin bermain-main. Masa bodoh dengan lembar-lembar ilmu penuh abjad yang harusnya masuk ke sel-sel otaknya. Dan tergambar persis di muka setiapnya bahwa mereka berkunjung tiap hari bukan untuk berilmu. Tapi untuk menemui setiap wajah segar dan manis yang membikin lupa dengan dendangan musik dekat usus besar ini.

Dan mungkin muncul seorang tambatan hati yang pernah menimbulkan keributan ringan, hanya sebatas lirikan mata yang mungkin saja bisa membunuh suatu hati kecil yang cenderung takut untuk melawan. Rela. Ikhlas. Biarkan saja. Masih banyak yang lain. Dan kompetisipun berakhir. Dan bisa saja ada air mata yang mengalir deras di relung hatinya bak air terjun yang turun ke bagian tengah sungai penuh amarah yang menghujam. Mencoba memendam perasaan dengan sebatas untaian senyuman dan beberapa lelucon konyol. Sedikit mengobati lukanya.

Bagaimana ketika sebuah erupsi datang tiba-tiba mengusik kedamaian yang telah diciptakan sedemikian rupa. Bukanlah karena banyak orasi yang diungkapkan. Namun dimana pengertian yang selama ini diharapkan? Tapi semua beranggapan, erupsi gunung berapi yang merupakan sebuha peristiwa vulkanik pastilah mampu membuat wajah bumi yang baru. Entah itu bukit, lembah, danau, ataupun anak gunung. Lagi-lagi dibumbuhi lelucon dan guyonan konyol. Mengguncang si buncit sampai si langsing.

Dan apa yang ada di setiap pemikiran mereka ketika mereka terhimpit oleh banyak desakan dan banyak tuntutan untuk mencapai sebuah kesuksesan yang amat sangat sempurna di tiap bidang yang mereka geluti tiap hari? Dijejal komentar pedas dan dan dicerca umpatan gila. Mata yang hampir rusak menatap benda beradiasi tinggi demi mendapatkan penghargaan yang melegakan hati. Namun bagi kami, apalah arti angka-angka itu jika kami harus melihat makhluk lain yang tersiksa batinnya karena ia mendapatkan angka yang tak setimpal.
Karena itu kami bersatu. Curang? Mungkin. Tapi tak membuat kami bergantung pada setiap bantuan yang diberikan. Hanya saja kami sering terhimpit waktu yang sepertinya berjalan makin cepat saja. Tak terasa minggu berganti dan makalah-makalah itu harus dikumpulkan. Kata seorang paling bocah di perkumpulan itu, perkumpulan kami adalah sebuah perkumpulan PKL yang tengah membuka lapaknya di malam minggu. Ada yang mencari sesuatu yang benar, ada yang menawarkan hasil kerjanya. Bahkan, tak sedikit dari kami saling bahu-membahu saat musibah datang pada kami. Curang? Mungkin. Tapi tak membuat kami meremehkan setiap musibah yang datang itu. Dan aku, yang belum pernah berkecimpung di bidang dengan jalan yang seperti ini, mau tak mau harus ikut larut di dalamnya. Dan ternyata asyik juga. Mengingat sepertinya ini adalah salah satu bentuk dari pemberontakan. Menyenangkan. Curang? Memang! Namun kami tak pernah bergantung. Karena peluh kami tetap mengucur.

Namun yang membuatku heran, ada saja yang menggemparkan kata 'damai' namun selalu cari perkara dan tak tahu perkara. Tipikal ini mungkin sebaiknya dijauhi, namun tak ada salahnya kita tetap memeluknya dalam perkumpulan ini. Karena pada dasarnya saling pengertian adalah kunci dari segala permasalahan.

Disini, kutemukan teman sejati. Sahabat yang selalu bisa menjadi bahu untukku menangis.
Sahabat yang selalu menyajikan telinganya dan tak pernah berpaling saat mulutku masih terus membusa karena tak kelar-kelar membeberkan penat yang menyesakkan dada. Sahabat yang bagaikan sebuah distro dan butik tak henti merekomendasikan benda-benda unik kesukaan remaja masa kini. Sahabat pelepas stress dengan humor menggelitik. Sahabat dengan sejuta ilmu dan tak kikir informasi. Bertukar pikiran demi mengetahui pengetahuan global yang selalu update. Sahabat yang tegas, disiplin, tanggung jawab, berjiwa kepemimpinan, rajin, dan tak mudah putus asa, menjadi panutan di tiap gerak-gerikku.

Hingga muncul istilah, “cepoelooh-E chelamanha”. Alay? ya. Aku tak suka sesuatu yang serba hiperbola seperti itu. Namun tak adil rasanya jika terus menerus aku menghenyakkan istilah kontemporer yang tengah trend itu. Geli mendengarnya. Tapi dibalik nama itu......

XE akan selalu bersama, meski sebenarnya berpisah....
XE akan selalu menjadi yang terheboh, dengan segala prestasi kecil dan kebandelannya
XE akan selalu bergema di setiap palung jiwa jika tiba-tiba sepi
XE akan selalu bermain dalam imaji unik setiapnya, memutar kembali gulungan film petualangan
XE akan selalu terpuji dan tercela, dimana semua itu adalah warna kehidupan kami
XE akan selalu terngiang di saat kami tak punya teman, sendiri, dan terasingkan....
dan mungkin XE akan menjadi kayu lapuk yang sulit terbakar api dan ditumbuhi berbagai macam jamur payung pelindung terik mentari dan penangkal hujatan kotoran kambing....

karena XE bukanlah sebuah perkumpulan lagi. Kami keluarga baru. Akan memulai hidup yang baru setelah keluar ruangan. Menatap dunia lebih luas tanpa lagi memampang muka sok. Memecah tempurung penangkal musuh. Tulang telah terbentuk. Dan setiapnya bisa melindungi diri sendiri tanpa ada lagi rumah yang melindungi. Menghadapi setiap tantangan yang mencoba menyandung. Dan di saat ada sekelumit rindu menerpa, ingatlah serpihan rumah yang kita pecahkan. Kita susun kembali layaknya puzzle cantik. Dan jangan pernah tertawa lagi dengan hasil susunan serpihan gubuk lama kita. Karena setiap potongan itu punya cerita. Melingkar, duduk bersila, pejamkan mata, kita ingat kembali selama setahun jatuh bangun senang susah rajin malas tawa sedih itu. Dan ayo kita ledakkan kembali kekonyolan itu!!! karena aku sangat merindukannya, para Explorer :)