Woyoyoyoyoooooo...
Hi Kontemporer People!
Ini penting! Kenapa?
Now you can Follow @AnkeCrown to mention and order my flower crown product.
'Anke' is the new name of my flower crown product.
You can ask more details about flower crown that you want to order.
And still, IT IS VERY VERY CHEAP!!!
There will be some new arrival products.
Let's order!
:)
Wednesday, 13 August 2014
Sunday, 10 August 2014
Ma Flower Crown :)
Hellooooo Kontemporer People!!!
Pertama-tama, izinkan saya untuk mengucapkan sesuatu......
Intinya, saya meminta maaf lahir dan bathin, apabila saya memiliki banyak sekali kesalahan (menulis) baik disengaja maupun tidak disengaja. Karena pada hakikatnya, tidak ada manusia yg sempurna :)
Well, to the well, well, well.... (niru alaynya Princess cabe..)
dear Kontemporer People sekalian,
saya informasikan bahwasanya saya punya usaha baru. Masih kecil-kecilan sih, baru merintis bulan lalu. Yakni FLOWER CROWN!!!
Itu... Mahkota bunga..
Tidak bermaksud untuk memplagiat pengusaha Flower Crown manapun, saya menggarap projek ini sebenernya lebih ke hiburan, untuk mengisi kegiatan di waktu senggang, dan refreshing. Otak saya sudah buntek tiap hari yang dilihat cuma komputer, program, laporan, e-mail, terima telepon, komplain dll. Saya merasa, Flower Crown adalah satu dari hasta karya yang sarat akan unsur keindahan yang mampu membuat otak saya fresh kembali :)
Saya menjualnya dengan harga yang tidak mahal aliyas murah! Karena saya tahu, saya masih newbie hasil hasta karya saya masih jauh dari kata sempurna. Alhamdulillah, dari 9 flower crown yang saya buat, 5 diantaranya sudah laku...
Let's check this out!
(sebenernya sih masih banyak, cuma gambarnya masih ini dulu. ehehehe)
Bagaimana? Murah kan?
Kenapa murah?
1. Bahan yang saya gunakan harganya murah. Saya tidak pernah memaksa untuk membeli bahan yang mahal. Karena prinsip saya, 'pasti ada substitusinya'. Saya memakai bahan dasar Monte dan renda yang saya kreasikan sendiri. (tapi tidak memungkiri kalau nanti saya pakai bunga tiruan, dan harganya bisa lebih mahal sih, tergantung pesanan)
2. Bahan available banget
3. Target saya adalah pelajar dan mahasiswi. Saya paham betul bagaimana kondisi dompet pelajar dan mahasiswi. Ehehehehe
4. Cantik tidak harus mahal
5. Usaha saya ini bukan semata-mata money oriented. Tapi tetap saja kalo berjual-beli itu harus fair :D
How to order?
Gampang! Kalian bisa follow dan mention twitter saya @dhitarizkya. Saya belum punya akun resmi untuk usaha flower crown saya ini. Atau via WhatsApp di 08883717569. Kalo mau pin BB by request dulu yaa. Hehehe
Kalian bisa order warna sesuai keinginan kalian. Harga bergantung pada bahan dan style.
Caranya :
1. Kalian kontak saya dulu dan memesan flower crown sesuai selera.
2. Flower Crown saya buatkan
3. Setelah flower crown saya buat, saya foto flower crown-nya, kemudian saya kirimkan fotonya.
4. Saya beritahukan harganya. (tenang saja, nggak mahal kok. Paling mahal cuma 35K :) )
5. Kalian transfer ke rekening saya sesuai harga + ongkir (jika pesanan di luar Kota Probolinggo) (nanti saya beritahu rekening saya)
6. Barang akan saya kirim dan akan sampai ke rumah kalian :)
So, disini sudah jelas bahwa tidak ada unsur tipu-menipu yaa. Mari kita jadikan belanja online terasa aman dan nyaman tanpa ada penipuan :)
Grab it, girls!!!
*juga tersedia untuk cowok sesuai selera :)
Pertama-tama, izinkan saya untuk mengucapkan sesuatu......
"Sorry..."Hahahahaha entah kenapa saya malas sekali untuk merangkai kata-kata mutiara yang biasanya disebar via sms ketika Hari Raya Idul Fitri...
Intinya, saya meminta maaf lahir dan bathin, apabila saya memiliki banyak sekali kesalahan (menulis) baik disengaja maupun tidak disengaja. Karena pada hakikatnya, tidak ada manusia yg sempurna :)
Well, to the well, well, well.... (niru alaynya Princess cabe..)
dear Kontemporer People sekalian,
saya informasikan bahwasanya saya punya usaha baru. Masih kecil-kecilan sih, baru merintis bulan lalu. Yakni FLOWER CROWN!!!
Itu... Mahkota bunga..
Tidak bermaksud untuk memplagiat pengusaha Flower Crown manapun, saya menggarap projek ini sebenernya lebih ke hiburan, untuk mengisi kegiatan di waktu senggang, dan refreshing. Otak saya sudah buntek tiap hari yang dilihat cuma komputer, program, laporan, e-mail, terima telepon, komplain dll. Saya merasa, Flower Crown adalah satu dari hasta karya yang sarat akan unsur keindahan yang mampu membuat otak saya fresh kembali :)
Saya menjualnya dengan harga yang tidak mahal aliyas murah! Karena saya tahu, saya masih newbie hasil hasta karya saya masih jauh dari kata sempurna. Alhamdulillah, dari 9 flower crown yang saya buat, 5 diantaranya sudah laku...
Let's check this out!
(sebenernya sih masih banyak, cuma gambarnya masih ini dulu. ehehehe)
Bagaimana? Murah kan?
Kenapa murah?
1. Bahan yang saya gunakan harganya murah. Saya tidak pernah memaksa untuk membeli bahan yang mahal. Karena prinsip saya, 'pasti ada substitusinya'. Saya memakai bahan dasar Monte dan renda yang saya kreasikan sendiri. (tapi tidak memungkiri kalau nanti saya pakai bunga tiruan, dan harganya bisa lebih mahal sih, tergantung pesanan)
2. Bahan available banget
3. Target saya adalah pelajar dan mahasiswi. Saya paham betul bagaimana kondisi dompet pelajar dan mahasiswi. Ehehehehe
4. Cantik tidak harus mahal
5. Usaha saya ini bukan semata-mata money oriented. Tapi tetap saja kalo berjual-beli itu harus fair :D
How to order?
Gampang! Kalian bisa follow dan mention twitter saya @dhitarizkya. Saya belum punya akun resmi untuk usaha flower crown saya ini. Atau via WhatsApp di 08883717569. Kalo mau pin BB by request dulu yaa. Hehehe
Kalian bisa order warna sesuai keinginan kalian. Harga bergantung pada bahan dan style.
Caranya :
1. Kalian kontak saya dulu dan memesan flower crown sesuai selera.
2. Flower Crown saya buatkan
3. Setelah flower crown saya buat, saya foto flower crown-nya, kemudian saya kirimkan fotonya.
4. Saya beritahukan harganya. (tenang saja, nggak mahal kok. Paling mahal cuma 35K :) )
5. Kalian transfer ke rekening saya sesuai harga + ongkir (jika pesanan di luar Kota Probolinggo) (nanti saya beritahu rekening saya)
6. Barang akan saya kirim dan akan sampai ke rumah kalian :)
So, disini sudah jelas bahwa tidak ada unsur tipu-menipu yaa. Mari kita jadikan belanja online terasa aman dan nyaman tanpa ada penipuan :)
Grab it, girls!!!
*juga tersedia untuk cowok sesuai selera :)
Friday, 11 July 2014
Biarlah Beginiii...
Saya terlahir dengan berbagai bentuk fisik yang (menurut saya sedikit) aneh. Dimulai dari sejumput poni yang mengarah ke depan (tidak bisa diarahkan ke belakang seperti poni pada umumnya), lipatan kelopak mata yang berbeda (hal ini membuat bentuk mata saya lebar sebelah), pipi seluas Stadion Gelora Bung Karno, sampai alis yang menyabang.
Alis yang menyabang...
Hal ini baru saya sadari setelah (mantan, iya, sudah mantan) pacar saya bilang waktu dia ke rumah saya;
Mantan : *Bleep* (panggilan kesayangan | disensor), kok alismu ADA EMPAT?
Saya : Hah? Masa sih, *Bleep*???
Mantan : Iya, *Bleep*, beneran ADA EMPAT!
Saya : Enggak kok, *Bleep*, ada dua!
Mantan : Nih, aku tunjukin yah. Satu, dua, tiga, empat! *Jarinya menyentuh alis saya sesuai alurnya*
Saya : Maksudmu satu garis ini ada dua alis?
Mantan : Iyaah, *Bleeeeeeeeeeep*. Kamu ini emang *Bleep* banget, ya! Haha
Merasa tidak percaya dengan tuduhan sang mantan, akhirnya saya mengambil cermin dan berkaca.
Saya : Enggak, *Bleep*! Cuma dua!!
Mantan : Hihihihihihi
Saya :Hiiiihh! Aku seriusan, *Bleep*!!!
Mantan : Sini! Ini loh, *Bleep*, satu, dua, tiga, empat! Alismu nyabang, *Bleep* sayang!
Jadi kurang lebih penampakannya seperti ini :

Eits! Ini bukan gambar Mata Satu aliyas Iluminati. Gambar di atas adalah contoh alis kanan saya, itupun sudah saya tebalkan pakai pensil alis biar nggak terlihat banget nyabangnya -____-
Besoknya di sekolah, saya jadi bahan buli teman-teman saya. Sial banget! Itu mantan malah nyeritain alis nyabangku!
Saya : Dasar! Kamu itu (mantan) pacar macam apa sih? Sampai-sampai kamu nyebarin aib (mantan) pacarmu sendiri!
Mantan : Ya ampun, *Bleep*, aku kan cuma bercanda. Lagian alismu itu bukan aneh, tapi unik. Sekelas nggak ada loh yang punya alis kayak kamu. Kamu harusnya bangga!
Teman : Eh, Dhit, kamu tau nggak, alismu itu mirip sama dandanannya pengantin wanita jawa! Alisnya kan nyabang-nyabang gitu. Hahahahahaha!!!
sakit....
Suatu ketika, Mama saya menyuruh saya untuk mencukur sedikit alis saya agar terlihat nyambung. Tapi Papa melarangnya. Karena alis itu adalah garis alis turunan (Papa saya juga begitu). Ada teman yang bilang kalau mencukur alis itu dilarang agama, sampai menikah nanti. Usai menikah, sah sah saja untuk mencukur alis, asalkan dengan tujuan menyenangkan hati suami.
Di suatu pagi saya iseng-iseng browsing di internet untuk mencari tahu akan kebenaran dalil tersebut. Kurang lebih ini yang saya dapatkan;
Jadi, saya bertekad untuk tidak mencukur bulu alis saya, sampai saya menikah nanti dan mendapat izin suami untuk sedikit menyelaraskan alur alis ini. Kan cantiknya aku ya buat dia seorang nantinya ;)) :*
Oke? Fix!
Alis yang menyabang...
Hal ini baru saya sadari setelah (mantan, iya, sudah mantan) pacar saya bilang waktu dia ke rumah saya;
Mantan : *Bleep* (panggilan kesayangan | disensor), kok alismu ADA EMPAT?
Saya : Hah? Masa sih, *Bleep*???
Mantan : Iya, *Bleep*, beneran ADA EMPAT!
Saya : Enggak kok, *Bleep*, ada dua!
Mantan : Nih, aku tunjukin yah. Satu, dua, tiga, empat! *Jarinya menyentuh alis saya sesuai alurnya*
Saya : Maksudmu satu garis ini ada dua alis?
Mantan : Iyaah, *Bleeeeeeeeeeep*. Kamu ini emang *Bleep* banget, ya! Haha
Merasa tidak percaya dengan tuduhan sang mantan, akhirnya saya mengambil cermin dan berkaca.
Saya : Enggak, *Bleep*! Cuma dua!!
Mantan : Hihihihihihi
Saya :Hiiiihh! Aku seriusan, *Bleep*!!!
Mantan : Sini! Ini loh, *Bleep*, satu, dua, tiga, empat! Alismu nyabang, *Bleep* sayang!
Jadi kurang lebih penampakannya seperti ini :

Eits! Ini bukan gambar Mata Satu aliyas Iluminati. Gambar di atas adalah contoh alis kanan saya, itupun sudah saya tebalkan pakai pensil alis biar nggak terlihat banget nyabangnya -____-
Besoknya di sekolah, saya jadi bahan buli teman-teman saya. Sial banget! Itu mantan malah nyeritain alis nyabangku!
Saya : Dasar! Kamu itu (mantan) pacar macam apa sih? Sampai-sampai kamu nyebarin aib (mantan) pacarmu sendiri!
Mantan : Ya ampun, *Bleep*, aku kan cuma bercanda. Lagian alismu itu bukan aneh, tapi unik. Sekelas nggak ada loh yang punya alis kayak kamu. Kamu harusnya bangga!
Teman : Eh, Dhit, kamu tau nggak, alismu itu mirip sama dandanannya pengantin wanita jawa! Alisnya kan nyabang-nyabang gitu. Hahahahahaha!!!
sakit....
Suatu ketika, Mama saya menyuruh saya untuk mencukur sedikit alis saya agar terlihat nyambung. Tapi Papa melarangnya. Karena alis itu adalah garis alis turunan (Papa saya juga begitu). Ada teman yang bilang kalau mencukur alis itu dilarang agama, sampai menikah nanti. Usai menikah, sah sah saja untuk mencukur alis, asalkan dengan tujuan menyenangkan hati suami.
Di suatu pagi saya iseng-iseng browsing di internet untuk mencari tahu akan kebenaran dalil tersebut. Kurang lebih ini yang saya dapatkan;
Wanita tidak boleh menghilangkan (mencukur) bulu alis matanya karena perbuatan ini termasuk an-namsh. Arti kata an-namsh adalah mencabut atau mencukur bulu alis, sedangkan kata an-nâmishah adalah perempuan yang mencabut rambut alisnya atau rambut alis orang lain. Dan al-mutanammishah adalah perempuan yang menyuruh orang lain untuk mencabut rambut alisnya.
Salah satu cara berhias yang berlebih-lebihan yang diharamkan oleh Islam, yaitu mencukur bulu alis mata untuk ditinggikan atau disamakan sehingga tampak bagus dan indah. Dalam hal ini Rasulullah pernah melaknatnya, seperti dalam hadis: “Rasulullah saw melaknat perempuan-perempuan yang mencukur alisnya atau minta dicukurkan alisnya.” (Riwayat Abu Daud, dengan sanad yang hasan), sedang dalam hadits Bukhari disebutkan: “Rasulullah saw melaknat perempuan-perempuan yang minta dicukur alisnya”. Lebih diharamkan lagi, jika mencukur alis itu dikerjakan sebagai simbol bagi wanita-wanita tuna susila atau wanita malam.
Ulama’ madzhab Hambali berpendapat, bahwa perempuan diperkenankan atau diperbolehkan mencukur bulu alis, mengukir, memberikan cat merah (make up) dan meruncingkan ujung matanya, apabila dengan seizin suaminya, karena hal tersebut termasuk berhias. Tetapi oleh Imam Nawawi diperketat, bahwa mencukur alis itu sama sekali tidak boleh. Dan dibantahnya dari riwayat Abu Daud, bahwa yang disebut namishah (mencukur alis) sehingga tipis sekali. Dengan demikian tidak termasuk menghias muka dengan menghilangkan bulu-bulunya.
Mencukur bulu alis atau merapikannya dengan mencukur bagian-bagian tertentu untuk memperindah alis mata dan mempercantik wajah seperti yang dilakukan sebagian kaum wanita hukumnya haram. Karena hal itu termasuk mengubah ciptaan Allah Swt dan mengikuti syaitan yang selalu memperdaya manusia supaya mengubah ciptaan Allah. Terdapat dalam firmannya, sebagai berikut :
وَلَآَمُرَنَّهُمْ فَلَيُغَيِّرُنَّ خَلْقَ اللَّهِ وَمَنْ يَتَّخِذِ الشَّيْطَانَ وَلِيًّا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَقَدْ خَسِرَ خُسْرَانًا مُبِينًا (119)
Artinya : Dan akan aku suruh mereka (merobah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka merobahnya”. Barangsiapa yang menjadikan syaitan menjadi pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata.” (QS. An-Nisa’: 119)
Adapun hadits Nabi saw mengenai larangan an- namsh diriwayatkan dalam Kitab Ash-Shahih dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu bahwa ia berkata :
روى الإمام البخاري في (صحيحه) عن عبد اللَّه بن مسعود قال : « لعن اللَّه الواشمات والمستوشمات والمتنمصات والمتفلجات للحسن المغيرات خلق اللَّه ، فقالت أم يعقوب : ما هذا ؟ فقال عبد اللَّه : وما لي لا ألعن من لعن رسول اللَّه وفي كتاب اللَّه ؟ ، قالت : واللَّه لقد قرأت ما بين اللوحين فما وجدته! ، فقال : واللَّه لئن كنت قرأتيه لقد وجدتيه ؛ قال اللَّه تعالى »:{ وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا }
Artinya: “Semoga Allah melaknat wanita-wanita yang mentato dirinya atau meminta ditatokan, yang mencukur bulu alisnya atau meminta dicukurkan, yang mengikir giginya supaya kelihatan indah dan mengubah ciptaan Allah.” Kemudian beliau berkata: “Mengapa aku tidak melaknat orang-orang yang telah dilaknat oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam Kitabullah, yakni firman Allah: “Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.” (QS. 59 : 7)
Hadits ini menegaskan bahwa perempuan-perempuan tersebut dilaknat karena merubah ciptaan Allah dengan alasan keindahan dan kecantikan, yang dimaksudkan bukan masalah mencukur sedikit atau banyak. Jadi seandainya ada seorang wanita mencukur sedikit saja alisnya, maka sama saja dia pasti akan mendapat laknat. Karena dia telah melakukan perbuatan yang diancam laknat oleh Allah Swt.sumber : http://muhsinhar.staff.umy.ac.id/mencukur-bulu-alis/
Sudah, cukup.
Jadi, saya bertekad untuk tidak mencukur bulu alis saya, sampai saya menikah nanti dan mendapat izin suami untuk sedikit menyelaraskan alur alis ini. Kan cantiknya aku ya buat dia seorang nantinya ;)) :*
Oke? Fix!
Tuesday, 8 July 2014
Tiga Ruas Jalan
Aku berdiri tepat di
atas garis marka jalan yang terputus-putus. Aku lupa saat itu pukul berapa. Yang
aku ingat hanyalah tidak ada satupun kendaraan bermotor maupun kendaraan tidak
bermotor berlalu lalang. Tidak ada sama sekali. Tidak ada suara bingar knalpot telo di malam minggu. Aku menutup
mataku. Aku membiarkan telingaku
mendengar dengan seksama.
Suara desah angin
yang lumayan kencang sedang menyusuri jalan Suroyo. Kekuatannya menjatuhkan hampir
seluruh bunga kuning kecil dari pohon besar –yang akupun tak tahu nama pohon
besar itu- yang terjejer di sisi kanan kiri jalan. Seperti di luar negeri saja.
Bunga-bunga kuning kecil berguguran pelan.
Kemudian aku nekat
untuk membuka mataku. Awannya mendung, gelap sekali. Aroma tanah semakin
menusuk hidungku tanda hujan hendak turun. Aku menggerakkan kedua bola mataku
untuk melihat sekeliling. Hanya ada aku yang berdiri di sepanjang jalan Suroyo.
aku masih berdiri tepat di atas marka jalan yang terputus-putus. Kudengar suara
angin sedang berlomba dengan suara gemertak gigiku yang mirip gigi kelinci. Aku
menggigil kedinginan.
Merasa ketakutan, aku
berlari ke arah selatan. Aku berusaha menerobos lapangan komando distrik
militer VI yang arsitektur bangunannya masih londo banget. Seandainya lapangan kodim itu tidak ada, sudah pasti
jalan Suroyo langsung terhubung dengan jalan rumahku, Jalan Cokroaminoto.
Masih dalam derap
langkah lariku, aku berhipotesa sendiri. Pasti dulu jalan Suroyo dan jalan
Cokroaminoto ini menyambung. Buktinya saat aku berhenti berlari di ujung jalan
Cokroaminoto, kulihat pemandangan yang sama di Jalan Suroyo. tidak ada satupun
kendaraan bermotor maupun kendaraan tidak bermotor berlalu lalang. Tidak ada
seorangpun pejalan kaki menyusuri jalan ini. Bunga-bunga kuning kecil pun
berjatuhan berkat sentuhan kasar angin Probolinggo yang seakan-akan marah. Mendungpun
semakin gelap. Gelap sekali. Terlihat kelam dalam gelap malam.
Awannya kian memerah.
Aku melihat ada titik merah di seberang 1 kilometer dari titik retinaku. Aku juga
mendengar, ada suara gemuruh kecil yang kian membesar, makin riuh perlahan. Titik
merah itu terlihat menjelma menjadi bara api. Jantungku berdegup kencang.
Kemudian seorang Pria
berbadan tegap mencempung tubuhku kemudian berlari menjauhi jalan Cokroaminoto.
Kudengar sesak nafasnya yang khas. Punggung hingga kepalaku yang berada di
belakang punggung itu, hanya bisa melihat semua pemandangan yang kulihat seakan
berlari menjauh dariku (sebelum aku
memahaminya sebagai gerak semu).
“Pa, i-tu a-da a-pa?”
tanyaku lugu dengan suara terputus-putus karena pria itu masih tetap berlari
membawaku menjauh dari titik merah itu.
“Sudah! Diam!” beliau
sempat membentakku di sela sesak nafasnya. Aku hanya diam saja sampai ia
berhenti dan menurunkanku di bawah pohon mangga.
Pria itu adalah
ayahku. Tubuhnya segar bugar, kumisnya tergaris indah di bawah lubang
hidungnya. ia terduduk lemas di depanku yang masih berdiri. Kemudian ia menatap
wajah polosku yang seakan menuntut penjelasan tentang mengapa ia membawaku
lari.
“Papa ingatkan
padamu, kalau angin bertiup kencang dan langitnya memerah, kau harus segera
pulang, Nak!” kata Papa sambil berusaha mengatur nafasnya.
“Memangnya ada apa,
Pa?” kataku sambil berjongkok, berusaha menemukan wajah ayahku yang tertunduk
lelah.
“Ada sekelompok orang
yang tengah marah. Mereka ingin berkelahi dengan sekelompok orang yang lain,”
jelasnya yang membuat raut mukaku memucat.
Sesaat setelah itu,
kudengar gemuruh derap langkah kaki yang tengah berlari. Aku berjalan
berjinjit, ingin mengintip ada apa disana. Kulihat sekelompok orang membawa
obor. Mungkin itulah titik merah yang tadi kulihat. Titik merah yang berjarak 1
kilometer dari titik retinaku. Beberapa dari mereka memukul palang listrik
dengan kayu hingga berbunyi tong tong tong!
“Nduk! Sini! Mereka sudah
membunyikan genderang perang! Mereka mau berkelahi!” bisik ayahku keras sekali.
Aku berlari ke arahnya. Ia lalu memelukku dengan erat. Dari bawah pohon mangga,
kulihat dua kubu saling mendekat. Kini dua titik merah yang ternyata kumpulan
obor itu menyatu. Jerit kemarahan makin terdengar jelas.
Aku memejamkan mata
sejenak. Saat kubuka, aku sudah ada di ruas jalan lain. Tapi aku sendiri lagi,
berdiri tepat di atas marka jalan putih yang terputus putus. Aku tahu jalan
ini. Salah satu jalan satu arah di kabupaten Jember, Jalan Kartini. Di sisi
kanan dan kiri jalan itu juga berjejer pohon-pohon besar berbunga kuning kecil,
pohon yang sama dengan pohon di sepanjang tepi jalan Suroyo dan jalan
Cokroaminoto di Probolinggo. Bedanya, saat aku menginjakkan kaki di marka jalan
Kartini, Jember, kala itu tengah malam dan tidak gelap. Di sisi kanan dan kiri
jalan terdapat beberapa obor yang tertancap di atas trotoar. oh, seperti inikah
suasana jaman dulu?
Kususuri jalan
Kartini. Bangunan-bangunan di jalan itu notabene masih berarsitektur Belanda. Aku
juga melihat beberapa wanita Nonik Belanda sedang mengesap teh di halaman
bangunan.
Tiba-tiba kudengar
ada gemuruh di belakangku. Seperti ada hembusan angin keras yang hendak
menabrak tubuhku. Saat aku membalikkan tubuhku untuk mengetahuinya, angin itu
sudah terlebih dahulu menyerangkan dan membutakan pandanganku.
***
Aku membuka mataku. Aku
sudah kebasahan. Air hujan turun dengan deras. Aku sudah berada di ujung jalan
Cokroaminoto lagi. Masih sendiri. Lagi-lagi tidak ada kendaraan bermotor maupun
tak bermmotor berlalu lalang. Ah, aku seperti hidup seorang diri di muka bumi
ini. Tapi aku membiarkan tubuhku mematung di tengah ruas jalan itu. Ya, pasti
mudah dihafal. Aku berdiri tepat di atas marka jalan berwana putih yang
terputus-putus.
Aku melihat ada titik
merah yang berjarak 1 kilometer dari retina mataku. Langitnya gelap. Hujan masih
turun dengan deras. Di saat itulah, aku ingat akan ayahku. Namun sayang, tubuh
itu tidak akan lagi mencempung tubuhku sambil berlari.
Aku menutup kembali
mataku dan hanya menikmati runtuhan bulir hujan yang seakan menusuk kepalaku. Entah
apa yang akan terjadi ketika titik merah itu semakin mendekat kepadaku, aku pasrah
saja.
Probolinggo, 8 Juli 2014, 15.40 WIB
*)kisah ini kuambil dari kisah masa kecilku
bersama Papa kala hujan deras. Kami suka bermain hujan. Papa juga menceritakan
bagaimana di jaman kala ia masih duduk di bangku sekolah dasar, ia kerap
melihat awan berwarna merah. Setelahnya, tak jarang terjadi perkelahian di ruas
jalan Cokroaminoto hingga menelan korban. Terlepas dari benar-tidaknya cerita
Papaku, aku juga pernah bermimpi dengan latar yang sama dengan yang Papaku
ceritakan. Maka ketika hujan deras, aku kerap memandangi ruas jalan
Cokroaminoto yang basah total dengan aroma tanah yang menusuk tajam hidungku. Di
saat itulah, aku ingat akan Almarhum ayahku………
sumber gambar : http://jombangcityguide.blogspot.com/2012/05/jombang-yellow-autumn.html
Thursday, 3 July 2014
Corat-coret si Pemilh Pemula
"Nama saya Dhita Rizky Amelia Arifin. Usia saya 20 tahun. Saya adalah pemilih pemula dalam Pemilu 2014"
Saya menginjak usia 17 tahun itu kurang lebih 3 tahun lalu. Usia 17 tahun adalah batas usia standar Indonesia untuk mulai memiliki KTP, SIM, bahkan sampai ke Pemilu/Pilkada. Pertama kali saya ikut coblosan adalah ketika pilkada walikota Probolinggo dan Pilkada Gubernur Jawa Timur pada tahun 2013 lalu. Coblosan edisi kedua saya adalah pemilu legislatif pada tanggal 9 April lalu.
Jujur saja, saya mulai melek politik ketika saya berusia 19 tahun, yakni tepat tahun lalu. Saya mulai mempertimbangkan Cawali dan Cagub yang akan saya pilih karena potensi, kredibilitas, dan program kerja yang diusung setiap Cawali dan Cagub. Saat itu, suara saya memang PANTANG dibeli. Karena saya ingin menguji diri saya sendiri, apakah ideologi saya sudah pantas disisipkan di dunia politik.
Sebagai pemilih pemula, saya BETUL-BETUL masih BUTA POLITIK. Yang saya tahu sedari dulu, politik itu kejam, tidak adil, mengubah kawan menjadi lawan, bahkan sampai tidak berperikemanusiaan. Hati saya miris melihat berbagai pemberitaan yang bersifat 'menyikut' dan berusaha menjatuhkan lawan. Saya pun sampai tidak habis pikir. Pers yang harusnya memberikan berita yang benar-benar AKTUAL dan bersifat NETRAL, kini sudah mulai menjadi senjata ampuh untuk melancarkan misi tim sukses.
Belakangan ini saya mulai kembali gemar menilik Facebook saya lagi setelah saya biarkan hampir membusuk. Karena saat itu saya sudah terlalu muak dengan ke-4L4Y-an yang makin merajalela di Facebook. Dan karena makin banyaknya berita politik yang di-share di Facebook, saya jadi tertarik lagi untuk sekedar membuka berita tersebut, atau saya share ulang. Namun sayangnya, berita-berita tersebut merupakan berita yang tidak bersifat netral aliyas lebih menjurus mengunggulkan atau malah menjatuhkan salah satu pihak calon.
Yah, ini dunia maya. Internet yang semakin lama semakin mudah untuk diakses membuat banyak peselancarnya menghabiskan waktu untuk surfing tentang berbagai hal. Daripada susah-susah menerbitkan tulisan di koran, kenapa tidak di-publish di dunia maya saja? Terlebih sekarang sudah banyak akun-akun social media yang mempermudah penggunanya untuk menyebarkan sesuatu. Dan hal inilah yang membuat setiap posting menjadi terlihat BENAR! Mulai dari mengunggulkan sampai menjatuhkan. Setiap pemberitaan seolah tidak ada yang salah. Saya yakin, orang yang memposting pun meyakini suatu hal, 'Mayoritas dari pengguna akun media sosial seperti Facebook, Twitter, dan Path adalah para remaja, at least usia mereka masih muda dan tergolong dalam pemilih pemula yang masih buram pandangan terhadap politik. Mereka sangat mudah dipengaruhi!'
'Proudly, I'm standing on the right side!'
'Mari, kita selamatkan Indonesia!'
See? Sudah sedikit paham? Prinsip-prinsip seperti itu lahir karena HASUTAN banyak posting yang merajalela di berbagai media sosial. Saya sampai ingin mati tertawa mendengar kabar sepasang kekasih berantem karena mereka mendukung kubu yang berbeda. Duh, kasihan...
Dalam waktu singkat, penulis-penulis awam pun banyak bermunculan. Mulai dengan kalimat-kalimat 'tinggi' sampai ke kata-kata kampungan, semuanya ada. Mereka berusaha meyakinkan bahwa pilihan mereka adalah pilihan yang terbaik. Contoh kecil; Debat Capres dilaksanakan setiap Minggu malam. Senin dini hari pun sudah banyak berbagai pemberitaan di media mengenai Debat Capres tersebut. Ulasannya mulai dari hal-hal yang sepele sampai hal-hal yang sangat mendetail. Bahkan tak jarang pemberitaan tersebut dilebih-lebihkan. Diberi bumbu-bumbu biar makin sip. Gosip yang biasanya menyerbu selebriti, sekarang malah banyak menyerbu Capres. Mulai dari berita tentang pencitraan lah, berbagai kasus yang pernah melilit Capres lah, koar-koar kinerja Capres lah, dan masih banyak lagi.
Masih ingat dengan postingan saya tentang 'Double Pilkada' dan 'Double Pilkada part 2'?
Ya, artikel busuk ala ababil yang sempat di-share oleh tokoh idola saya, Mbak Soraya Hylmi, bisa dibaca kembali. Bagaimana pemilih pemula agar berpikir objektif sesuai dengan potensi Capres. Mungkin sampai sekarang, kapasitas otak saya masih belum memumpuni untuk diajak ngobrol soal politik. Tapi setidaknya, saya tidak mau buta politik lagi.
Politik ini bukan sekedar politik yang seringkali dipandang sebagai pihak yang najis, kejam, tidak adil, kotor, identik dengan korupsi dan munafik. MENURUT SAYA (yah, anggap dulu saja opini saya ini benar. Kan jaman sekarang tidak ada opini yang salah :p) politik hanyalah 'preparat' untuk menjalankan roda pemerintahan. Ups, harus bisa dibedakan ya. Mana politik dan mana yang 'politik'. DPR dan DPRD adalah contoh dari badan pemerintahan, tapi di dalamnya mau tidak mau memang ada unsur 'politik'. Itu sebabnya saya tekankan, tolong bedakan politik dengan 'politik'
"Nama saya Dhita Rizky Amelia Arifin. Usia saya 20 tahun. Saya adalah pemilih pemula dalam Pemilu 2014"
Saya ingatkan sekali lagi, saya hanya pemilih pemula berusia 20 tahun. Benar atau tidaknya opini saya, semua kembali kepada para pembaca.
KALAU SAJA Bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono MASIH diperbolehkan untuk mencalonkan kembali menjadi Presiden, tanpa ragu saya pilih beliau. Banyak yang protes dan melakukan aksi demonstrasi yang ditujukan kepada Pak Presiden SBY karena kasus-kasus yang menjerat kader-kader partai Demokrat.
Tunggu! Saya sebagai lulusan SMA kelas IPS, saya sempat mempelajari ilmu sosiologi. Setiap manusia itu mempunyai beberapa peran yang harus dijalankan, yang kerap disebut sebagai peran sosial. Contoh kecil; Di Perusahaan Farmasi, Pak Achmad menjabat sebagai Manajer Keuangan. Di Perumahan Griya Asri, Pak Achmad menjabat sebagai Ketua RT. Di rumah, Pak Achmad adalah kepala keluarga. Sama halnya dengan Bapak Presiden SBY. Di Indonesia, Bapak Presiden SBY adalah seorang Presiden yang memimpin bangsa ini. Di Partai Demokrat, Bapak Presiden SBY adalah Ketua Umum Partai. Lah kok Pak Presiden dinilai tidak pantas menjadi Presiden karena banyak kadernya yang terlibat kasus korupsi seperti Nazaruddin, Anas Urbaningrum, dan Andi Malarangeng. Dua hal tersebut adalah hal yang berbeda! Yang korupsi kan kadernya, kenapa harus disangkut-pautkan dengan peran Bapak Presiden SBY sebagai pemimpin negara? Meskipun kata kebanyakan orang, hal ini masih ada relasinya, tapi menurut saya hal ini TIDAK NYAMBUNG!
Rasa dan ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya saya haturkan dengan penuh rasa hormat kepada Bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang sudah berjasa selama 10 tahun untuk memimpin bangsa ini. Meskipun masih banyak hal yang perlu dikoreksi, tapi saya yakin banyak perubahan positif yang terjadi di negeri ini.
Last, ingat ya pemilih pemula, JANGAN GOLPUT! GOLPUT MENUNJUKKAN SIFAT MALAS! TIDAK CERDAS! Perbedaan Golput masa orba dan masa sekarang itu jauh berbeda. Golput masa Orba adalah bentuk ancaman, kecaman, dan protes karena sistem pemerintahan yang kurang bagus. Kalau ingin negaranya jauh lebih maju, kenapa harus GOLPUT?
YUK NYOBLOS! :)
Tuesday, 1 July 2014
Pa, Aku Rindu...
Pa, bagaimana kabarmu?
Bagaimana di alam sana? Adakah Papa sudah sedikit merasakan keadilan Tuhan?
Apakah ruhmu masih melihat ke alam dunia nyata? Apakah Papa masih mengawasiku?
Pa, aku baik-baik saja. Setidaknya tidak terlalu buruk.
Pa, aku kangen.
Mungkin Papa bisa bayangkan. Dulu, seminggu jauh dari Papa saja aku sudah hampir gila menangis karena rindu. Dan ini sudah 3 tahun aku tak melihat tubuh tegapmu lagi.
Jujur, Pa. Sepeninggalmu, hidupku jadi hancur! Aku bahkan hampir tempang arah. Aku banyak melakukan dosa. Aku sampai mati rasa. Aku sampai lupa bagaimana rasanya dibelai lembut oleh kasih sayangmu.
Aku telah terbiasa hidup tanpa Papa. Bullshit!
Sejatinya aku tidak bisa, Pa. Papa meninggalkan aku dalam keadaan yang sama sekali tidak siap untuk ditinggal.
Kenapa Papa membentukku sebagai 'anak Papa'? 'Anak Papa' yang selalu dilindungi, dijaga, dilarang kesana-kemari, dimanja-manja tiada habisnya dan selalu kau bangga-banggakan.
Kenapa hanya Papa yang mampu memahami aku? Kenapa hanya Papa yang mampu memaklumi aku? Kenapa hanya Papa yang mampu menutupi semua aibku. Dan kenapa harus pria yang paling sempurna yang melakukan semua itu? Kenapa harus Papa?
Kau pergi dengan membawa rasa kedekatan yang amat sangat lekat. 3 tahun aku harus hidup ditempa ujian ini itu. Aku harus merasakan begini, aku harus merasakan begitu. Kalau Papa tahu, aku yakin, Papa pasti akan sangat marah. Padaku, pada orang-orang yang menyakitiku, pada mereka yang meremehkanku. Karena Papa sangat melindungiku.
Aku sudah berusia 20 tahun, Pa. Entah ini sudah masuk kategori dewasa atau bagaimana. Pernahkah kau bayangkan untuk menyerahkanku pada seorang lelaki idamanku untuk menghabiskan sisa baki hidupku bersamanya? Pernahkah kau membayangkan nikmatnya menimang cucu? Atau kau hanya membayangkan sampai aku menangis merengek mengesot meronta melihat tubuhmu dipendam dalam tanah?
Di saat aku menikah nanti, bagaimana hatiku bisa bahagia kalau bukan tanganmu yang dijabat tangan suamiku?
Aku sudah pernah meminta, Papa, bertahanlah! Kalau harapan hidup di jiwamu memang sudah benar-benar habis, bertahanlah untukku! Anak gadis kesayanganmu! Tapi kita sama-sama tak mampu. Tuhan jauh lebih tahu. Inilah sebabnya yang membuatku sangat malas memikirkan cinta. Ah, cinta anak muda memang rumit. Tapi toh nanti aku harus memilih, siapa yang akan menjadi penggantimu untuk memimpinku.
Pa, lihatlah kehidupanku yang sekarang. Aku hanya jadi gadis pengeluh! Aku tidak maju! Aku merindukan amarahmu! Amarah yang menuntutku untuk menjadi lebih baik. Amarah yang penuh motivasi. Bukan seperti sekarang. Amarah orang-orang yang penuh dengan kebencian. Pikiranku jadi sempit, Pa!
Aku tidak ingin terlihat munafik, Pa. Aku menyesali kepergianmu. Aku tahu, tidak ada satupun manusia yang akan siap dengan kematian. Tapi kenapa harus secepat itu? Kenapa harus di saat aku sangat butuh bimbinganmu.
Mama menyuruhku punya pacar, Pa. Apa-apaan ini?
Kalau Papa tahu, Papa pasti marah, kan?
PAPAAAAAAAAA!!!!
Jika Tuhan memberikan satu kesempatan, satu kemustahilan yang bisa menjadi kemuskilan, AKU HANYA INGIN KAU KEMBALI.
Pa, hidupku harus terus berlanjut, kan? Sanggup atau tidak sanggup, aku harus tetap hidup.
Masa bermainku sudah selesai. Aku harus benar-benar hidup!
Papa, izinkan aku bilang...
AKU TERLAMPAU MENCINTAIMU. LEBIH DARI SEGALANYA...
Bagaimana di alam sana? Adakah Papa sudah sedikit merasakan keadilan Tuhan?
Apakah ruhmu masih melihat ke alam dunia nyata? Apakah Papa masih mengawasiku?
Pa, aku baik-baik saja. Setidaknya tidak terlalu buruk.
Pa, aku kangen.
Mungkin Papa bisa bayangkan. Dulu, seminggu jauh dari Papa saja aku sudah hampir gila menangis karena rindu. Dan ini sudah 3 tahun aku tak melihat tubuh tegapmu lagi.
Jujur, Pa. Sepeninggalmu, hidupku jadi hancur! Aku bahkan hampir tempang arah. Aku banyak melakukan dosa. Aku sampai mati rasa. Aku sampai lupa bagaimana rasanya dibelai lembut oleh kasih sayangmu.
Aku telah terbiasa hidup tanpa Papa. Bullshit!
Sejatinya aku tidak bisa, Pa. Papa meninggalkan aku dalam keadaan yang sama sekali tidak siap untuk ditinggal.
Kenapa Papa membentukku sebagai 'anak Papa'? 'Anak Papa' yang selalu dilindungi, dijaga, dilarang kesana-kemari, dimanja-manja tiada habisnya dan selalu kau bangga-banggakan.
Kenapa hanya Papa yang mampu memahami aku? Kenapa hanya Papa yang mampu memaklumi aku? Kenapa hanya Papa yang mampu menutupi semua aibku. Dan kenapa harus pria yang paling sempurna yang melakukan semua itu? Kenapa harus Papa?
Kau pergi dengan membawa rasa kedekatan yang amat sangat lekat. 3 tahun aku harus hidup ditempa ujian ini itu. Aku harus merasakan begini, aku harus merasakan begitu. Kalau Papa tahu, aku yakin, Papa pasti akan sangat marah. Padaku, pada orang-orang yang menyakitiku, pada mereka yang meremehkanku. Karena Papa sangat melindungiku.
Aku sudah berusia 20 tahun, Pa. Entah ini sudah masuk kategori dewasa atau bagaimana. Pernahkah kau bayangkan untuk menyerahkanku pada seorang lelaki idamanku untuk menghabiskan sisa baki hidupku bersamanya? Pernahkah kau membayangkan nikmatnya menimang cucu? Atau kau hanya membayangkan sampai aku menangis merengek mengesot meronta melihat tubuhmu dipendam dalam tanah?
Di saat aku menikah nanti, bagaimana hatiku bisa bahagia kalau bukan tanganmu yang dijabat tangan suamiku?
Aku sudah pernah meminta, Papa, bertahanlah! Kalau harapan hidup di jiwamu memang sudah benar-benar habis, bertahanlah untukku! Anak gadis kesayanganmu! Tapi kita sama-sama tak mampu. Tuhan jauh lebih tahu. Inilah sebabnya yang membuatku sangat malas memikirkan cinta. Ah, cinta anak muda memang rumit. Tapi toh nanti aku harus memilih, siapa yang akan menjadi penggantimu untuk memimpinku.
Pa, lihatlah kehidupanku yang sekarang. Aku hanya jadi gadis pengeluh! Aku tidak maju! Aku merindukan amarahmu! Amarah yang menuntutku untuk menjadi lebih baik. Amarah yang penuh motivasi. Bukan seperti sekarang. Amarah orang-orang yang penuh dengan kebencian. Pikiranku jadi sempit, Pa!
Aku tidak ingin terlihat munafik, Pa. Aku menyesali kepergianmu. Aku tahu, tidak ada satupun manusia yang akan siap dengan kematian. Tapi kenapa harus secepat itu? Kenapa harus di saat aku sangat butuh bimbinganmu.
Mama menyuruhku punya pacar, Pa. Apa-apaan ini?
Kalau Papa tahu, Papa pasti marah, kan?
PAPAAAAAAAAA!!!!
Jika Tuhan memberikan satu kesempatan, satu kemustahilan yang bisa menjadi kemuskilan, AKU HANYA INGIN KAU KEMBALI.
Pa, hidupku harus terus berlanjut, kan? Sanggup atau tidak sanggup, aku harus tetap hidup.
Masa bermainku sudah selesai. Aku harus benar-benar hidup!
Papa, izinkan aku bilang...
AKU TERLAMPAU MENCINTAIMU. LEBIH DARI SEGALANYA...
Friday, 27 June 2014
Klik Saja!
"I'm deleting you right from my heart
Yeah it's over, my last move is to unfriend you"-Unfriend You by Greyson Chance-
-------------
Yang hobi nongol di Twitter, mana suaranyaaaaaa????
*KYYAAAAAAAAAA!!!!!*
Nah yang hobi update twit, atau sekedar stalking someone on twitter, yang lagi patah hati terus di-twit..
Siapa yang nggak kenal @dwitasaridwita? Atau @adelladellaide? Atau..... (siapa lagi ya?) ?
Dwitasari, terlepas dari karya-karyanya yang sangat melekat di hati teen readers, dan si Adellina, yah, siapapun gerangan, mereka berdua adalah 2 master penge-twit tweets fontal ala anak muda. Mungkin bisa dilihat perbedaannya sih. Kalo si Dwitasari lebih frontal masalah percintaan. Sedangkan Adellina frontal dalam berbagai hal. Mulai dari hal-hal sederhana seperti 'Nggak usah mandi kalo cuma ke TPS' sampai 'Berbahagia dan bersyukurlah kalian yang pacarnya telaten, mau ngurusin pas kalian sakit,'. Mereka punya banyak sekali followers, tak jarang pula, bahkan sering sekali twit mereka di-retweet oleh banyak orang yang sependapat atau konten tweet mereka sedang dirasakan orang lain. Saya nggak bisa banyangin, betapa seringnya notif mention yang mereka terima. Pasti posel mereka paling sering bunyi karena retweet.
Daaaaan..... Kesimpulannya adalah.....
'Saya tidak mem-follow keduanya' -_____- *FYI aja sih*
Oh, enggaaaaak, saya nggak sedang menyindir siapapun kok. Suer ketewer-tewer!
Galau.
Ketika seseorang galau, tak jarang seseorang tersebut menumpahkan emosinya di twitter. Nge-boom lagi. Bisa bayangin kan, ketika kita buka twitter, terus sepanjang timeline twitter isinya bacotan satu orang doang. Keki nggak bacanya?
-Iya! Keki pake bingiiiittzzz!
-Bener, tuh! Ngotorin TL ajah!
-Harusnya kalo dia punya masalah, ngadunya itu ke Allah, bukan ke twitter. Ngetwit isinya ngeluh2 gitu ngga akan menyelesaikan masalah. *oke, yang ini versi alimnya*
Kok kalian keki sih? Kok sebel sih? Kok dibilang ngotorin TL sih? Kok dibilang nggak bisa menyelesaikan masalah sih? (yang ini sih emang ada benernya juga, tapi dikiiiittt)
So, let me explain...
Ketika kalian mem-follow seseorang, itu artinya kalian 'deal' untuk menerima semua informasi dari seseorang yg kalian follow tersebut di Timeline kalian. Ngga cuma di twitter kok, maybe di semua media sosial kali ya. Kalian mem-follow itu kan keputusan kalian sendiri. Entah itu karena kalian kenal, suka, ngefans, dan sebagainya. Terus ketika mereka frontal di TL sampe nge-boom gitu, kok kalian malah sewot?
Gini ya, anggep aja TL itu kayak lapangan sepak bola. Misalkan di lapangan tersebut ada 1 orang, yakni masing-masing dari kalian. Kemudian penonton yg lain itu masih invisible di mata kalian. Kemudian kalian follow si ini si itu sehingga mereka tampak di mata kalian. Mereka ada buat ngomong, teriak, cerita, jerit-jerit dan sebagainya. Mau nggak mau kalian dengar suara mereka. Entah itu perkataan bagus seperti 'Alhamdulillah, sesuatu, ya!' sampai 'Bangsat lo!' *kata 'bangsat' itu nggak perlu disensor meskipun terdengar kasar. FYI, 'Bangsat' itu nama serangga*
Kalo kalian nggak suka mereka pada frontal, ya udah, kalian kunjungi Profile page-nya, kemudian klik Unfollow/unfriend/un- apa aja deh. Dengan begitu, dia akan raib dari TL kalian. Meskipun dia di-unfollow oleh kalian, dia tetep bisa ngetwit kan? Kalian juga bisa berkomunikasi kan meskipun nggak saling follow. Saya pun baru menyadari akan hal satu ini usai saya meng-unfollow seseorang, sebut saja Mawar, yang kerap kali frontal di TL. Udah gitu, kalo saya mention selalu saja di-retweet dulu baru di-reply. Meskipun udah saya unfollow, tetep aja yg muncul di interaction selalu begitu.
Maaf ya, Mawar. Nanti tak follow lagi kok, tenang aja. hehehe
Udah, damai aja lah kalo di TL. Nggak usah main sindir-sindir segala.
Kasarnya tuh seperti ini;
-Kalo lo nggak suka sama twit gue, unfollow aja! Gue nggak rugi juga, kok!'
Halusnya tuh seperti ini;
-If you don't like my tweets, don't talk any bad words on timeline. Just visit my profile page, then click the 'unfollow' button. Thank you :)
Kemudian untuk usulan yang alim tadi, ehehehehe
Mereka ngetwit itu bukan untuk mencari solusi sih, sebenarnya. Mereka hanya mengekspresikan, meluahkan perasaan. Seperti yang saya lakukan selama ini; I'm tweeting just to express, not to impress. Akibatnya apa? Mereka jadi lega. Terlebih bonusnya kalo ada yang merespon, memperhatikan, menasihati, memberikan solusi. Yang perlu dicatat adalah Tuhan itu adil. Dia mengirimkan solusi permasalahan lewat orang lain. As simple as that!
TWITTER = Typing What I'm Thinking To Everyone Reading.
Saya rasa sih nggak cuma Twitter aja yg punya arti seperti itu. Semua media sosial yang nggak punya kepanjangan yg mendeskripsikan hal yang sama dengan di atas pun juga memiliki fungsi yang sama.
Jadi, sekarang sepakat ya. Suka? Follow! Nggak suka? Unfollow!
Adil saja lah seperti ilmu Logika Matematika. Jika P maka Q. Jika ~P maka ~Q
:)
Subscribe to:
Posts (Atom)






