Tuesday, 1 July 2014

Pa, Aku Rindu...

Pa, bagaimana kabarmu?
Bagaimana di alam sana? Adakah Papa sudah sedikit merasakan keadilan Tuhan?
Apakah ruhmu masih melihat ke alam dunia nyata? Apakah Papa masih mengawasiku?
Pa, aku baik-baik saja. Setidaknya tidak terlalu buruk.

Pa, aku kangen.
Mungkin Papa bisa bayangkan. Dulu, seminggu jauh dari Papa saja aku sudah hampir gila menangis karena rindu. Dan ini sudah 3 tahun aku tak melihat tubuh tegapmu lagi.

Jujur, Pa. Sepeninggalmu, hidupku jadi hancur! Aku bahkan hampir tempang arah. Aku banyak melakukan dosa. Aku sampai mati rasa. Aku sampai lupa bagaimana rasanya dibelai lembut oleh kasih sayangmu.

Aku telah terbiasa hidup tanpa Papa. Bullshit! 
Sejatinya aku tidak bisa, Pa. Papa meninggalkan aku dalam keadaan yang sama sekali tidak siap untuk ditinggal.
Kenapa Papa membentukku sebagai 'anak Papa'? 'Anak Papa' yang selalu dilindungi, dijaga, dilarang kesana-kemari, dimanja-manja tiada habisnya dan selalu kau bangga-banggakan.
Kenapa hanya Papa yang mampu memahami aku? Kenapa hanya Papa yang mampu memaklumi aku? Kenapa hanya Papa yang mampu menutupi semua aibku. Dan kenapa harus pria yang paling sempurna yang melakukan semua itu? Kenapa harus Papa?

Kau pergi dengan membawa rasa kedekatan yang amat sangat lekat. 3 tahun aku harus hidup ditempa ujian ini itu. Aku harus merasakan begini, aku harus merasakan begitu. Kalau Papa tahu, aku yakin, Papa pasti akan sangat marah. Padaku, pada orang-orang yang menyakitiku, pada mereka yang meremehkanku. Karena Papa sangat melindungiku.

Aku sudah berusia 20 tahun, Pa. Entah ini sudah masuk kategori dewasa atau bagaimana. Pernahkah kau bayangkan untuk menyerahkanku pada seorang lelaki idamanku untuk menghabiskan sisa baki hidupku bersamanya? Pernahkah kau membayangkan nikmatnya menimang cucu? Atau kau hanya membayangkan sampai aku menangis merengek mengesot meronta melihat tubuhmu dipendam dalam tanah?

Di saat aku menikah nanti, bagaimana hatiku bisa bahagia kalau bukan tanganmu yang dijabat tangan suamiku?
Aku sudah pernah meminta, Papa, bertahanlah! Kalau harapan hidup di jiwamu memang sudah benar-benar habis, bertahanlah untukku! Anak gadis kesayanganmu! Tapi kita sama-sama tak mampu. Tuhan jauh lebih tahu. Inilah sebabnya yang membuatku sangat malas memikirkan cinta. Ah, cinta anak muda memang rumit. Tapi toh nanti aku harus memilih, siapa yang akan menjadi penggantimu untuk memimpinku.

Pa, lihatlah kehidupanku yang sekarang. Aku hanya jadi gadis pengeluh! Aku tidak maju! Aku merindukan amarahmu! Amarah yang menuntutku untuk menjadi lebih baik. Amarah yang penuh motivasi. Bukan seperti sekarang. Amarah orang-orang yang penuh dengan kebencian. Pikiranku jadi sempit, Pa!

Aku tidak ingin terlihat munafik, Pa. Aku menyesali kepergianmu. Aku tahu, tidak ada satupun manusia yang akan siap dengan kematian. Tapi kenapa harus secepat itu? Kenapa harus di saat aku sangat butuh bimbinganmu.

Mama menyuruhku punya pacar, Pa. Apa-apaan ini?
Kalau Papa tahu, Papa pasti marah, kan?

PAPAAAAAAAAA!!!!
Jika Tuhan memberikan satu kesempatan, satu kemustahilan yang bisa menjadi kemuskilan, AKU HANYA INGIN KAU KEMBALI.

Pa, hidupku harus terus berlanjut, kan? Sanggup atau tidak sanggup, aku harus tetap hidup.
Masa bermainku sudah selesai. Aku harus benar-benar hidup!

Papa, izinkan aku bilang...
AKU TERLAMPAU MENCINTAIMU. LEBIH DARI SEGALANYA...


1 comment:

  1. Pokies - Casino in India
    It's a classic casino game that has a wide variety of bonuses 넷마블 토토 사이트 and mgm바카라작업 games that players can 맥스 벳 enjoy. This game has a 실시간 스포츠 스코어 large collection of games, 가상화폐 종류 a variety of

    ReplyDelete